Kompas.com - 02/12/2016, 11:43 WIB
Sekelompok monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) sedang beristirahat di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, 25 September 2015, saat kemarau panjang mengancam persediaan air bagi satwa di kawasan konservasi itu. KOMPAS.com / RONNY ADOLOF BUOLSekelompok monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) sedang beristirahat di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, 25 September 2015, saat kemarau panjang mengancam persediaan air bagi satwa di kawasan konservasi itu.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

GORONTALO, KOMPAS.com – Perburuan liar mengancam keberadaan Macaca hecki di kawasan hutan Gorontalo.

Macaca hecki adalah jenis monyet yang mendiami kawasan Cagar Alam Tangale, Kabupaten Gorontalo, hingga daerah lengan utara terkecil Pulau Sulawesi, daerah Sindue, Donggala, yang masuk Sulawesi Tengah.

Perburuan Macaca hecki atau dalam bahasa lokal Gorontalo disebut ego atau yakis dilakukan secara aktif dan pasif.

"Sebagian petani yang memiliki lahan di tepi hutan memasang jerat untuk mengurangi ancaman monyet ini," kata Panji Ahmad Fauzan, Biodiversity Officer Burung Indonesia, Jumat (2/12/2016).

Ancaman lain yang berbahaya adalah perburuan aktif oleh pemburu. Para pemburu ini secara sengaja membuat jerat atau menembak satwa ini untuk diperdagangkan, baik hidup maupun sudah mati.

Perburuan aktif ini diperkirakan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang selalu ada permintaan.

Macaca hecki ini merupakan salah satu dari 7 jenis macaca yang mendiami Pulau Sulawesi.

Jenis lainnya adalah Macaca maura di Sulawesi Selatan, Macaca tonkeana di Sulawesi Tengah, Macaca nigrescens di Gorontalo hingga Sulawesi Utara bagian barat, Macaca nigra di Sulawesi Utara, Macaca ochreata di Sulawesi Tenggara dan Macaca brunnescens di Pulau Muna dan Buton.

Perburuan oleh sebagian petani dilakukan dalam bentuk pemasangan jerat dan kawat berlistrik oleh petani untuk melindungi tanaman pertaniannya.

"Konflik manusia dengan monyet di daerah ekoton tidak dapat dihindari, serbuan yakis sangat sulit dibendung, yakis menyukai tanaman bertekstur lembut dan berkalori, misalnya jagung lebih baik dibandingkan pakan alaminya," kata Panji.

Selain itu tanaman milik petani ini terkonsentrasi pada lokasi tertentu sehingga mudah bagi monyet yakis untuk menjangkaunya tanpa bersusah payah.

Status Macaca hecki ini masih vulnerable. Meski demikian, keberadaannya bisa saja semakin langka karena maraknya perburuan Macaca nigra di Sulawesi Utara.

"Jika Macaca nigra sudah sulit didapat, maka pemburu akan mengalihkan ke Macaca nigrescens dan Macaca hecki, tanda-tandanya sudah ada,” kata Panji.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Regional
Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Regional
Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Regional
Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.