Keberatan Ada Sumbangan di Sekolah, Wali Murid "Posting" Dugaan Pungli di Facebook

Kompas.com - 28/07/2017, 11:33 WIB
Foto Permohonan sumbangan yang diunggah dari salah satu pemilik akun di Trenggalek Jawa Timur, dan beredar luas (28/07/2017) Screenshot FacebookFoto Permohonan sumbangan yang diunggah dari salah satu pemilik akun di Trenggalek Jawa Timur, dan beredar luas (28/07/2017)
|
EditorErlangga Djumena

TRENGGALEK,KOMPAS.com - Salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, diduga melakukan praktik pungutan liar ( pungli) terhadap para siswa mereka.

Dugaan tersebut muncul di salah satu pemilik akun media sosial,dan ramai diperbincangkan.

Akun atas nama Si lvana mengunggah sebuah foto yang isinya tentang rincian iuran berbagai kegiatan. Dari foto yang diunggah, tertera nilai total iuran sebesar Rp 216.00.

Pemilik akun atas nama Si Lvana ketika dikonfirmasi Kompas.com melalui laman media sosial, menyebutkan, pihaknya keberatan dengan adanya edaran tersebut.

"Saya adalah wali murid. Tapi untuk mengajukan keberatan atau protes,kami punya kekhawatiran yang nantinya akan berimbas terhadap anak kami. Saya yakin sebagian besar wali murid punya perasaan yang sama dengan saya," sebutnya. Jumat (28/07/2017).

Baca juga: Diduga Tarik Pungli, Kepala SMAN 27 Bandung Diamankan

Adapun rincian iuran itu adalah Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebesar Rp 12.000, Organisasi intra sekolah (OSIS) Rp 12.000, Pramuka Rp 24.000, Panitia hari besar nasional (PHBN) Rp 60.000, Peringatan hari besar Islam (PHBI) Rp 30.000, Peningkatan mutu Rp 48.000, dan latihan kurban Rp 30.000.

Iuran tersebut tertulis tanggal 25 Juli 2017 guna keperluan kegiatan di SMPN 1Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek.

Di akhir rincian yang ditulis dengan tulisan tangan di lembaran kertas buku tulis tersebut, paling lambat pembayaran tanggal 31 Juli 2017.

Dari unggahan foto tersebut muncul berbagai macam komentar.

Sementara itu, pihak Kepala SMPN 1 Pogalan Imam Asrori mengakui edaran tersebut. Namun, menurut dia, iuran tersebut tidak wajib.

"Karena waktu kegiatan yang sangat mepet, kami tidak sempat matur (bilang) ke orang tua masing-masing anak didik kami. Akhirnya kami sampaikan langsung ke anak didik kami. Pada dasarnya ini adalah sumbangan murni. Jadi apabila anak-anak tidak bayarpun tidak masalah, dan kami juga tidak mewajibkan untuk membayar," kata dia.

Menurut Imam, permintaan sumbangan tersebut terpaksa dilakukan karena kegiatan sekolah tidak boleh menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

"Bisa saja sumbangan ini kami batalkan,dan dampaknya mungkin akan banyak kegiatan yang tidak kita bisa dijalankan. Misal kegiatan peringatan hari besar nasional, kegiatan hari besar Islam, serta kegiatan sekolah lainnya," ucapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rumah dan 2 Mobil Milik Pejabat Daerah Terbakar, Sebulan Sebelumnya Diancam Akan Dicelakai

Rumah dan 2 Mobil Milik Pejabat Daerah Terbakar, Sebulan Sebelumnya Diancam Akan Dicelakai

Regional
Banjir di Purbalingga Capai 1 Meter, 250 Keluarga Bertahan di Rumah

Banjir di Purbalingga Capai 1 Meter, 250 Keluarga Bertahan di Rumah

Regional
Bali Catatkan Rekor Kasus Covid-19 Harian Tertinggi, Didominasi Klaster Politeknik

Bali Catatkan Rekor Kasus Covid-19 Harian Tertinggi, Didominasi Klaster Politeknik

Regional
Soal Isu Mundur Jika Terpilih Bupati Tanah Bumbu, Zairullah: Ini Fitnah

Soal Isu Mundur Jika Terpilih Bupati Tanah Bumbu, Zairullah: Ini Fitnah

Regional
Pemda DIY Minta NIK Guru MAN 22 Palmerah yang Positif Covid-19 Usai ke Yogya

Pemda DIY Minta NIK Guru MAN 22 Palmerah yang Positif Covid-19 Usai ke Yogya

Regional
Polisi Sebut Motif Pelaku Penembakan Mobil Alphard di Solo karena Masalah Bisnis

Polisi Sebut Motif Pelaku Penembakan Mobil Alphard di Solo karena Masalah Bisnis

Regional
Gunung Ile Lewotolok Terus Keluarkan Erupsi Disertai Suara Gemuruh

Gunung Ile Lewotolok Terus Keluarkan Erupsi Disertai Suara Gemuruh

Regional
'Jangan Sampai Rumah Sakit Sibuk Merawat, Masyarakat Tetap Berkumpul, Ini Bom Waktu'

"Jangan Sampai Rumah Sakit Sibuk Merawat, Masyarakat Tetap Berkumpul, Ini Bom Waktu"

Regional
Satu Lagi Guru SMPN 3 Jekulo Kudus Meninggal karena Corona, Total Jadi 4

Satu Lagi Guru SMPN 3 Jekulo Kudus Meninggal karena Corona, Total Jadi 4

Regional
Polisi Geledah Rumah Pelaku Penembakan Mobil Alphard, Amankan Satu Senpi Laras Panjang

Polisi Geledah Rumah Pelaku Penembakan Mobil Alphard, Amankan Satu Senpi Laras Panjang

Regional
Pemuda Ini Tewas Tersambar Petir Saat Berada di Kebun

Pemuda Ini Tewas Tersambar Petir Saat Berada di Kebun

Regional
Jadi Misteri 7 Tahun, Kasus Mayat Perempuan di Kebun Salak Terungkap dari Motor Sport

Jadi Misteri 7 Tahun, Kasus Mayat Perempuan di Kebun Salak Terungkap dari Motor Sport

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 3 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 3 Desember 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 3 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 3 Desember 2020

Regional
42 Pasien Covid-19 Tanpa Gejala di Gunungkidul Jalani Isolasi Mandiri di Rumah

42 Pasien Covid-19 Tanpa Gejala di Gunungkidul Jalani Isolasi Mandiri di Rumah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X