5 Kisah Haru Korban Kecelakaan Lion Air JT 610, Naik Pesawat Pertama Kali hingga "Siapa yang Jagain Aku" - Kompas.com

5 Kisah Haru Korban Kecelakaan Lion Air JT 610, Naik Pesawat Pertama Kali hingga "Siapa yang Jagain Aku"

Kompas.com - 02/11/2018, 10:11 WIB
Petugas dari kesatuan komandan pasukan katak (Kopaska) melakukan patroli di lokasi kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Pantai Tanjung Pakis, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Petugas dari kesatuan komandan pasukan katak (Kopaska) melakukan patroli di lokasi kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Pantai Tanjung Pakis, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018).

KOMPAS.com — Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus mencari korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Sementara itu, para keluarga korban masih terus berdoa dan berharap yang terbaik bagi sanak saudara mereka.

Salah satunya kisah tentang Khotijah yang baru pertama kali naik pesawat. Saat itu, ibu muda asal Tegal diajak atasannya untuk pergi ke Bangka Belitung dengan menggunakan pesawat Lion Air JT 610. 

Berikut ini sejumlah kenangan para korban kecelakaan pesawat Lion JT 610.

1. Video terakhir dari Paul untuk keluarganya

(Kiri-kanan) Foto kenangan Paul Ferdinand Ayorbaba, korban kecelakaan Lion Air JT610 saat bersma Ningsih Yusup istrinya dalam sebuah acara keluarga. Dok. Keluarga Paul Ferdinand Ayorbaba (Kiri-kanan) Foto kenangan Paul Ferdinand Ayorbaba, korban kecelakaan Lion Air JT610 saat bersma Ningsih Yusup istrinya dalam sebuah acara keluarga.

Erni (43), kakak ipar korban kecelakaan Lion Air JT610 bernama Paul Ferdinand Ayorbaba (43), tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat doa bersama untuk keselamatan Paul pada Rabu (31/10/2018) malam.

Erni menceritakan, pada Senin (29/10/2018) pagi, Paul mengirimkan sebuah video ke grup WhatsApp keluarga.

"Dia kirim rekaman (video) ke WA keluarga kita, 'Sudah mau berangkat'. Di-zoom-zoom ke (arah) pesawat. Biasanya dia cuma kirim foto suasana ruang tunggu dan izin mau berangkat," kata Erni di kediamannya, kawasan Meruya, Jakarta Barat.

Dalam video tersebut, Paul merekam saat ia mengantre pengecekan tiket sebelum masuk pesawat. Paul sempat bertanya kepada petugas, "Ini ke Pangkal Pinang, bukan?".

Kemudian, Paul juga merekam ke arah ke pintu keluar area ruang tunggu menuju tangga turun area parkir pesawat. Paul merekam dua pesawat Lion Air yang siap terbang.

Baca Juga: Sebelum Naik Lion Air JT 610, Paul Kirim Video untuk Grup WhatsApp Keluarga

2. Status Khotijah yang pertama kali naik pesawat

Ilustrasi pesawat Lion AirKOMPAS.com/SRI LESTARI Ilustrasi pesawat Lion Air

Tobiin (38), kakak kandung Khotijah, menceritakan, adi bungsunya tersebut pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di kawasan Serpong.

“Dia baru seminggu kerja di Jakarta untuk menafkahi anaknya yang masih kecil di Tegal," ucap Tobiin, di Hotel Ibis Cawang, Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Rabu (31/10/2018) malam.

Sebelum kecelakaan pada hari Senin (29/10/2018), Tobiin mendapat kabar dari Khotijah bahwa dirinya akan naik pesawat bersama atasannya ke Bangka Belitung.

Pesawat Lion Air JT 610 itu menjadi pesawat pertama dan yang terakhir bagi Khotijah. Menurut Tobiin, Khotijah belum pernah sama sekali naik pesawat.

"Senang dia mau naik pesawat, orang sampai nulis status, 'Senangnya diajak Bu bos cantik ke Bangka Belitung naik pesawat'," kaya Tobiin.

Baca Juga: "Senangnya Diajak Bu Bos Cantik ke Bangka Belitung Naik Pesawat..."

