Destinasi Wisata Baru Bermunculan, Babel Terkendala Perda Zonasi - Kompas.com

Destinasi Wisata Baru Bermunculan, Babel Terkendala Perda Zonasi

Kompas.com - 16/09/2018, 17:34 WIB
Pengunjung Pantai Batu Bedaun dengan pemandangan laut lepas bisa melihat kapal keruk timah dari lepas pantai.KOMPAS.com/HERU DAHNUR Pengunjung Pantai Batu Bedaun dengan pemandangan laut lepas bisa melihat kapal keruk timah dari lepas pantai.

BANGKA, KOMPAS.com-Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempercepat pembahasan rancangan perda zonasi dan wilayah pesisir, menyusul banyaknya objek wisata baru yang bermunculan.

Selama ini, pembahasan perda berkutat soal penentuan wilayah tambang, kawasan ekonomi khusus, dan area tangkapan nelayan.

"Kami ingin rancangan perda zonasi diselesaikan secepatnya. Masing-masing kepentingan nanti ada ketentuannya," kata Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Abdul Fatah seusai Festival Pantai Batu Bedaun, Minggu (16/9/2018).

Baca juga: 4 Hari Menghilang, Pria ini Ditemukan Tewas Mengapung di Pantai Kelapa Lima

Dia mengungkapkan, garis pantai di Kabupaten Bangka akan masuk dalam rintisan kawasan ekonomi khusus pariwisata nasional.

Selain banyaknya pengelolaan destinasi yang bermunculan, pemda bersama swasta juga menggiatkan berbagai even setiap tahunnya, salah satunya, Sungailiat Triathlon Internasional.

"Kami ingatkan kesiapan dari pengelola pariwisata agar tempat memiliki daya tarik bagi wisatawan. Tadi ada ekspo martabak bangka yang bernilai sejarah, patut diapresiasi," ujarnya.

Pantauan Kompas.com, destinasi Pantai Batu Bedaun yang dikelola swasta masih tahap pembangunan. Lahan parkir dan kolam renang masih dalam proses pengerjaan.

Pantai Batu Bedaun cukup banyak dikunjungi wisatawan karena selain menawarkan pemandangan pantai, juga menyediakan permainan jetski.

Namun, di kawasan pantai ini tidak hanya terdapat aktivitas pariwisata. Dari bibir pantai, terlihat jelas dua kapal keruk timah yang sedang beroperasi.

Pengunjung pantai, Zul mengatakan, dalam kondisi angin kencang, air laut kadang berwarna keruh. Ia pun berharap, ekosistem pantai tetap terjaga keasriannya dan tidak dimonopoli pihak tertentu.

"Kalau bisa ada wisata keluarga yang asri dan tidak mahal biayanya," kata Zul.

Kompas TV Salah satunya pemecahan rekor MURI adalah tari tenun yang diikuti sebanyak 2.000 penari.




Close Ads X