Mengapa Paus Sering Terdampar di Pantai Seperti di Cilacap?

Kompas.com - 08/06/2017, 18:55 WIB
KOMPAS.com/Iqbal Fahmi Warga menonton bangkai paus berukuran panjang 20 meter yang terdampar di Pantai Bunton, Kecamatan Adipala, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (7/6/2017).

CILACAP, KOMPAS.com - Fenomena terdamparnya sejumlah makhluk laut di sekitar pesisir Selatan Jawa Tengah bukan kali ini saja terjadi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, bangkai seekor paus biru juga pernah ditemukan terdampar di Pantai Widarapayung, Cilacap, pada tahun 2015.

Sementara itu, pada tahun 2016, sekelompok lumba-lumba gigi kasar (Steno bredanensis) juga pernah terdampar di Pantai Kemiren, Cilacap, Jawa Tengah, dalam kondisi lemah dengan beberapa luka di tubuhnya.

Petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng Seksi Konservasi II Pemalang-Cilacap, Teguh Arifianto, menjelaskan, ada beberapa faktor mengapa makhluk laut yang dikenal hidup di perairan dalam ini sampai terdampar di pesisir pantai.

Para ahli meyakini kebanyakan hewan laut yang terdampar ini sebelumya sakit atau sekarat sehingga terbawa arus ke pantai. Penyebabnya, bisa jadi karena adanya sampah atau limbah di laut yang meracuni hewan tersebut.

“Perubahan udara dan iklim di laut juga bisa membuat hewan laut seperti paus, lumba-lumba, dan sebagainya mencari tempat yang lelbih cocok,” katanya.

(Baca juga: Bangkai Paus Sepanjang 20 Meter Terdampar di Pantai Bunton Cilacap)

Teknologi komunikasi laut yang dimiliki oleh kapal, seperti suara dan sinyal (sonar) juga bisa mengganggu kemampuan navigasi paus. Akibatnya, mereka bisa mengalami disorientasi medan hingga tersesat ke perairan dangkal.

Teguh menuturkan, bentuk kontur dan karakteristik kedalaman sekitar pantai tertentu juga bisa jadi penyebab terdamparnya makhluk laut sehingga kejadian seperti ini sering terulang di pantai yang sama.

Faktor terakhir, lanjut Teguh, gejala alam seperti gunung meletus atau gempa yang menyebabkan undersea quake diperkirakan juga dapat membuat hewan laut terdampar.

“Seperti halnya hewan di darat, hewan laut juga memiliki insting besar terhadap ancaman bencana seaquake sehingga mereka akan berusaha menyelamatkan diri. atau bisa juga mereka terbawa arus akibat dari goncangan bumi di dalam laut tersebut,” ujarnya.

Di Cilacap sendiri, menurut Teguh, ada dua faktor yang diprediksi menyebabkan banyak makhluk laut tersesat dan terdampar di pesisir pantai. Faktor utama yakni lalu lintas perkapalan yang ramai terutama di Pelabuhan Tanjung Intan.

Dari data yang dihimpun, pada 2016, lalu lintas arus barang 5.418.748 ton terjadi di pelabuhan milik PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).

"Kapal besar yang dilengkapi sonar ini sedikit banyak pasti berpengaruh terhadap fenomena paus terdampar," katanya.

Sementara Koordinator Basarnas Pos SAR Cilacap Mulwahyono menjelaskan, kontur dasar laut Cilacap juga sering berubah sewaktu-waktu. Hal ini disebabkan karakteristik utama dasar laut Cilacap adalah pasir.

"Jadi berbeda dengan pantai karang di pesisir Timur, di Cilacap (kedalaman laut) sering berubah karena material pasir terbawa arus," ujarnya.

 



EditorCaroline Damanik

Terkini Lainnya


Close Ads X