Salin Artikel

Cerita Pengemudi Perahu Ketek, Berputar-putar di Sungai Musi karena Tertutup Asap

PALEMBANG, KOMPAS.com- Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Sumatera Selatan sangat dikeluhkan oleh warga.

Selain jarak pandang yang berkurang, kualitas udara pun semakin menurun tiap harinya karena asap yang kian pekat.

Marzuki (39) salah satu pengemudi perahu ketek di kawasan Sungai Musi Palembang sangat merasakan dampak dari kabut asap tersebut.

Pada pagi hari, Jembatan Ampera, Musi IV dan Musi VI tak lagi dapat terlihat karena tertutup kabut asap tebal. Bahkan, jarak pandang hanya ratusan meter.

Meski demikian, Marzuki masih tetap harus menjalankan perahu keteknya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

"Kadang pagi harus mengantar penumpang menyebrang dari hilir ke hulu. Kalau pagi memang sangat pekat asapnya, jembatan Ampera, sama PT Pusri saja tidak terlihat dari sini, pagi harus hati-hati kalau nyebrang," kata Marzuki,mengawali perbincangan kepada KOMPAS.com, Sabtu (21/9/2019).

Bencana kabut asap yang melanda Palembang hampir tiap tahun dirasakan warga. Namun, kejadian terparah menurut Marzuki adalah pada 2015 lalu.

Di mana, ia mendapatkan kenangan unik akibat berputar-putar di Sungai Musi dan tak sampai ke lokasi tujuan.

"Waktu itu saya mau antar penumpang dari hulu mau ke hilir. Tapi nggak sampai-sampai. Malahan ketek saya kembali lagi ke hulu. Dicoba lagi menyeberang, tapi masih tetap ke hulu. Jarak pandangannya sangat pendek waktu itu, cuma 3 meter, jadi beneran tidak kelihatan,"ujarnya.

Beda halnya dengan Hariul (40), pada tahun tersebut, ia tetap memaksakan untuk mengantar para penumpang ke sebrang hilir dengan menggunakan perahu ketek.

Namun, perahu yang ia kemudikan malah menabrak dermaga Bekang DAM II Sriwijaya.

 "Ada TNI yang teriak, Pak, nabrak-nabrak. Baru sadar kalau perahu nabrak dermaga, itu benaran tidak terlihat. Tapi untuk semuanya aman,"ujar Hairul.

Hairul sempat heran, pada 2018 lalu, bencana asap dapat ditanggulangi oleh pemerintah secara sukses.

Pada tahun itu Palembang adalah salah satu kota yang menjadi tuan rumah perhelatan pesta olahraga Asian Games.

"Kemarin bisa dicegah, kenapa tahun ini tidak? semestinya bisalah. Jangan hanya nunggu ada acara besar saja. Kami yang merasakan dampak asap ini jelas sangat terganggu,"ucapnya.

 

Pendapatan menurun akibat asap

Tak hanya jarak pandang di perairan Sungai Musi yang menurun. Dampak dari kabut asap itu juga membuat para pengemudi perahu ketek kehilangan penghasilan.

Biasanya, mereka bisa membawa puluhan penumpang untuk menuju ke tempat wisata Pulau Kemaro. 

Namun, karena asap sangat tebal, para wisatawan enggan menuju ke sana karena takut akibat jarak pandang yang pendek.

"Kalau kami sih sebagai pengemudi ketek sudah tahu alur mau ke sana bagaimana. Ya cuma itu tadi, penumpang banyak takut jadi nggak kesana. Kita juga tidak bisa memaksakan,"ujar Marzuki.

"Kalau penghasilan, jelas sangat turun drastis. hari ini saja baru dapat Rp 20 ribu, padahal sudah keluar dari pagi. Kalau tidak ada kabut asap biasanya sudah dapat Rp 100 ribu per hari,"tambah Marzuki.

https://regional.kompas.com/read/2019/09/23/07594121/cerita-pengemudi-perahu-ketek-berputar-putar-di-sungai-musi-karena-tertutup

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke