Kompas.com - 25/02/2020, 18:31 WIB
Perwakilan Cotton Council Internasional (CCI) di Indonesia, Anh Dung (Andy) Do (tengah) memberikan keterangan terkait ekspor-impor bidang tekstil antara Indonesia dan Amerika di Solo, Jawa Tengah, Selasa (25/2/2020). KOMPAS.com/LABIB ZAMANIPerwakilan Cotton Council Internasional (CCI) di Indonesia, Anh Dung (Andy) Do (tengah) memberikan keterangan terkait ekspor-impor bidang tekstil antara Indonesia dan Amerika di Solo, Jawa Tengah, Selasa (25/2/2020).

SOLO, KOMPAS.com - Perubahan status Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju tidak berdampak terhadap kegiatan ekspor dan impor antara Indonesia dengan Amerika Serikat dalam bidang tekstil.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat (AS) lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau Office of the US Trade Representative (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mengeluarkan Indonesia dari daftar negara-negara berkembang lalu memasukkannya sebagai negara maju.

Baca juga: Indonesia Didapuk Jadi Negara Maju, Pengusaha: Kita Sih Bangga, tetapi...

Perwakilan Cotton Council Internasional (CCI) di Indonesia, Anh Dung (Andy) Do mengatakan, hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Amerika sangat baik.

Meski Indonesia dikeluarkan dari daftar negara berkembang, tidak menjadi persoalan dalam bidang ekspor maupun impor dengan negari Paman Sam itu.

"Antara Indonesia dan Amerika tidak ada problem. Amerika mau terima banyak barang dari Indonesia dan Indonesia mau beli banyak US Cotton dari Amerika. Jadi, tidak ada masalah," katanya dalam seminar bersama Cotton Council Internasional dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di Solo, Jawa Tengah, Selasa (25/2/2020).

Dia mengungkap hubungan Indonesia dengan Amerika sangat baik tentang cotton dan industri tekstil.

Bahkan, industri tekstil menjadi prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menyerap tenaga kerja Indonesia.

Tercatat, jumlah tenaga kerja Indonesia yang terserap dalam industri tekstil mencapai 1,5 juta orang.

Sementara kebutuhan impor kapas Indonesia untuk industri tekstil domestik dari Amerika mencapai 400-500 juta dollar AS pertahun.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Liliek Setiawan mengatakan, dengan dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat, membuat kemudahan yang ada selama ini dikurangi.

Baca juga: Kemendag Klaim Perubahan Status RI Menjadi Negara Maju Tak Pengaruhi GSP

Meski demikian, pihaknya berharap dengan adanya kerja sama antara Indonesia-Amerika dalam bidang tekstil, dapat memberikan kemudahan dalam melakukan ekspor ke Amerika.

"Harusnya ada perlakukan khusus karena kita sudah menggunakan kapas khusus dari Amerika yang diluar dari government. Tapi lebih kepada sektor swasta atau pelaku bisnisnya," ungkap Liliek.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
Ingin Warga'Survive' di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Ingin Warga"Survive" di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Regional
6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

Regional
Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Regional
Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: 'Cash Ojo Nyicil'

Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: "Cash Ojo Nyicil"

Regional
Dapat Bantuan 'Bedah Rumah' dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Dapat Bantuan "Bedah Rumah" dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Regional
Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Regional
Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Regional
MDTA Direnovasi Dompet Dhuafa, Murid dan Kepala Yayasan Menangis Haru

MDTA Direnovasi Dompet Dhuafa, Murid dan Kepala Yayasan Menangis Haru

Regional
Dompet Dhuafa Bagikan 2.000 Paket Zakat Fitrah di Pati

Dompet Dhuafa Bagikan 2.000 Paket Zakat Fitrah di Pati

Regional
Cegah Penularan Covid-19, Pemprov Jabar Perpanjang Kerja Sama Penyediaan Hotel untuk Nakes

Cegah Penularan Covid-19, Pemprov Jabar Perpanjang Kerja Sama Penyediaan Hotel untuk Nakes

Regional
Meski Dihantam Pandemi, Maidi-Inda Raya Tetap Jalankan Program Kerjanya

Meski Dihantam Pandemi, Maidi-Inda Raya Tetap Jalankan Program Kerjanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X