Gara-gara Isu Alat Tes Kehamilan, Kepala Sekolah Dianiaya Orangtua Siswa - Kompas.com

Gara-gara Isu Alat Tes Kehamilan, Kepala Sekolah Dianiaya Orangtua Siswa

Kompas.com - 15/02/2018, 20:14 WIB
Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Lolak, Astri Tampi (duduk di kursi roda), korban penganiayaan wali murid.Tribun Manado/Arthur Rompis Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Lolak, Astri Tampi (duduk di kursi roda), korban penganiayaan wali murid.

MANADO, KOMPAS.com - Seorang Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 di Labuan Uki Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dianiaya oleh orangtua siswa berinisial DP (41).

Akibat penganiayaan itu, Astri Tampi (57), sang kepala sekolah, mengalami luka di tangan, hidung patah, lebam di kepala terkena kaca, sakit di punggung, dan darahnya membasahi bagian depan seragam dinasnya.

Penganiayaan itu berawal dari isu alat tes kehamilan yang beredar di kalangan siswa. Astri lalu mencoba menelusuri isu tersebut.

Pada Selasa (13/2/2018), sejumlah siswa pun dipanggil, termasuk P, anak dari pelaku yang menganiaya Astri.

"Saya cari tahu siapa yang menyebarkan isu alat tes kehamilan beredar di sekolah. Semua datang kecuali Putri, kemudian dia saya tanyakan kenapa tidak datang, dia katakan sudah lapor ayahnya, saya lantas panggil ayahnya untuk cek kebenarannya," kata Astri saat ditemui di RSUP Prof Dr RD Kandou, Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (14/2/2018).

(Baca juga: Lihat Ada Wanita Lain, Istri Tabrakkan Toyota Fortuner ke Mobil Suami)

Pelaku, menurut saksi mata, datang ke sekolah tanpa emosi. Bahkan cenderung ramah.

"Tersangka datang di sekolah terlihat biasa dan ramah karena memberikan salam kepada guru-guru di sekolah," ucap Nursiah Saka, satu di antara guru.

Setelah itu, tersangka masuk ke ruangan kepsek untuk menandatangani surat pernyataan sebagai orangtua karena anaknya terduga mengunggah foto alat tes kehamilan yang seharusnya tidak menjadi perbincangan di usia mereka.

Saat itu, di ruangan kepala sekolah, Selasa (13/2/2018) pukul 09.30 Wita, hanya ada mereka berdua, sementara anak tersangka dan beberapa guru sedang berada di ruang guru. Mereka duduk berhadapan.

"Saya katakan padanya, siswa lain yang sudah memenuhi panggilan telah membuat surat pernyataan, sedangkan Putri belum membuat surat karena tidak memenuhi panggilan," kata Astri di rumah sakit.

(Baca juga: Cerita Istri tentang Saat-saat Terakhir Guru di Sampang yang Dianiaya Siswanya)

Sang ayah pun emosi karena berasumsi sang anak juga akan disuruh membuat surat pernyataan. Dia lalu mengancam dan menendang meja kaca di depannya.

"Meja itu kemudian dipukulkan pada saya. Saya jatuh. Dia kemudian kembali memukuli saya dengan kaki meja. Saya kira saya akan mati karena dia membabi buta menghantam saya. Mungkin kalau tidak dilerai guru lainnya saya sudah mati," kata Astri.

Dari lanjutan cerita Nursiah, selang beberapa saat, sekitar pukul 10.00 Wita pada jam istirahat, terdengarlah suara pertengkaran dan pecah kaca di ruangan kepsek.

Saat itu juga, anak tersangka, P, yang duduk di bangku kelas II SMP berusaha melerai ayahnya dan memeluknya untuk tidak melakukan pemukulan terhadap kepala sekolah.

"Saat kami masuk ruangan, kepsek sudah terluka dan berdarah sehingga saya tidak bisa menggambarkan kejadian saat itu," ungkap Nursiah Saka.

(Baca juga: Jenazah Guru Korban Penganiayaan Siswa di Sampang Diantar Ribuan Orang ke TPU)

Setelah berhasil dilerai, pelaku langsung pergi dan kepala sekolah hanya terduduk.

Kaca meja berhamburan di lantai, taplak serta penghias meja juga berjatuhan.

Berita ini telah tayang di Tribunnews.com, Kamis (15/2/2018), dengan judul: Residivis Pembunuhan Tak Terima Anaknya Dapat Teguran, Ini Yang Dilakukan Pada kepala Sekolah

 

 

Kompas TV Penganiayaan ini dilakukan bukan oleh murid, tetapi oleh orangtua siswa.


Komentar

Close Ads X