Minggu, 26 Maret 2017

Regional

Kisah Guru yang Menyabung Nyawa di Jembatan Gantung demi Mengajar

Senin, 20 Maret 2017 | 14:47 WIB
Akun Facebook Askiman Sintang Foto Lusia ketika menyeberangi sungai saat hendak berangkat mengajar yang diunggah akun facebook Askiman Sintang (18/3/2017)

SINTANG, KOMPAS.com - Lusia, seorang guru di SD Negeri Nomor 27 Sungai Manyan, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, harus berjuang melawan derasnya air sungai ketika akan berangkat mengajar.

Perjuangan itu terekam dalam sebuah foto yang diunggah akun Facebook Askiman Sintang, yang tak lain adalah Wakil Bupati Kabupaten Sintang.

"Perjuangan seorang guru di pedalaman terpencil perhuluan kayan demi mencerdaskan kehidupan bangsa," demikian tulisan yang menyertai foto yang diunggah Askiman pada Sabtu (18/3/2017) lalu.

Baca juga: Guru Rela Mendayung Perahu demi Antar Jemput Murid-muridnya

Dalam foto itu, terlihat sosok Lusia yang mengenakan seragam batik berwarna putih sedang meniti jembatan yang terbuat dari sebatang bambu dengan beberapa tiang sebagai pegangan.

Kepada Kompas.com, Askiman menuturkan, sosok Lusia dalam foto yang diunggahnya tersebut mulai mengajar dari tahun 2002 sebagai guru kontrak di daerah hingga tahun 2006.

"Kemudian pada tahun 2007 ia menjadi CPNS dan diangkat sebagai PNS pada tahun 2009 dengan golongan IIIb," ujar Askiman mengawali ceritanya.

Sekolah yang menjadi tempat Lusia mengajar memiliki 6 tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah.

"Sebetulnya jarak dari rumah Lusia ke sekolah tidak terlalu jauh, kendalanya kalau banjir ya melewati sungai itu, selalu airnya di atas jembatan yang ada, jembatan itu sudah lumayan lama dibangun mungkin sekitar 20 tahun lalu," ungkap Askiman menuturkan apa yang disampaikan oleh Lusia.

Lantaran tidak ada akses jembatan, ketika banjir, masyarakat di sana pun kemudian membuat titian alakadarnya supaya bisa melewati sungai itu. Fasilitas di sekolah itu, kata Askiman, masih kekurangan buku pelajaran, WC sekolah dan pagar.

"Ada juga teman guru Lusia lainnnya dan anak yang harus jalan kaki ke sekolah dengan jarak sekitar 3 kilometer dengan kondisi jalan dan jembatan yang parah," ujar Askiman yang dilantik sebagai wakil bupati Sintang periode 2006-2021 pada 17 Februari 2016 yang lalu.

Baca juga: Cerita Guru Honorer, dari Kisah Periuk Nasi hingga Batal Nikah

Lokasi daerah tersebut cukup jauh dari ibu kota kabupaten dan masih terisolasi.

Askiman menegaskan, pihak pemerintah daerah akan berupaya mangatasinya secara perlahan namun pasti, karena selama ini dianggap terabaikan.

Penulis: Kontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan
Editor : Farid Assifa
TAG: