Kisah Anak-anak Berkebutuhan Khusus yang Sekolah di SD Negeri

Kompas.com - 22/09/2017, 16:37 WIB
Alifia Kamelia (berdasi merah putih) bersama rekan rekannya yang berkebutuhan khusus di SDN Karangrejo 3 Banyuwangi KOMPAS.com/Ira RachmawatiAlifia Kamelia (berdasi merah putih) bersama rekan rekannya yang berkebutuhan khusus di SDN Karangrejo 3 Banyuwangi
|
EditorErlangga Djumena

BANYUWANGI,KOMPAS.com - Alifia Kamelia, siswi kelas 4 SDN Karangrejo 3 terlihat tekun menulis didampingi seorang guru. Beberapa kali mereka terlihat berbicara namun berbeda dengan komunikasi pada umumnya, guru yang mendampingi Alifia, dengan sabar beberapa kali mengulang jawaban yang ditanyakan oleh bocah perempuan berambut panjang tersebut sehingga Alifia benar-benar memahami.

Alifia adalah salah satu siswa kebutuhan khusus. Sejak bayi, dia mengalami gangguan pendengaran sehingga kesulitan saat belajar berbicara. Baru saat masuk sekolah TK, Alifia mengenakan alat bantu dengar di kedua telinganya hingga saat ini, dia duduk di kelas 4 SD.

Ainur Joyo, ayah kandung Alifia kepada Kompas.com Jumat (22/9/2017) mengatakan, sengaja menyekolahkan anaknya di SDN Karangrejo 3 agar anaknya bisa bersosialisasi dengan murid umum lainnya. Selain itu, dia juga mendapatkan informasi jika sekolah yang berada di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Kota Banyuwangi tersebut menerima anak kebutuhan khusus seperti anaknya.

"Tidak banyak sekolah umum yang menerima anak kebutuhan khusus seperti Alifia. saya bersyukur dia bisa bersekolah disini. Dia semakin percaya diri, apalagi teman-temannya yang umum serta gurunya memahami kondisi Alifia. Tidak pernah anak saya mengadu jika di olok-olok karena kondisinya berbeda," ucap Ainur sambil mengelus rambut anaknya.

Baca juga: Ketika Anak Berkebutuhan Khusus Ikut Gerakan Literasi 15 Menit

Dengan suara patah-patah. Alifia bercerita bahwa dia senang bisa bersekolah dan memiliki banyak teman yang baik. Dia mengaku sangat menyukai pelajaran matematika. "Kalau besar ingin jadi dokter," katanya sambil tersenyum.

Berbeda dengan Alifia, Khairul Umum siswa kelas tiga penyandang autis, masih didampingi ibunya saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Bahkan sesekali Rachmawati, ibu kandung Umam menemani anak keempatnya didalam kelas.

"Walaupun guru dan teman-temannya tahu kondisi Umam, tapi saya sadar bahwa gurunya juga butuh bantuan karena bukan hanya Umam yang diawasi dan diajar. Umam bisa bersekolah di sini saja saya sudah bersyukur luar biasa," kata Rahmawati.

Selain menempuh pendidikan di sekolah umum, Umam juga mengikuti terapi di luar sekolah. Walaupun jarak dari rumahnya menuju sekolah cukup jauh dan ditempuh dengan motor sekitar 20 menit, Rachmawati mengaku sengaja memilih SD Karangrejo agar anaknya lebih mandiri.

Dia mengetahui sekolah tersebut dari tempat terapi. "TK nya dulu juga di sekolah inklusi dan saat lulus diarahkan ke sini. Jauh enggak apa-apa toh ini buat masa depan Umam agar dia mandiri," katanya.

Sementara itu Yayuk Prayuwati, kepala sekolah SDN Karangrejo 3 mengatakan, penerapan sekolah inklusi sudah dilakukan sejak 8 tahun lalu. Saat itu siswa pertama inklusi yang terima adalah siswa yang mengalami kelainan fisik pada kaki.

"Kami terima karena tidak mungkin dia sekolah di SLB karena jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Jika kami tolak maka dia tidak sekolah. Dia siswa pertama kami sewindu yang lalu," ucap Yayuk.

Sejak saat itu, setiap tahun selalu ada anak berkebutuhan khusus yang mendaftar menjadi murid. Mereka kebanyakan adalah warga yang tinggal di sekitar sekolah namun ada juga yang rumahnya jauh dari sekolah.

Untuk memberikan pengajaran maksimal, pihak sekolah memberikan pelatihan khusus kepada dua guru pendamping untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus selama di sekolah.

Baca juga: Kisah Perjuangan Pasutri Mendirikan Sekolah Gratis untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Setiap seminggu sekali, sekolah juga mendatangkan dua guru dari SLB negeri untuk memberikan pelajaran tambahan kepada para siswa kebutuhan khusus serta bekerja sama dengan terapi dan psikolog anak.

