Orangtua Murid Geruduk Kantor Gubernur Papua Barat soal PPDB, Tawarkan Sekolah Pagi dan Siang

Kompas.com - 28/06/2022, 12:32 WIB

MANOKWARI, KOMPAS.com- Sejumlah orangtua murid menggeruduk Kantor Gubernur Papua Barat untuk mengadu mengenai persoalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Sekolah Menengah Atas SMA, Selasa(28/6/2022).

Para orangtua murid itu kemudian dikumpulkan dan dipertemukan dengan Sekertaris Daerah Sekda, Nataniel Mandacan, Asisten I Setda Papua Barat Roby Rumbekwan, serta Kepala Bidang Pendidikan SMA Dinas Pendidikan, Timotius Kambu.

Baca juga: Kasus Oknum TNI di Manokwari Lepas Tembakan Saat Pernikahan, Keluarga Korban Minta Kodam Kasuari Transparan

Kepala Sekolah, SMA Negeri 2 Manokwari, Adrianus Hara mengatakan kuota yang diterima di SMA Negeri 2 Manokwari yakni 288 orang.

"Pendaftaran kita tutup karena sudah memenuhi kuota yakni 288," kata Adrianus Hara, Selasa.

Dia menegaskan pihak sekolah tidak bisa memaksakan menerima siswa lebih banyak lantaran telah melebihi kuota.

"Apakah pasang tenda di lapangan kah, lalu guru dari mana. Sedangkan perbandingan guru dan murid di SMA itu tidak seimbang," ujar dia.

Baca juga: Geram Ada Mobil Bertangki Siluman” yang Diduga Timbun BBM, Warga Cekcok dengan Operator di SPBU Manokwari

Dia menambahkan bahwa guru tetap di SMA Negeri 2 yang beralamat di Jalan Pertanian Wosi, Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat itu hanya berjumlah 39 orang.

Soal penerimaan murid gelombang II, pihaknya belum bisa memastikan.

Baca juga: Buka W20 di Manokwari, Penjabat Gubernur Papua Barat: Ini Pemicu Berikan Semangat Baru...

Sementara salah satu orangtua murid Imenus Wanggai yang ditemui usai pertemuan mengemukakan pendapatnya.

"Pertemuan orangtua murid ini banyak orangtua sepakat tidak mau sekolahkan anaknya di sekolah swasta, mereka lebih cenderung memilih sekolah negeri," katanya.

Wanggai menambahkan, jika patokanya adalah zonasi dalam penerimaan, maka pihak sekolah diharapkan tetap konsisten dengan penetapan zonasi.

"Kalau misalnya kita tinggal di dekat SMA 2 atau SMA 1 kan kita masuk zonasi, harusnya anak kita diakomodasi," ucapnya.

Baca juga: Pedagang di Deiyai Papua Tewas Ditembak, Siapa Pelakunya Menurut Analisis Polisi?

Sebanyak 400 anak lulusan SMP saat ini menginginkan untuk melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Manokwari dan SMA Negeri 1 Manokwari.

"Tadi itu sudah ada solusi, bahwa dengan adanya tambahan siswa sudah pasti kapasitas daya tampung melebihi, sehingga sekitar 400 siswa yang belum diakomodasi di dua sekolah yakni SMA 1 dan SMA 2 jadi kita tawarkan anak-anak ini ada yang sekolah pagi dan sekolah siang" ucapnya.

Sekertaris Daerah (Sekda) Papua Barat, Nataniel Mandacan mengatakan bahwa semua sekolah sama, baik negeri maupun swasta atau SMA maupun SMK.

"Soal aspirasi yang disampaikan oleh para orangtua murid, kami akan bicarakan lagi dalam pertemuan dengan dinas terkait, kita perlu pertimbangkan keadaan sekolah, berapa jumlah guru, daya tampung sekolah dan sebagainya," ucap Nataniel Mandacan.

Baca juga: Soal Tambang Emas Ilegal, Pj Gubernur Papua Barat: Kita Perlu Bicara Bersama...

Meski demikian dia meminta agar para orangtua juga memanfaatkan sekolah swasta yang ada di Manokwari.

"Jangan pandang remeh sekolah swasta, saya ini juga dari sekolah swasta," kata Sekda Papua Barat.

Mandacan menegaskan, pihaknya akan membicarakan usulan para orangtua terkait dengan skema sekolah siang dan sekolah pagi baik di SMA Negeri 2 maupun SMA Negeri 1 Manokwari.

Baca juga: Kotak Hitam Pesawat Susi Air yang Jatuh di Papua Ditemukan

Sebelumnya pada Senin (27/6/2022), para orangtua murid mendatangi SMA Negeri 2 Manokwari.

