SEMARANG, KOMPAS.com - Kurang lebih 500 warga Kampung Bustaman menyambut bulan Ramadhan dengan tradisi mandi bersama tahunan yang dikenal sebagai Gebyuran Bustaman, Minggu (19/3/2023).
Tak hanya warga Bustaman, tapi sejumlah warga dari kampung sekitar di wilayah Kecamatan Purwodinatan juga turut meramaikan adat tersebut.
Terlihat ratusan katong air berwarna warni sudah disiapkan warga dengan digantungkan di atas atap maupun diletakkan di ember masing-masing.
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen membuka langsung tradisi itu di lokasi dengan memandikan lima anak kecil.
Baca juga: Kabupaten Semarang Kekurangan Rumah Sakit, Masyarakat Pilih Berobat ke Salatiga
Yasin mengguyur setiap anak dengan gayung batok kelapa dan mengelus kepalanya.
“Ini kan sebagai wujud nguri-nguri tradisi Ulama Kiai Kertoboso Bustam atau Mbah Bustam yang berasal di daerah ini, dengan harapan pada awal bulan Ramadhan kita sudah bersih dan suci dengan ritual hari ini,” tutur Yasin, saat membuka acara.
Sebenernya, adat ini 281 tahun silam. Akan tetapi adat kembali dilestarikan dan digelar setiap tahun sejak 2012.
Ini menjadi tahun ke-11 warga setempat merayakan Ramadhan dengan Gebyuran Bustaman.
“Biasanya memang diadakan pas akhir pekan sebelum Ramadhan supaya semua warga bisa ikut meramaikan,” tutur Amidin (43), salah satu warga yang juga panitia penyelenggara.
Warga dari 11 RT turut berkumpul di kampung tersebut. Mulai dari anak-anak hingga lansia saling melempar air tanpa ada jarak diantara mereka.
Bahkan seorang Warga Negara Asing (WNA) terlihat ikut bergabung di sana.
Seperti warga lokal lainnya, WNA tersebut tak ragu melempari orang sekitarnya dengan air. Begitu pun warga setempat turut memandikannya.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.