Salin Artikel

Sosok Patricia Mokay, Dirikan Papua Foundation dan Dampingi Anak-anak Panti Asuhan di Papua

Salah satu yang terinspirasi dengan semangat Kartini adalah Patricia Christilotha Mokay.

Patricia adalah perempuan yang mengisi masa mudanya untuk bergerak di bidang sosial demi melayani anak-anak Papua yang ada di panti asuhan.

Sejak 2019, Patricia bersama beberapa teman-temannya mendirikan Yayasan Papua Foundation yang bergerak memberikan pelayanan sosial kepada anak-anak Papua di panti asuhan.

“Kita masih baru, sehingga kita menghabiskan waktu selama tiga tahun ini untuk memberikan pendampingan dan lebih banyak berinteraksi bersama anak-anak di panti asuhan,” katanya kepada Kompas.com, Kamis (21/04/2022).

Alumnus Magsister Fakultas Fisospol Universitas Gajah Mada (UGM) Tahun 2019 ini mengatakan, selama beberapa tahun ini, pihaknya memberikan perhatian kepada Panti Asuhan Siloam yang berada di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua.

“Kita memberikan fokus untuk memberikan perhatian kepada anak-anak di panti asuhan ini. Kita tidak sekali datang, tetapi kita selalu sering datang untuk menjenguk dan melihat mereka secara langsung,” ungkap Patricia.

Berbagi 

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Cenderawasih tahun 2012 ini mengatakan, semenjak Yayasan Papua Foundation ini berdiri, ia bersama rekan-rekannya melakukan kunjungan kepada anak-anak di Panti Asuhan Syalom di negeri tapal batas, Kabupaten Keerom.

Tidak sekali jalan, tetapi kegiatan pendampingan kepada anak-anak di panti asuhan dilakukan secara bertahap dan beberapa kali.

Hal ini merupakan bentuk komitmen yang dilakukan oleh Patricia bersama rekan-rekannya demi generasi penerus di Papua.


Bagi anak pertama dari tiga bersaudara ini, hal yang paling penting adalah berbagi kepada sesama, terutama anak-anak di panti asuhan.

“Kita biasa berbagi dengan adik-adik Papua di panti asuhan pada saat merayakan Natal bersama-sama dan ulang tahun Yayasan kita rayakan bersama-sama dengan adik-adik,” ungkap wanita yang pernah mengikuti Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYP) pada 2019 ini.

Patricia mengatakan, sebelum mengunjungi anak-anak Papua di panti asuhan dan berbagi dengan mereka, Patricia bersama rekan-rekannya membawa barang-barang, berupa pakaian layak pakai, bahan makanan, dan lainnya.

Menariknya, barang-barang yang dikumpulkan ini merupakan gerakan bersama yang dilakukan oleh Patricia bersama dengan rekan-rekannya.

“Sebelum kita lakukan kunjungan ke adik-adik di panti asuhan. Kita akan kumpulkan barang-barang yang kita bawah ke mereka. Ketika semua sudah terkumpul, maka kita akan bawa dan berbagi dengan adik-adik di panti asuhan. Ini merupakan gerakan sosial yang kita lakukan bersama-sama di dalam Papua Foundation,” ungkap pemudi yang pernah mewakili Provinsi Papua dalam Jambore Pemuda Indonesia di Kalimantan, Yogjakarta, dan Kalimantan Timur pada 2014 ini.

Awal tergerak

Pada 2019, Patricia mengumpulkan beberapa rekan-rekannya dan mulai membicarakan mengenai gerakan-gerakan sosial yang dilakukan untuk memberikan kontribusi nyata bagi sesama.

Alhasil dari pertemuan yang dilakukan bersama beberapa rekan-rekan, Patricia berhasil mendirikan sebuah Yayasan yang diberikan nama Papua Foundation.

Kehadiran yayasan ini ikut membantunya dalam memberikan bantuan kepada orang lainnya.