Mereka meminta agar anak-anak tamatan SMP yang tinggal di dekat sekolah tersebut diakomodasi.

Para orangtua tersebut melakukan aksi pemalangan pintu utama sekolah, aksi yang sama dilakukan pada Selasa kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Sekda di kantor gubernur.

Sementara PPDB di SMA Negeri 2 Manokwari mengunakan pola seleksi dengan 70 persen untuk Orang Asli Papua (OAP) dan 30 persen untuk anak non-Papua. Jalur afirmasi 15 persen kemudian jalur prestasi 30 persen dan jalur perpindahan 5 persen.

"Kami tinggal di dekat sekolah, katanya sistem zonasi tapi nyatanya kami punya anak tidak bisa mendaftar di SMA Negeri 2 Manokwari," kata orangtua siswa, Yuliana Orocomna saat aksi kemarin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pimpin Sementara Kabupaten Pemalang, Wabup Tak Tahu Kegiatan Mukti Agung Wibowo Sebelum Ditangkap KPK

Pimpin Sementara Kabupaten Pemalang, Wabup Tak Tahu Kegiatan Mukti Agung Wibowo Sebelum Ditangkap KPK

Regional
Kabar Gembira, Ada Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Kaltim, Begini Skemanya

Kabar Gembira, Ada Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Kaltim, Begini Skemanya

Regional
DPRD Makassar Dukung Wali Kota, Kiranya Presiden dan Menhub Bisa Mendengar

DPRD Makassar Dukung Wali Kota, Kiranya Presiden dan Menhub Bisa Mendengar

Regional
Kronologi Penemuan Mayat yang Jatuh ke Selokan Sriwijaya Semarang

Kronologi Penemuan Mayat yang Jatuh ke Selokan Sriwijaya Semarang

Regional
Paket Narkoba yang Hendak Dikirim ke Lapas Baubau Berhasil Digagalkan

Paket Narkoba yang Hendak Dikirim ke Lapas Baubau Berhasil Digagalkan

Regional
Soal Pelecehan di Magelang, Keluarga Brigadir J: Skenario Ferdy Sambo Lucu, Berbelit-belit

Soal Pelecehan di Magelang, Keluarga Brigadir J: Skenario Ferdy Sambo Lucu, Berbelit-belit

Regional
Sebar Foto Bugil Pacar, Pria di Ende Terancam 6 Tahun Penjara

Sebar Foto Bugil Pacar, Pria di Ende Terancam 6 Tahun Penjara

Regional
Ketika Gibran Murka, Lepas Paksa Masker Paspampres yang Pukul Sopir Truk Saat Minta Maaf

Ketika Gibran Murka, Lepas Paksa Masker Paspampres yang Pukul Sopir Truk Saat Minta Maaf

Regional
Mobil Brio yang Dikemudikan Polisi di Maluku Tengah Tabrak Pohon, Satu Penumpang Tewas

Mobil Brio yang Dikemudikan Polisi di Maluku Tengah Tabrak Pohon, Satu Penumpang Tewas

Regional
695 Hewan Ternak Terjangkit PMK di Sumbawa, 4 Ekor Mati

695 Hewan Ternak Terjangkit PMK di Sumbawa, 4 Ekor Mati

Regional
Temukan 2 Ekor Monyet dalam Kondisi Mengenaskan di Kompleks FPIK Unsoed, Relawan Turun Tangan

Temukan 2 Ekor Monyet dalam Kondisi Mengenaskan di Kompleks FPIK Unsoed, Relawan Turun Tangan

Regional
Diduga Korupsi DAK Rp 1,2 Miliar di 28 SMP, Kepala Dinas Pendidikan Gunung Mas Diamankan

Diduga Korupsi DAK Rp 1,2 Miliar di 28 SMP, Kepala Dinas Pendidikan Gunung Mas Diamankan

Regional
Temuan Minyak Bumi Baru di Perairan Malaka NTT, Dinas ESDM Akan Bersurat ke Pusat

Temuan Minyak Bumi Baru di Perairan Malaka NTT, Dinas ESDM Akan Bersurat ke Pusat

Regional
Cicipi Kuliner Sorgum Kreasi SMK PGRI 2 Kudus, KSP Moeldoko: Rasanya Enak dan Punya Nilai Jual

Cicipi Kuliner Sorgum Kreasi SMK PGRI 2 Kudus, KSP Moeldoko: Rasanya Enak dan Punya Nilai Jual

Regional
Pupuk Subsidi untuk Sawit Dicabut, Pupuk Palsu Mulai Beredar dan Sulit Dideteksi

Pupuk Subsidi untuk Sawit Dicabut, Pupuk Palsu Mulai Beredar dan Sulit Dideteksi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.