BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Sido Muncul

Rumah Singgah Hidupkan Asa Raka, Anak Penderita Leukemia

Kompas.com - 07/09/2019, 22:27 WIB
Yani dan anaknya Raka, seorang pasien kanker Leukemia asal Sragen, Jawa Tengah, di salah satu rumah singgah di Kota Semarang ANISSA DEA WIDIARINI/KOMPAS.comYani dan anaknya Raka, seorang pasien kanker Leukemia asal Sragen, Jawa Tengah, di salah satu rumah singgah di Kota Semarang

SEMARANG, KOMPAS.com – Bagai kehidupan yang kehilangan cahaya. Itulah gambaran perasaan Yani (35) saat mendengar sang buah hati tercinta divonis menderita kanker leukemia.

“Saya merasa langit runtuh, ibaratnya gelap semua,” cerita Yani kepada Kompas.com, di Kota Semarang, Jumat (6/9/2019).

Perempuan asal Sragen, Jawa Tengah itu tak pernah menyangka anak laki-laki keduanya, Raka (5), menderita kanker darah yang menyerang sumsum tulang.

Yani bercerita, Raka didiagnosa menderita Leukemia pada usia 4 tahun. Saat itu, sang anak yang sehari-hari aktif bermain tiba-tiba sering mengeluh lelah dan capai.

“Raka juga pernah mimisan, bengkak-bengkak, lebam-lebam, terus muncul bintik-bintik merah persis ciri-ciri orang kena Leukemia,” lanjut Yani.

Yani kemudian memeriksakan anaknya ke dokter spesialis karena kejanggalan pada kondisi buah hatinya itu. Bagai petir di siang bolong, hasil pemeriksaan laboratorium Raka menunjukkan jika dia positif mengidap kanker.

Karena peralatan medis yang kurang memadai di daerah asalnya, dokter kemudian merujuk Raka untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Kariadi, Kota Semarang.

“Waktu fase induksi, masa parah-parahnya, setiap minggu itu pasti harus kemoterapi. Kalau sekarang sudah fase maintenance,” ucap Yani.

Untuk diketahui, fase induksi merupakan tahap dimana pasien akan menjalani kemoterapi untuk menghancurkan sel-sel kanker dalam darah dan sumsum tulang sebanyak mungkin.

Terhitung hingga saat ini Raka telah menjalani kemoterapi selama satu tahun. Selama itu pula Yani harus bolak balik Sragen-Kota Semarang untuk pengobatan anaknya. Karena perjalanan jauh itu, Yani khawatir kondisi anaknya memburuk karena kelelahan.

Secercah harapan datang ketika seorang guru bagi pasien kanker pada anak di RSUP Dokter Kariadi menawarkan Yani dan Raka untuk tinggal di “Rumah Kita” selama masa perawatan.

“Ada gurunya (guru Rumah Kita) suka ke rumah sakit. Dia itu mencari pasien kanker pada anak yang rumahnya jauh ditawari ke sini,” papar ibu dua orang anak itu.

Adapun “Rumah Kita” merupakan rumah singgah khusus anak penderita kanker yang didirikan oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Salah satu cabangnya, terletak di kawasan RSUP Dokter Kariadi, tepatnya di Jl Kedung Jati, Kota Semarang.

Di sini, anak-anak penderita kanker dan keluarganya tidak hanya diberikan tempat tinggal sementara selama menjalani pengobatan. Namun, mereka juga bisa menikmati semua fasilitas yang tersedia. Salah satunya adalah tenaga pengajar.

“Untuk anak-anak sekolah kami punya program 'Sekolahku'. Di sini, ada guru-guru lulusan sarjana pendidikan yang kami pekerjakan untuk bantu anak-anak belajar,” ucap Ketua YKAKI cabang Semarang Vita Mahaswari.

Dia menerangkan, saat ini ada dua guru yang mengajar anak-anak setiap harinya. Satu guru mengajar di rumah singgah dan satu lagi mengajar di rumah sakit.

“Anak-anak di sini semua belajar sesuai dengan jam yang ditetapkan dinas pendidikan. Meskipun tidak full proses belajarnya, mereka dapat belajar sesuai kurikulum sekolah asal mereka masing-masing,” ujar Vita.

Meringankan beban sesama

Selain guru, setiap harinya Rumah Kita memberikan uang belanja bagi setiap keluarga yang tinggal di sana. Vita menjelaskan, setiap orang akan diberikan uang belanja Rp 8.000.

Semua itu, ia dan teman-teman YKAKI lakukan semata-mata untuk meringankan beban keluarga penderita kanker. Pasalnya, mereka paham bahwa proses pengobatan penyakit itu tidak sebentar dan menghabiskan banyak biaya.