“Awalnya bersama beberapa teman-teman dan sharing bersama, sehingga berkomitmen untuk membangun Yayasan dan bergerak di bidang sosial, sehingga lahirlah Papua Foundation,” ucap Patricia.

Kata Patricia, gerakan sosial yang dilakukan ini tidak terlepas dari kehidupannya selama ini di Papua. Apalagi ia merupakan wanita Papua yang sebenarnya sudah mengetahui dengan pasti kehidupan masyarakat di Papua.

Tak hanya itu, Patricia sendiri merupakan anak asli Sentani, Kabupaten Jayapura. Selama ini, dia sudah hidup dan dibesarkan di Papua.

“Kita sudah berdiri di kaki kita sendiri, sehingga bagaimana kita bisa membantu orang lain, sehingga kita punya adik-adik, mereka bisa menempuh sekolah dan bisa sekolah 9 tahun wajib pendidikan,” ujarnya.


Satu-satunya perempuan

Dalam Yayasan Papua Foundation, mulanya Patricia merupakan satu-satunya perempuan.

Patricia merupakan pimpinan yang selalu memberikan motivasi dan menjadi contoh bagi rekan-rekan prianya, sehingga ikut aktif terlibat dalam gerakan yang dilakukan tersebut.

Patricia merasa senang bisa terlibat dan mengambil bagian serta mengguluti dunia ini.

Baginya hal ini merupakan pekerjaan yang membawa misi kemanusiaan.

“Saya merasa senang, karena kita bisa bagikan yang kita punya sebagai seorang manusia kepada manusia lainnya. Terutama kepada adik-adik kita yang saat ini merupakan masa depan di tanah Papua,” ucapnya.

Gerakan yang dilakukan ini nampaknya memberikan inspirasi bagi wanita Papua lainnya, terutama teman-teman perempuan dari Patricia yang tergerak hati dengan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Patricia selama ini.

“Ada beberapa teman-teman wanita yang ingin bergabung dan tergerak hati mau terlibat untuk berbagi dalam pekerjaan kemanusiaan ini,” katanya.

Pesan di Hari Kartini

Pemudi kelahiran Jayapura, 24 Oktober 1994 ini berpesan bahwa perempuan Papua merupakan sosok yang dapat melahirkan generasi masa depan. Apalagi perempuan merupakan ibu bagi anak-anak.

Oleh karena itu, menurut Patricia, perempuan-perempuan Papua harus memulai dengan melakukan gerakan-gerakan perubahan yang dimulai dari komunitas dan lingkungannya masing-masing.

“Sebagai perempuan kita yang harus memulai. Karena kitong (kita) ini adalah perempuan Papua yang melahirkan generasi. Karena kalau bukan kita siapa lagi,” kata Patricia.

Patricia mengakui, saat ini banyak perempuan Papua yang mulai bergerak di dunia literasi dan dunia bisnis seperti usaha mikro.

Hal ini menunjukkan adanya kesadaran dari para perempuan Papua untuk membangun kemandiriannya.

“Kalau saya lihat ada kebangkitan dari perempuan Papua untuk terlibat dalam dunia literasi dan dunia usaha. Kita bisa lihat saat ini banyak perempuan Papua menjadi penggerak di dunia literasi dan dunia usaha,” ungkapnya.

Ia berharap, momentum Hari Kartini ini membangkitkan semangat perempuan-perempuan Papua untuk tampil dan mampu menjadi inspirasi bagi semua orang, khususnya bagi para perempuan di tanah Papua.

“Kami harapkan ke depan banyak lagi perempuan-perempuan yang lahir dengan karya-karya sederhananya yang menginspirasi banyak orang, terutama anak-anak Papua ke depannya,” harap Patricia.

https://regional.kompas.com/read/2022/04/21/133605178/sosok-patricia-mokay-dirikan-papua-foundation-dan-dampingi-anak-anak-panti

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke