Yahya Fuad, Insinyur dan Pebisnis yang Ditangkap KPK Saat Jadi Bupati Kebumen

Kompas.com - 31/10/2018, 18:07 WIB
Tersangka Bupati Kebumen (nonaktif) Mohammad Yahya Fuad tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (8/3). Mohammad Yahya Fuad menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka pasca ditahan KPK terkait kasus pengadaan barang dan jasa menggunakan dana APBD Kabupaten Kebumen tahun 2016. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/18. SIGID KURNIAWANTersangka Bupati Kebumen (nonaktif) Mohammad Yahya Fuad tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (8/3). Mohammad Yahya Fuad menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka pasca ditahan KPK terkait kasus pengadaan barang dan jasa menggunakan dana APBD Kabupaten Kebumen tahun 2016. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/18.

KEBUMEN, KOMPAS.com - Bupati Kebumen nonaktif Mohammad Yahya Fuad menerima vonis dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Jawa Tengah, Pada awal pekan lalu, Senin (22/10/2018).

Fuad dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan dicabut hak politiknya akibat kasus suap dari berbagai proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen pada tahun 2016 lalu.

Pria kelahiran Purwokerto, 15 Mei 1965, tersebut dikenal berprestasi sejak masa sekolah. Dia lulus dari SMPN 1 Gombong dan SMAN 1 Gombong yang merupakan sekolah unggulan di daerah Kebumen.

Baca juga: Fakta Vonis Bupati Kebumen, Terima Suap 12 M hingga Tawaran JC Ditolak KPK


Lulus dari bangku sekolah, Yahya melanjutkan studi ke Kota Kembang, Bandung. Dia mengambil kuliah di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung hingga memperoleh gelar insinyur.

Suami dari Lilis Nuryani itu lalu mengambil program Ekonomi di Universitas Negeri Padjadjaran dan kembali memperoleh gelar sarjana.

Berbekal latar belakang pendidikan yang mumpuni, Fuad tumbuh menjadi pebisnis yang diperhitungkan.

Bisnisnya menggurita dari mulai bidang kontraktor bangunan, pengembang perumahan (developer), pabrik pupuk organik (petroganik), stasiun pengisian bahan elpiji (SPBE), stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hingga biro perjalanan (tour and travel) yang diberi kedudukan di Gombong.

Baca juga: Cerita Nelayan Lihat Pesawat Terbang Miring dengan Sayap ke Bawah di Lokasi Jatuhnya Lion Air

Fuad semakin menancapkan kerajaan bisnis, khususnya di Kebumen, dengan membuat PT Tradha atau Tradha Grup pada Mei 2015. Kelompok perusahaan inilah yang akhirnya mengantarkan Fuad ke jeruji pesakitan KPK.

Di bidang sosial, Fuad aktif di organisasi Muhammadiyah. Sepak terjang Fuad terhitung moncer dengan menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong dan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen.

Tak hanya itu, Fuad juga dipercaya sebagai Dewan Kehormatan PMI Kabupaten Kebumen dan Penasihat Dewan Kesenian Daerah Kebumen. Di tangannya pula, lahir Yayasan Nurul Ikhsan dan Pondok Pesantren Al Kamal.

Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaran Negara (LHKPN) yang direkam sebelum pencalonannya menyebutkan bahwa Fuad memiliki harta tidak bergerak senilai Rp 87,1 miliar yang diperoleh dari hasil usaha sendiri dan hibah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X