Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/03/2020, 09:27 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Turiyan (57) duduk di atas kayu yang dibentuk seperti mobil mainan, Minggu (8/3/2020) siang. Kedua kakinya yang lumpuh terpangku di atas kayu itu.

Tangan kanannya memegang tongkat berukuran pendek. Sedangkan tangan kirinya menyentuh lantai dengan alas sandal.

Kedua tangan itu bergantian mendorong kayu yang didudukinya.

Kayu itu mudah menggelinding karena terdapat empat roda di bawahnya. Roda itu juga terbuat dari kayu.

Update : Kompas.com menggalang dana untuk membantu perjuangan Turiyan melalui Kitabisa.com dengan cara klik disini.

Baca juga: Mari Bantu Rodiyatun dan Rumini, Kakak Adik Lumpuh yang Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Saat itu, Turiyan yang hidup seorang diri hendak keluar dari rumahnya di RT 041 RW 007 Dusun Lepur, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

"Ini saya buat sendiri," kata Turiyan, sambil menunjukan kayu berbentuk mobil mainan yang didudukinya.

Turiyan merupakan warga yang menderita cacat fisik. Kedua kakinya lumpuh.

Bentuk kakinya mengecil dan tidak bisa difungsikan layaknya orang dengan kaki normal pada umumnya.

Kedua tangannya juga tidak normal. Meskipun, tangannya masih bisa difungsikan.

Cerita kelumpuhan Turiyan itu bermula sejak kelas 2 sekolah dasar (SD). Saat itu, setiap organ tubuhnya masih normal.

Sampai akhirnya, Turiyan yang merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara mengalami kecelakaan.

Ketika itu, Turiyan yang masih berumur sekitar 10 tahun mandi di sungai bersama teman-temannya. Nahas, dia terjatuh saat melompati bebatuan.

Kedua kakinya terperosok di antara batu dan menimpanya.

Baca juga: Tebing 30 Meter Longsor, Jalur Lintas Selatan Cianjur Lumpuh

Sejak saat itu, Turiyan tidak bisa berjalan. Berbagai pengobatan telah dilakukan, namun hasilnya tidak maksimal.

Kaki Turiyan mulai paha sampai ke telapak kaki lumpuh dan kondisinya mengecil.

"Jatuh di sungai kejepit batu. Ditolong oleh lima orang, tapi tidak bisa," kata dia.

Sejak saat itu, Turiyan berjalan menggunakan tangannya.

Lalu di usia 20 tahun, Turiyan berinisiatif membuat mobil-mobilan dari kayu yang bisa ditumpanginya untuk berjalan.

"Saya buat seperti ini supaya saya lebih cepat (berjalannya)," kata dia.

Hidup mandiri membuat kerajinan bambu

Turiyan tinggal seorang diri di rumahnya. Saudaranya sudah memiliki keluarga dan rumah masing-masing. 

Rumah yang ditempatinya adalah rumah keturunan keluarganya terdahulu.

Sehari-hari, Turiyan membuat tampah, alat tradisional dari anyaman bambu yang biasanya dibuat untuk membersihkan beras.

Hal itu dilakukan Turiyan di tengah keterbatasan fisiknya.

"Ada orang pesan dibuatin. Kalau tidak ada ya diam saja. Cuma nyapu-nyapu," kata dia.

Meski tinggal seorang diri, Turiyan bukan berarti menjalani hidup sepenuhnya seorang diri. Saudaranya yang bernama Paingan (37) masih kerap merawatnya.

Rumah keduanya berdampingan sehingga masih bisa saling membantu.

Selama ini, kebutuhan untuk Turiyan dipenuhi oleh saudaranya itu. Termasuk untuk kebutuhan hidupnya.

Baca juga: Kisah Pilu Firmus Du, 5 Tahun Lumpuh dan Jadi Pemecah Batu untuk Nafkahi Keluarga

Tidak hanya itu, Paingan juga yang mengambilkan bambu untuk Turiyan supaya dibuat tampah jika ada orang yang memesan.

"Ini rumah orangtua. Dulu, di sini ada kakak saya. Makanya saya buat rumah sendiri. Dia (Turiyan) tinggal bersama kakak saya. Tapi kakak saya sudah tidak ada (meninggal)," kata Paingan.

"Kalau nyuci dan buat kopi, kakak saya ini bisa sendiri. Tapi kalau makan, istri saya yang masakin," imbuh dia.

Ketua RT 041 RW 007, Suwardi mengatakan, dirinya selalu berusaha supaya Turiyan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

"Dulu dapat BLT (bantuan langsung tunai). Yang membawa ke balai desa saya, saya gendong," ungkap dia.

Update : Kompas.com menggalang dana untuk membantu perjuangan Turiyan melalui Kitabisa.com dengan cara klik disini. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

Regional
Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Regional
Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Regional
Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Regional
Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Regional
Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Regional
LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

Regional
Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Regional
BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

Regional
Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Regional
Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Regional
Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Regional
Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Regional
Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Regional
Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.