Atasi Kekeringan, Gunungkidul Wacanakan Pengolahan Air Laut Jadi Tawar - Kompas.com

Atasi Kekeringan, Gunungkidul Wacanakan Pengolahan Air Laut Jadi Tawar

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 07/08/2017, 14:44 WIB
ilustrasi kekeringan
KOMPAS ilustrasi kekeringan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, membuka diri bagi kalangan swasta untuk membuat teknologi desalinasi atau pengolahan air asin menjadi air tawar sebagai solusi kekeringan.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan, upaya untuk mengatasi kekeringan di wilayah terluas di DIY ini terus dilakukan. Setiap tahun, pemkab berusaha mencari solusi. Misalnya, pemanfaatan teknologi.

Namun pihaknya terkendala anggaran untuk pemanfaatan teknologi tepat guna seperti desalinasi.

"Kami akan sangat menyambut jika ada pihak swasta yang mau mengembangkan teknologi tersebut (desalisasi). Jika ada yang mau, pasti akan didukung," ujarnya ditemui di Gedung DPRD Gunungkidul, Senin (7/8/2017).

(Baca juga: Kekeringan, Warga Bima Tak Mandi Berhari-hari)

Selain desalinasi, pihaknya terus mencari sumber mata air. Sebab, Gunungkidul bukan kekurangan air, namun kesulitan dalam mengakses air.

Di dalam pegunungan karst, terdapat mata air yang berlimpah. Namun untuk mendapatannya memerlukan biaya dan teknologi yang cukup tinggi.

Bupati Gunungkidul, Badingah menambahkan, beberapa sumber air yang saat ini dikelola pemkab melalui PDAM Tirta Handayani belum bisa dimanfaatkan maksimal. Contohnya, sumber di Baron saat ini baru 90 sampai 100 liter perdetik, padahal potensinya bisa lebih.

"Kami terus berupaya menambah sumber air untuk mengatasi kekeringan,"imbuh dia.

Kekeringan Terus Meluas

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menyatakan, ada 132.681 jiwa, di 331 dusun, 44 desa yang terdampak kekeringan.

"Data terakhir kekeringan melanda di 8 kecamatan," kata Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Gunungkidul Sutaryono.

Delapan kecamatan tersebut meliputi Rongkop, Paliyan, Panggang, Girisubo, Purwosari, Tepus, Tanjungsari, dan Nglipar. Untuk menangani kekurangan air bersih, BPBD melaksanakan droping untuk 122 dusun di 22 desa.

"Sebagian lainnya menggunakan tangki milik kecamatan. Total yang disuplai air bersih dari BPBD ada 39.534 jiwa," imbuh dia.

Sutaryono menyampaikan, sampai saat ini pihaknya sudah menyalurkan 800 tangki air bersih ke warga. Kemarau untuk wilayah Gunungkidul diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober mendatang. 

Kompas TV Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Vatikan mematikan ratusan air mancur termasuk air mancur legendaris.

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorReni Susanti

Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM