Dijerat UU ITE, Nuril Dituntut 6 Bulan Penjara

Kompas.com - 14/06/2017, 17:44 WIB
Nuril menangis saat berada di ruang tahanan PN Mataram, Rabu (31/5/2017). KOMPAS.com/ Karnia SeptiaNuril menangis saat berada di ruang tahanan PN Mataram, Rabu (31/5/2017).
|
EditorFarid Assifa

MATARAM, KOMPAS.com - Terdakwa kasus UU ITE, Baiq Nuril Maknun, dituntut jaksa penuntut umum (JPU) dengan tuntutan pidana enam bulan kurungan dikurangi masa tahanan dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Rabu (14/6/2017).

Dalam tuntutan tersebut, terdakwa Nuril dianggap telah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusialaan.

Baca juga: Nuril Jadi Tahanan Kota, Pengunjung Sidang Menangis Haru

Dia dianggap melanggar Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

"Dasar dari tuntutan itu ya fakta persidangan," kata Julianto, Jaksa Penuntut Umum kepada wartawan.

Terhadap tuntutan jaksa tersebut, penasihat hukum Nuril, Aziz Fauzi, mengaku sangat kecewa dengan tuntutan pidana yang ditujukan pada kliennya. Aziz menganggap tuntutan pidana ini tidak didasarkan pada hasil pembuktian di persidangan, yaitu fakta persidangan.

"Dalam hal ini fakta persidangan sudah sangat terang dan jelas menunjukan bahwa, hanya satu orang saksi saja yang menyatakan bahwa terdakwa ibu Nuril itu mentransmisikan atau mendistribusikan rekaman tersebut, yaitu saksi HIM," kata Aziz.

Aziz menilai, keterangan saksi HIM patut dicurigai sebagai keterangan tidak benar karena terus berubah-rubah. Mulai dari keterangan di BAP hingga keterangan selama proses persidangan.

Sementara saksi atau alat bukti yang mendukung terdakwa Nuril, ada tiga. Pertama saksi LAR di bawah sumpah menyatakan bahwa yang mentransmisikan dan mengirim file rekaman dari HP ke laptop adalah saksi HIM.

Aziz mengatakan, hal ini diperkuat dengan keterangan Teguh Afriyadi, saksi ahli dari Kemenkominfo yang menyatakan bahwa perbuatan Nuril tidak merumuskan memenuhi unsur 27 ayat (1) sebagaimana dalam dakwaan.

"Dikuatkan lagi dengan keterangan terdakwa," kata Aziz.

Aziz menganggap, tuntutan pidana terhadap Nuril terlalu dipaksakan. Menurutnya, keterangan seorang saksi saja tidak bisa dijadikan dasar untuk menjatuhkan pidana, baik putusan pidana maupun tuntutan pidana.

Baca juga: Kominfo: Ada Kesalahan Melihat Perkara dalam Kasus Nuril

Terkait tuntutan ini, terdakwa Nuril mengaku tidak terima karena dianggap telah terbukti mentransmisikan rekaman.

"Yang jelas kemarin bukan saya yang mentransmisikan, bukan saya yang memindahkan apalagi menyebarkan, itu bukan saya. Cuma itu saja tempatnya saya keberatan. Tuntutannya yang berapa bulan itu nggak terlalu saya pikirkan," tutup Nuril.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Regional
Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Regional
Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Regional
Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Regional
Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Regional
Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Regional
Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Regional
Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Regional
Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Regional
Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Regional
Pengemudi 'Speedboat' yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Pengemudi "Speedboat" yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Regional
15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

Regional
Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Regional
Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Regional
Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X