Telan Dana Rp 80 Miliar, Ratusan Mesin Parkir di Bandung Belum Berfungsi - Kompas.com

Telan Dana Rp 80 Miliar, Ratusan Mesin Parkir di Bandung Belum Berfungsi

Kontributor Bandung, Dendi Ramdhani
Kompas.com - 25/04/2017, 15:16 WIB
KOMPAS. com/DENDI RAMDHANI Mesin parkir elektronik yang terpasang di kawasan Leuwipanjang hingfa kini belum berfungsi

BANDUNG, KOMPAS.com - Sudah berbulan-bulan mesin parkir elektronik Kota Bandung tak kunjung dioperasikan. Padahal pengadaan proyek itu menelan anggaran pemerintah hingga Rp 80 miliar. DPRD Kota Bandung mendesak agar mesin parkir tersebut segera digunakan.

"Kita sudah mendesak memantau dan mengevaluasi setiap tiga bulan. Saya berharap tahun ini bisa beroperasi karena kalau mesinnya tidak dijalankan tahun ini kita khawatir banyak mesin yang rusak, hilang karena mesinnya tidak ada yang menunggu," kata Folmer Silalahi, Anggota Komisi C DPRD Kota Bandung, Selasa (25/4/2017).

Saat ini Dinas Perhubungan Kota Bandung telah memasang 445 mesin parkir di 221 titik di Bandung. Pemasangan itu telah dilakukan sejak akhir tahun 2016 lalu. Mesin parkir bermerek Cale itu dibeli dengan skema e-katalog seharga Rp 125 juta tiap unit.

Folmer menuturkan, dengan harga mesin yang mahal Dinas Perhubungan Kota Bandung wajib melakukan pengawasan. Ia khawatir, mesin parkir yang telah terpasang akan malah hilang atau rusak sebelum dipakai.

"Kalau sekarang kan posisinya tidak ada yang menunggu. Kalau tidak ada petugas di lapangan bisa seperti di Jakarta, ada mesin parkir yang digondol maling padahal itu sudah beroperasi apalagi yang setiap hari mangkrak tidak ada yang menunggu. Ini yang jadi perhatian kami mudah-mudahan tiga bulan kedepan sudah ada," tuturnya.

Dari hasil laporan yang diterimanya, mesin parkir itu belum bisa beroperasi lantaran Dishub Kota Bandung masih mencari mekanisme pengelolaannya. Folmer menilai, kendati proyek mesin parkir cukup mahal, secara hitung-hitungan proyek itu efektif untuk menggenjot potensi pendapatan dari sektor retribusi parkir.

"Potensi pendapatan dari parkir di bahu jalan itu cukup besar. Target retribusi itu Rp 80 miliar per tahun. Pencapaian sekarang baru Rp 12-15 miliar. Jadi sebetulnya kita menginvestasi alat untuk menghasilkan PAD senilai alat itu dalam satu tahun, itu sangat ekonomis sekali, peluangnya bagus tinggal penerapan sistem operasionalnya seperti apa," kata Folmer.

Selain itu, lanjut dia, keberadaan mesin parkir itu cukup efektif untuk menata zona parkir di bahu jalan yang kian semerawut.

"Kalau dari sisi untuk meningkatkan pelayanan ini bagus karena kita lihat sendiri parkir dimana-mana membuat macet, tidak tidak tertib, tidak teratur, orang parkir sembarangan," ujarnya.

"Saya berharap Dishub segera merealisasikan penggunaannya, sosialisasikan sistemnya kepada publik, permudah masyarakat yang ingin menggunakan mesin parkir apalagi ini sistem non tunai," tambah dia.

Baca juga: Ridwan Kamil: Bandung "Smart Card" Jangan Hanya Jadi Seremoni

PenulisKontributor Bandung, Dendi Ramdhani
EditorErlangga Djumena
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM