Kisah Dewi Suryana: Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan di Singapura (1) Halaman 1 - Kompas.com

Kisah Dewi Suryana: Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan di Singapura (1)

Kompas.com - 20/09/2016, 11:26 WIB
DOK. PRIBADI Dewi Suryana dan kedua orangtuanya saat acara wisuda di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, 30 Juni 2016.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Dewi Suryana tidak menyangka bakal meraih predikat bergengsi dan menjadi lulusan S-1 tercepat di Fakultas Teknik Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Gadis asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu lulus pada 30 Juni 2016 dengan predikat terbaik First Class Honours dari jurusan Teknik Material. Prestasi ini tidak main-main mengingat hanya lima persen mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat prestisius itu.

Semua itu diselesaikannya dalam waktu tiga tahun, lebih cepat dibanding rata-rata mahasiswa pada umumnya yang menempuh studi selama empat tahun.

Di tiap semester, kelahiran 9 September 1995 itu sanggup melahap hingga 27 satuan kredit semester (SKS). Mahasiswa lain rata-rata hanya mengambil 18-20 SKS.

Di dua semester pertamanya, Dewi menekuni 10 modul kuliah per semester dan semuanya dituntaskan dengan baik.

Talenta dan kepintaran Dewi sudah muncul sejak menempuh studi di SMP Immanuel, Pontianak. Saat itu ia mewakili Indonesia di dua lomba sains internasional.

Prestasinya terbukti dengan raihan medali perak di International Junior Science Olympiad (IJSO) di Baku, Azerbaijan, tahun 2009.

Penggemar ilmu kimia itu juga memboyong medali perak dari kejuaraan bergengsi International Chemistry Olympiad (ICHO) di Washington DC, Amerika Serikat, tahun 2012.

Keluarga sederhana

Dewi tumbuh dalam keluarga sederhana di Pontianak. Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai seorang tukang elektronik serabutan dengan penghasilan tidak menentu.

Ibunya bekerja membantu orang lain berjualan baju atau dodol durian. Keluarga mereka menumpang di rumah milik saudara ayahnya.

Ketika bersekolah di SMP Immanuel Pontianak, Dewi tidak pernah dibekali uang saku oleh orangtuanya. Rasa lapar ia lampiaskan dengan cara belajar.

Hal-hal lain yang diterapkannya adalah rajin bertanya ke guru dan membaca buku-buku di perpustakaan.

"Saya mengerti bagaimana sulitnya kehidupan kami, saya juga hampir tidak pernah ke kantin, jadi saya selalu belajar di jam istirahat. Sesampai di rumah, baru saya makan masakan ibu," kata Dewi saat ditemui Kompas.com di Singapura, awal September lalu.

"Bekal saya hanyalah 2 liter air untuk menghilangkan lapar dan dahaga selama belajar," ujarnya dengan mata memerah menahan air mata mengingat masa-masa sulit itu.


Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho

Close Ads X