611 Hari Berlalu, Kasus Penyiraman Novel Baswedan Belum Ada Titik Terang

Kompas.com - 14/12/2018, 21:37 WIB
Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam Bedah Novel Teror Mata Abdi Astina di Dialectic Cafe, Kota Malang, Jumat (14/12/2018) KOMPAS.com/ANDI HARTIKJuru Bicara KPK Febri Diansyah dalam Bedah Novel Teror Mata Abdi Astina di Dialectic Cafe, Kota Malang, Jumat (14/12/2018)


MALANG, KOMPAS.com - Genap 611 hari kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berlalu. Namun, belum ada tanda-tanda kasus itu akan terungkap.

Tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang diharapkan mampu membuka kasus itu tidak juga dibentuk. Presiden Joko Widodo dinilai belum menganggap penting pembentukan TGPF.

"Terakhir pernyataan Presiden yang kita dengar waktu Hakordia, seingat saya banyak juga pertanyaan pada Presiden, belum ada sinyal pembentukan TGPF," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, saat menghadiri 'Bedah Novel Teror Mata Abdi Astina' di Dialectic Cafe, Kota Malang, Jumat (14/12/2018).

Baca juga: KPK Minta Polri Tak Lupakan Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan

Febri mengatakan, pembentukan TGPF merupakan wewenang Presiden. Jika tim gabungan tersebut tidak juga dibentuk, Presiden dinilai masih mempercayakan kepada pihak kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut.

Meskipun, perjalanan kasus tersebut sangat lambat.

"Sampai sekarang kan belum ada sinyal dari Presiden untuk membentuk TGPF. Jadi, tergantung pada Presiden, apakah melihat 611 hari ini masih dipandang waktu yang wajar untuk Polri menangani kasus ini, cukup Polri saja atau Presiden punya pertimbangan lain, nah itu domain Presiden. Tentu tidak tepat kalau misalnya KPK secara kelembagaan masuk terlalu jauh," ujar dia.

Sebenarnya, KPK sudah berulang kali meminta pembentukan TGPF kepada Presiden melalui wadah pegawai yang ada di dalamnya.

Namun, tim yang diharapkan itu tidak kunjung terbentuk sehingga penanganan kasus itu hanya dilakukan oleh pihak kepolisian.

Baca juga: KPK Pastikan Novel Baswedan Pernah Berikan Keterangan kepada Polisi

"Kalau dari aspek hukum prosesnya, kan, mau tidak mau masih di Polri. Kecuali Presiden berpikiran lain, nah itu lain hal. Kalau wadah pegawai KPK, kan, sudah sering meminta dukungan dan bantuan kepada Presiden dalam pernyataan-pernyataan mereka, bahwa kasus penyerangan Novel ini perlu mendapat perhatian lebih," kata dia.

Diketahui, pada Selasa (11/4/2017) subuh, Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor hingga harus menjalani operasi untuk kedua matanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X