Kelas tersebut diadakan setiap hari Jumat mulai jam 08.00 wib sampai 11.00 di kelas khusus yang berada di belakang ruangan utama sekolah agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar lainnya. Disediakan juga alat peraga yang ramah dengan anak-anak kebutuhan khusus.

Pada kelas khusus tersebut, dua guru pendamping juga ikut menemani proses mengajar tersebut. "Bukan hanya untuk pengajar tapi siswa umum juga kita ajarkan untuk memahami kondisi temannya yang kebutuhan khusus. Siswa umum juga kita bekali bahasa isyarat untuk mempermudah komunikasi mereka," jelas Yayuk sambil menunjukkan banner bahasa isyarat yang dipampang di dinding sekolah.

Saat ini dari 200-an siswa kelas 1 sampai kelas 6, ada sekitar 28 anak kebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di SDN Karangrejo 3. Mereka rata-rata penyandang lambat belajar, namun ada juga yang autis, hiperaktif, tuna daksa ringan, dan tuna netra ringan.

Sejak tahun 2014, SDN Karangrejo 3 menjadi sekolah percontohan inklusi setelah Banyuwangi mendeklarasikan gerakan pendididikan inklusi, di mana semua sekolah wajib menerima semua anak tanpa terkecuali, termasuk anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus.

Sementara itu secara terpisah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan saat ini ada 275 guru yang mempunyai kompetensi sebagai pendamping anak berkemampuan khusus. Mereka juga telah melalui pendidikan dan pelatihan khusus.

Para guru tersebut saat ini berada di 210 sekolah inklusi terdiri atas 55 PAUD, 89 SD/MI, 44 SMP/MTs, dan 22 SMA/SMK/MA dengan jumlah siswa mencapai 1.246 anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus.

"Kami ingin secara bertahap jumlah sekolah inklusi bertambah sehingga tidak ada lagi pengkotak-kotakan untuk pendidikan anak," kata Anas. 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalan Kelok 44 Sumbar Ambles, Baru Dibuka Lagi 10 Agustus

Jalan Kelok 44 Sumbar Ambles, Baru Dibuka Lagi 10 Agustus

Regional
Marah Tak Diberi Uang oleh Ibu, Seorang Anak Divonis Hukuman Penjara

Marah Tak Diberi Uang oleh Ibu, Seorang Anak Divonis Hukuman Penjara

Regional
Bupati Langkat Izinkan Kawasan Wisata Bukit Lawang Dibuka, tapi...

Bupati Langkat Izinkan Kawasan Wisata Bukit Lawang Dibuka, tapi...

Regional
Kasus Kerangka Wanita Berjaket Merah di Wonogiri, Sebelum Terbunuh Jual Motor Suami

Kasus Kerangka Wanita Berjaket Merah di Wonogiri, Sebelum Terbunuh Jual Motor Suami

Regional
Sedang Pasang Umbul-umbul HUT RI, Pelajar Tewas Tersengat Listrik

Sedang Pasang Umbul-umbul HUT RI, Pelajar Tewas Tersengat Listrik

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 4 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 4 Agustus 2020

Regional
Kejar Layangan Putus, Bocah Usia 10 Tahun Diserang 3 Anjing Herder

Kejar Layangan Putus, Bocah Usia 10 Tahun Diserang 3 Anjing Herder

Regional
Penularan Covid-19 di Rumah Makan, 8 Orang Positif, 2 di Antaranya Meninggal

Penularan Covid-19 di Rumah Makan, 8 Orang Positif, 2 di Antaranya Meninggal

Regional
Merasa Diminta Mundur dari Sekolah Secara Halus, Pelajar Difabel Ini Menangis di Samping Ibunya

Merasa Diminta Mundur dari Sekolah Secara Halus, Pelajar Difabel Ini Menangis di Samping Ibunya

Regional
Sempat Jadi DPO, Kamerawan YouTuber Prank Daging Isi Sampah Tertangkap

Sempat Jadi DPO, Kamerawan YouTuber Prank Daging Isi Sampah Tertangkap

Regional
Air Sungai Citarum Berubah Jadi Hitam, Penyelidikan Dilakukan

Air Sungai Citarum Berubah Jadi Hitam, Penyelidikan Dilakukan

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 4 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 4 Agustus 2020

Regional
Kasus Kerangka Wanita Berjaket Merah di Wonogiri, Polisi Periksa 8 Saksi

Kasus Kerangka Wanita Berjaket Merah di Wonogiri, Polisi Periksa 8 Saksi

Regional
Untuk Perkuat Imunitas Tubuh, Wali Kota Salatiga Canangkan Gerakan Sehari Tanpa Nasi

Untuk Perkuat Imunitas Tubuh, Wali Kota Salatiga Canangkan Gerakan Sehari Tanpa Nasi

Regional
Dokter Senior Ahli Bedah di Medan Meninggal karena Covid-19

Dokter Senior Ahli Bedah di Medan Meninggal karena Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X