Vita menjelaskan, saat ini Rumah Kita Semarang memiliki 3 kamar dengan 12 tempat tidur. Untuk jumlah anak-anak yang tinggal di sana tidak menentu. Tergantung kapan jadwal perawatan masing-masing.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., memberikan bantuan dana Rp 250 juta untuk perluasan rumah singgah milik Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) cabang Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)ANISSA DEA WIDIARINI/KOMPAS.com PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., memberikan bantuan dana Rp 250 juta untuk perluasan rumah singgah milik Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) cabang Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)
Pentingnya rumah singgah bagi pasien penderita kanker juga dipahami PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Oleh karena itu, melalui Tolak Angin perusahaan ini memberikan bantuan dana Rp 250 juta untuk perluasan rumah singgah.

Rumah singgah ini dibutuhkan untuk pasien-pasien kanker pada anak begitu keluar rumah sakit (selesai pengobatan kemoterapi). Setelah kemoterapi dia enggak bisa tinggal di RS lagi toh,” ujar Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat.

Dia pun mengaku kagum dengan pengelolaan rumah singgah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi pasien-pasien penderita kanker pada anak.

Untuk itu, dia berharap, pembangunan rumah singgah itu bisa segera terealisasi.

“Saya harap bisa segera terealisasi, sehingga dapat menampung pasien lebih banyak. Apalagi bisa dilihat di sini suasananya nyaman, bersih, dan dekat dengan rumah sakit,” imbuhnya.

Irwan pun meyakini cobaan yang dialami pasien kanker dan keluarganya saat ini akan mendatangkan hal-hal baik di kemudian hari.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nelayan Temukan 10 Peluru Senjata AK-47 Saat Menyelam di Bali

Nelayan Temukan 10 Peluru Senjata AK-47 Saat Menyelam di Bali

Regional
Balita Ditemukan Tanpa Kepala, Dokter Forensik: Penyebab Kematian Tak Dapat Dinilai

Balita Ditemukan Tanpa Kepala, Dokter Forensik: Penyebab Kematian Tak Dapat Dinilai

Regional
Pulang Malam Hari, Remaja Wanita di Makassar Dibius 6 Pria, Disekap 3 Hari Tanpa Makan

Pulang Malam Hari, Remaja Wanita di Makassar Dibius 6 Pria, Disekap 3 Hari Tanpa Makan

Regional
Cerita Kegigihan Tukang Kebun Sekolah yang Punya 15 Anak, Jual Cacing Sebagai Sampingan

Cerita Kegigihan Tukang Kebun Sekolah yang Punya 15 Anak, Jual Cacing Sebagai Sampingan

Regional
Bocah 11 Tahun yang Tewas Digigit Ular Weling Tangkapannya Ditemukan Ibunya dengan Mulut Berbusa

Bocah 11 Tahun yang Tewas Digigit Ular Weling Tangkapannya Ditemukan Ibunya dengan Mulut Berbusa

Regional
Kapal Pengangkut TKI ke Malaysia Tenggelam di Riau, 10 Orang Hilang

Kapal Pengangkut TKI ke Malaysia Tenggelam di Riau, 10 Orang Hilang

Regional
Tahun Depan, Ganjar Targetkan Semua Daerah di Jateng Miliki Mal Pelayanan Publik

Tahun Depan, Ganjar Targetkan Semua Daerah di Jateng Miliki Mal Pelayanan Publik

Regional
Tenaga Honorer Akan Dihapus Bertahap

Tenaga Honorer Akan Dihapus Bertahap

Regional
Hari Kelima Pencarian, Tim SAR Tak Juga Temukan Kapal Panji Saputra

Hari Kelima Pencarian, Tim SAR Tak Juga Temukan Kapal Panji Saputra

Regional
Perusahaan Kapal China Tanggung Hak Finansial ABK yang Jenazahnya Dibuang ke Laut

Perusahaan Kapal China Tanggung Hak Finansial ABK yang Jenazahnya Dibuang ke Laut

Regional
Ini Permintaan Siswi SD di Wakatobi pada Jokowi, “Bapak Presiden Tolong Bantu Saya Ikut Ujian'

Ini Permintaan Siswi SD di Wakatobi pada Jokowi, “Bapak Presiden Tolong Bantu Saya Ikut Ujian"

Regional
Pelajar yang Bunuh Begal Divonis 1 Tahun, Pengacara: Kami Pikir-pikir

Pelajar yang Bunuh Begal Divonis 1 Tahun, Pengacara: Kami Pikir-pikir

Regional
Ini Motif Pelaku Pembunuhan Pelajar SMA yang 2 Bulan lalu Menghilang dan Ditemukan Tinggal Tengkorak Kepala

Ini Motif Pelaku Pembunuhan Pelajar SMA yang 2 Bulan lalu Menghilang dan Ditemukan Tinggal Tengkorak Kepala

Regional
Bea Cukai Palembang Gagalkan Penyelundupan Ribuan Baby Lobster Senilai Rp 2,5 Miliar ke Singapura

Bea Cukai Palembang Gagalkan Penyelundupan Ribuan Baby Lobster Senilai Rp 2,5 Miliar ke Singapura

Regional
Raja Keraton Agung Sejagat Masih Mengelak soal Motif Penarikan Uang ke Pengikutnya

Raja Keraton Agung Sejagat Masih Mengelak soal Motif Penarikan Uang ke Pengikutnya

Regional
komentar di artikel lainnya