Kekerasan Terhadap Perempuan Dimulai dari Pacaran

Kompas.com - 08/03/2017, 13:18 WIB
Ketua AJI PONTIANAK, Dian Lestari (kiri) dan Putri Indonesia Kalimantan Barat 2017, Pingkan Rilly Yunita (kanan) saat mengikuti aksi damai peringatan Hari Perempuan Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat (8/3/2017) KOMPAS.com/Yohanes Kurnia IrawanKetua AJI PONTIANAK, Dian Lestari (kiri) dan Putri Indonesia Kalimantan Barat 2017, Pingkan Rilly Yunita (kanan) saat mengikuti aksi damai peringatan Hari Perempuan Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat (8/3/2017)

PONTIANAK, KOMPAS.com - Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan, selain dimulai dari pernikahan di usia muda (pernikahan dini), juga dialami remaja perempuan pada masa pacaran.

"Anak-anak muda sekarang, terutama anak remaja perempuan juga banyak yang mengalami kekerasan dalam pacaran," ujar Reni, Direktur Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Kalimantan Barat dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia di bundaran Taman Digulis, Pontianak, Rabu (8/3/2017).

Semestinya hal tersebut bisa dicegah karena berteman atau berpacaran bukan saling menguasai. Tetapi bagaimana membangun hubungan atau relasi yang sama.

"Karena pada usia pacaran, terutama usia sekolah biasanya, adalah untuk membangun bagaimana mereka bisa saling menguatkan satu sama lainnya dalam hal pengetahuan dan keterampilan masing-masing," paparnya.

Namun, sambung Reni, saat ini kondisinya terbalik. Ketika para remaja berpacaran, mereka merasa saling menguasai. Ketika hubungan itu timpang, anak-anak remaja perempuan menjadi korban.

"Sebetulnya tren perkembangannya sudah terjadi lima tahun belakangan ini ya, di era globalisasi dan keterbukaan serta kemudahan anak-anak dalam menggunakan internet itu juga menjadi salah satu sumber kekerasan dalam pacaran itu meningkat," ujarnya.

Ketika remaja ini dengan mudahnya menggunakan internet, semua informasi, gambar, dan hal-hal yang mengarah pada seksualitas mudah didapat. Secara biologis, anak-anak pada usia tersebut memiliki rasa yang mengarah pada seksual lebih besar.

"Apakah itu hanya sekedar ingin mengetahui dan mencoba itu lebih besar. Makanya ketika mereka mendapatkan akses dan melihat keterbukaan itu, mereka kemudian mencontoh dan meniru. Ketika hal-hal ini terjadi, maka disitu akan terjadi relasi kuasa yang tidak seimbang," tuturnya.

Karena itu, anak-anak perempuan yang tidak paham dengan kondisi ini dan hanya menjadi obyek seksualitas remaja laki-laki, sangat berbahaya.

Sementara itu, Putri Indonesia Kalimantan Barat 2017, Pingkan Rilly Yunita mengatakan, sebagai perempuan, hak-hak yang dimiliki harus disuarakan dan sampaikan kepada pemerintah.

"Pemerintah juga bisa memayungi dengan hukum atau undang-undang agar perempuan di Indonesia tetap mendapatkan haknya," ucapnya.

Ia menambahkan, sebagai perempuan harus mandiri dan memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri, sehingga tidak terlalu bergantung pada laki-laki.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Regional
Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Regional
Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Regional
Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Regional
Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Regional
Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Regional
Empat Wilayah di Sumsel Bersiap 'New Normal', Palembang Tak Masuk

Empat Wilayah di Sumsel Bersiap "New Normal", Palembang Tak Masuk

Regional
Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Regional
Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Regional
Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Regional
Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Regional
3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

Regional
Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Regional
Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Regional
Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X