3. Setelah sempat dirahasiakan, orangtua Asep akhirnya ikhlas

Husnadi (baju kotak-kotak) dan Kaini, orangtua Asep, salah satu penumpang pesawat Lion Air PK-LQP JT 610, serta salah satu kerabatnya menyaksikan siaran televisi yang menyiarkan proses evakuasi dan pencarian korban pesawat yang jatuh di perairan Karawang tersebut. Orangtua Asep tinggal di Kelurahan Pasar Bhayangkara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Regency, Sumatera Selatan.KOMPAS.com/Amriza Nursatria Husnadi (baju kotak-kotak) dan Kaini, orangtua Asep, salah satu penumpang pesawat Lion Air PK-LQP JT 610, serta salah satu kerabatnya menyaksikan siaran televisi yang menyiarkan proses evakuasi dan pencarian korban pesawat yang jatuh di perairan Karawang tersebut. Orangtua Asep tinggal di Kelurahan Pasar Bhayangkara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Regency, Sumatera Selatan.

Orangtua Asep Saripudin (25), Husnaidi dan Kaini, terus berdoa dan ikhlas apa pun yang terjadi pada Asep setelah pesawat Lion Air PK-LQP JT 610 yang ditumpanginya jatuh pada Senin (29/10/2018).

Husnaidi mengungkapkan, keluarganya sempat tidak memberitahu Asep menjadi korban kecelakaan pesawat.

Namun, dirinya merasa curiga ketika salah satu anaknya beberapa waktu lalu berpamitan untuk berangkat kerja ke Jakarta dengan membawa tas besar. Akhirnya Husnaidi diberi tahu bahwa Asep berada di pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut.

“Asep baru dua bulan di Pangkal Pinang untuk bekerja. Selama dua bulan ini, hanya berkomunikasi dengan kakak-kakaknya yang punya telepon seluler, sedangkan kami berdua tak punya telepon,” tuturnya.

Baca Juga: Sang Ibu Ikhlas meski Kabar Jatuhnya Lion Air yang Bawa Anaknya Sempat Dirahasiakan

4. Putri korban: "Nanti yang jagain papi siapa, yang jagain aku siapa Pa"

Aditya Wirawan (Baju garis-garis ungu yang sedang salaman), suami dari Yul Sulvianti, korban Lion Air JT 610. KOMPAS.com/CYNTHIA LOVA Aditya Wirawan (Baju garis-garis ungu yang sedang salaman), suami dari Yul Sulvianti, korban Lion Air JT 610.

Aditya Wirawan, suami Yul, sempat berpikir untuk merahasiakan peristiwa yang menimpa Yul kepada anak-anak mereka.

“Saya baru memberi tahu anak pertama saya, saya belum memberi tahu anak saya yang kedua, karena kan masih terlalu kecil juga saya takut terjadi apa-apa ke depannya,” kata Aditya di Jalan KH Ahmad Dahlan RT 006 RW 005, Kukusan Beji, Depok, Jawa Barat.

Menurut Aditya, saat diberi tahu kabar itu, anak pertamanya terpukul. Sang anak menangis begitu diberi tahu mengenai kabar ibunya.

“Saat disampaikan ada kabar mamanya jatuh dari pesawat dia bilang ke saya ‘Aku enggak mau enggak punya mama. Nanti yang jagain papa siapa, yang jagain aku siapa Pa?' Ia mengucapkan itu selalu tidak hanya sekali saja," tutur dia.

Baca Juga: Anak Saya Bilang 'Enggak Mau Tanpa Mama'...

5. Doa dari Wakil Gubernur Jawa Timur untuk Deryl

Gus Ipul di rumah duka korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Surabaya, Rabu (31/10/2018) malamKOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL Gus Ipul di rumah duka korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Surabaya, Rabu (31/10/2018) malam

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf ( Gus Ipul) mengatakan, keluarga Deryl Fida Febrianto masih berharap keajaiban dari Tuhan agar Deryl bisa kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.

"Keluarga Deryl masih berharap keajaiban. Tadi istrinya bilang dia masih berharap ada mukjizat. Kita doakan agar keluarga yang ditinggal tabah," katanya saat mengunjungi rumah keluarga Deryl di Jalan Simo Pomahan Baru Nomor 67, Surabaya, Rabu (31/10/2018) malam.

Selain menemui ibu dan istri Deryl, Gus Ipul juga ikut membaca tahlil bersama warga di sekitar tempat tinggal Deryl.

"Insya Allah Deryl mati syahid karena dia meninggal saat sedang bekerja untuk keluarga, itu keyakinan umat Muslim," ujarnya.

Baca Juga: Gus Ipul: Insya Allah Deryl Mati Syahid...

Sumber: KOMPAS.com (Achmad Faizal, Cynthia Lova, Amriza Nursatria, Rima Wahyuningrum)

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X