Istri Sembuh dari Tumor, Nur Jalan Kaki 213 Km dari Surabaya ke Ponorogo - Kompas.com

Istri Sembuh dari Tumor, Nur Jalan Kaki 213 Km dari Surabaya ke Ponorogo

Kontributor Madiun, Muhlis Al Alawi
Kompas.com - 13/10/2017, 18:16 WIB
Nur Hasyim (40), warga RT 001/RW 010, Dusun Tulung, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur bersama istrinya Sumiatin. Hasyim nekat berjalan kaki 213 KM dari Surabaya hingga kampung halamannya setelah dokter menyatakan istrinya sembuh dari tumor otak. KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi Nur Hasyim (40), warga RT 001/RW 010, Dusun Tulung, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur bersama istrinya Sumiatin. Hasyim nekat berjalan kaki 213 KM dari Surabaya hingga kampung halamannya setelah dokter menyatakan istrinya sembuh dari tumor otak.

PONOROGO, KOMPAS.com - Wajah Nur Hasyim (40), warga RT 001/RW 010, Dusun Tulung, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur nampak lelah. Betapa tidak, selama enam hari pria dua anak ini berjalan kaki sejauh 213 km dari Surabaya menuju kampung halamannya.

Hal itu dilakukan Hasyim  untuk memenuhi nazarnya setelah Sumiatin (38), istrinya sembuh dari penyakit tumor otak. Nazar itu diungkapkan Hasyim, saat istrinya terbaring lemah tak berdaya terserang tumor otak di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya pertengahan September 2017.

"Tanggal 14 September 2017 saya bernazar kalau istri saya sembuh dari penyakit tumor saya akan berjalann kaki dari Surabaya hingga kampung halaman saya," ujar Hasyim, Kamis (12/10/2017).

Baca juga: Demi Sekolah, Anak-anak di Perbatasan Ini Harus Jalan Kaki Belasan Km

Niatnya bernazar setelah istrinya dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjalani perawatan karena menderita penyakit tumor otak dua bulan lalu. Untuk perawatan, selain meminum obat, istrinya juga menjalani serangkaian kemoterapi dan radioterapi.

Doa dan keinginan Hasyim agar istrinya sembuh dari tumor otak rupanya didengar Tuhan. Tak lama setelah Hasyim mengucapkan nazar, dokter menyatakan sesuai hasil pemeriksaan, istrinya sudah sembuh dan boleh dibawa pulang.

"Mendengar informasi itu saya langsung bersujud syukur. Dan tepatnya, Rabu (4/10/2017) saya memutuskan untuk melaksanakan nazar dengan berjalan kaki dari Surabaya ke Ponorogo," ungkap Hasyim.

Untuk mengarungi jalan kaki sepanjang dua ratusan kilometer, Hasyim berbekal baju empat potong, sarung, selimut, dan peralatan mandi. Dan saat ia berangkat jalan kaki, istrinya sudah dibawa pulang ke kampung halamanya. "Saya juga pamit kepada istri dan keluarga sebelum menjalankan nazar ini,” ungkap Hasyim.

Baca juga: Istri Jadi PNS, Seno Penuhi Nazar dengan Berjalan Kaki 270 Km

Untuk menyusuri jalan Surabaya-Sampung, Hasyim yang berprofesi sebagai kuli bangunan ini hanya bermodal sandal jepit. Tidak ada sepatu yang digunakan Hasyim selama perjalanan.

Kendati demikian, Hasyim tak lupa menjalankan ibadah salat lima waktu. Saat suara azan terdengar, Hasyim langsung menuju masjid terdekat untuk menjalankan salat berjamaah.

"Kalau untuk tidur, saya numpang tidur di masjid, pos kamling hingga kantor koramil. Selama perjalanan saya berhenti menginap di Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, Caruban dan Dolopo. Dan ketika pukul 03.00 dinihari saya langsung bangun mandi lalu melanjutkan perjalanan," tandas Hasyim.

Dalam perjalanan, Hasyim banyak bertemu orang yang bersimpatik kepadanya. Kebanyakan warga memberikan bantuan makanan hingga uang. Bahkan ada orang yang pulang dari ibadah haji memberikan sejumlah oleh-oleh dari Tanah Suci dan uang senilai Rp 100.000.

Baca juga: Kisah Fredy Candra, Murid Gila yang Terbangkan 65 Gurunya Jalan-jalan ke Luar Negeri

Setibanya di kampung halaman, Hasyim mengaku kaget. Tak disangka, banyak keluarga dan warga berkumpul menyambut kedatangannya dengan isak tangis.

Tak hanya itu, saat perjalanan menuju kampung halamannya, ada sejumlah orang meminta foto bersamanya hingga memeluk dengan mengucurkan air mata. Dan begitu tiba di rumah, puluhan orang sudah berjubel di rumah dan menyambutnya dengan tangis dan pelukan.

"Saya sampai terharu. Tak disangka banyak yang sambut kedatangan saya karena mereka tahu dari internet. Ternyata ada orang yang memposting di internet tentang perjalanan saya," kata Hasyim.

Usai melaksanakan nazarnya, Hasyim mengaku lega. Ia berharap istrinya betul-betul sembuh dan tidak kambuh lagi.

Kendati demikian, Hasyim harus kembali bekerja lagi. Pasalnya selama merawat istrinya beberapa bulan di Surabaya dia berutang kepada kerabat dan teman-temannya hingga Rp 28 juta. Untuk itu, dia berharap kondisi tubuhnya semakin sehat dan bisa segera bekerja untuk membayar utang-utangnya.

Sementara Sumiatin (38) mengaku bersyukur karena suaminya sudah memenuhi nazarnya dengan berjalan kaki dari Surabaya ke Sampung, Ponorogo. Nazar itu dilakukan suaminya sebagai bentuk syukur atas kesembuhan penyakit tumor otaknya yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun.

"Saya sangat senang dan lega karena suami saya sudah menjalankan nazarnya," kata Sumiatin, saat ditemui di rumahnya di Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Ponorogo, Kamis (12/10/2017).

Tak hanya sekedar menjalankan nazar, lanjut Sumiatin, selama menjalani perawatan di RSUD dr Sutomo Surabaya, suaminya selalu menemaninya. Bahkan, suamminya sampai satu tahun tidak bekerja karena ingin mendampinginya di rumah sakit.

Sebelum jatuh sakit, Sumiatin bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Hongkong. Namun sekitar tahun 2014, tiba-tiba jatuh sakit dan sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Hongkong.

"Seluruh biaya saat itu ditanggung majikan saya. Karena tidak kunjung sembuh, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman," ucap Sumiatin.

Selama tinggal di rumah, Sumiatin sempat dirawat di RSUD dr Harjono Ponorogo dan dirujuk ke RSUP dr Sudono Madiun. Lantaran tak kunjung sembuh, dia akhirnya dirujuk di RSU dr Soetomo Surabaya.

Setelah dirawat beberapa saat, Sumiatin menjalani operasi tumor otak. Pasca operasi, ia mengalami trakeostomi yang mengakibatkan tidak bisa bernapas.

Untuk itulah, dokter membuat lubang pernapasan di bagian leher. Dampaknya, lebih dari sebulan Sumiatin tidak bisa bernapas dan tidak bisa berbicara. Tragisnya lagi, kondisi badan Sumiatin mati separuh hingga tidak bisa digerakkan.

Kompas TV Pedagang Susu Kedelai Tuntaskan Nazar Ketemu Jokowi

PenulisKontributor Madiun, Muhlis Al Alawi
EditorErlangga Djumena
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM