Beras Analog, Alternatif Pengganti Beras Padi

Kompas.com - 05/09/2016, 09:04 WIB
Siswa SMK di Kabupaten Kaur, mengelola tepung ubi (Mocaf) sebagai bahan baku beras analog KOMPAS.com/FIRMANSYAHSiswa SMK di Kabupaten Kaur, mengelola tepung ubi (Mocaf) sebagai bahan baku beras analog
|
EditorFarid Assifa

BOGOR, KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Slamet Budijanto mengatakan, Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas beras padi sebagai bahan pokok untuk dikonsumsi.

Padahal, Indonesia memiliki sumber karbohidrat yang sangat banyak. Namun sayangnya, masyarakat masih berpikir bahwa kebutuhan beras masih menjadi hal utama yang harus dipenuhi.

Sejak tahun 2012, Slamet bersama timnya melakukan penelitian untuk menciptakan bahan pangan pengganti beras padi. Alhasil, dirinya menemukan alternatif pengganti beras padi, yaitu beras analog.

Masyarakat banyak yang masih belum mengetahui manfaat dari beras analog. Beras ini berbahan baku seperti singkong, tepung sagu, jagung, umbi-umbian, dan beberapa sumber karbohidrat lain.

Sejatinya, beras analog diciptakan sebagai diversifikasi bahan pangan untuk mengurangi ketergantungan konsumsi terhadap beras padi.

"Alangkah tidak bijaksananya kita dikaruniai sumber daya, tapi masih tergantung sama satu komoditas. Dan, kalau itu digoyang sedikit saja, pasti ribut. Impor beras 500.000 ton saja ribut, tapi kita impor 7 juta ton gandum, nggak ada masalah apa-apa. Artinya apa? Kita masih tergantung pada beras," ucap Slamet seusai ditemui dalam acara HUT Kafe Taman Koleksi, di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Minggu (4/9/2016).

Slamet menjelaskan, saat ini masih sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk beralih mengonsumsi beras analog untuk kebutuhan sehari-hari. Dilihat dari segi kesehatan, beras ini sangat cocok untuk penderita diabetes dan yang sedang diet karena memiliki kandungan indeks glikemik yang umumnya lebih rendah dibandingkan beras padi.

"Tahun 2015 kita coba start up untuk komersilisasi. Kita baru punya mini plant (pabrik kecil). Memang, saat ini masih berat. Untuk menembus pasar nggak gampang. Penelitian kita terus kejar agar kebutuhan masyarakat bisa terjaga," jelas Slamet.

Sementara itu, Manajer Operasional Kafe Taman Koleksi Trilia Gunawan mengatakan, Kafe Taman Koleksi menjadi satu-satunya kafe di Bogor yang menyediakan menu dari olahan beras analog.

Kafe milik IPB ini memiliki sembilan varian menu yang menyajikan beras analog sebagai menu utamannya, antara lain nasi goreng analog jawa, nasi goreng analog bali, dan bubur analog.

"Kita mulai membuat makanan dari beras analog sejak dua tahun lalu. Alhamdulilah, respons dari masyarakat sejauh ini cukup postif," kata Trilia.

Ia melanjutkan, sebagai salah satu terobosan baru di dunia pangan, beras analog harus terus digaungkan. Ia melihat, beras ini bisa diolah menjadi menu makanan yang sehat dan lezat.

"Kita ingin sosialisasikan ada loh makanan sehat selain beras dari padi," tutur dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banten Catatkan Penambahan Kasus Tertinggi Covid-19, Disumbang dari Ponpes

Banten Catatkan Penambahan Kasus Tertinggi Covid-19, Disumbang dari Ponpes

Regional
Besok, Giliran Buruh Demo Tolak UU Cipta Kerja di Gedung DPRD Kalsel

Besok, Giliran Buruh Demo Tolak UU Cipta Kerja di Gedung DPRD Kalsel

Regional
Hasil Rapid Test Reaktif, 58 Napi di Lapas Perempuan Denpasar Diisolasi di Sel Khusus

Hasil Rapid Test Reaktif, 58 Napi di Lapas Perempuan Denpasar Diisolasi di Sel Khusus

Regional
Dilarang Ikut Demo Tolak UU Cipta Kerja, Mahasiswa UGM Kemping di Kampus

Dilarang Ikut Demo Tolak UU Cipta Kerja, Mahasiswa UGM Kemping di Kampus

Regional
Pasutri Spesialis Pembobol Jok Motor Ditangkap, Suami Ditembak Polisi

Pasutri Spesialis Pembobol Jok Motor Ditangkap, Suami Ditembak Polisi

Regional
Gegara Knalpot Racing, Warga Antarkampung di Papua Ribut, Satu Terluka Dianiaya

Gegara Knalpot Racing, Warga Antarkampung di Papua Ribut, Satu Terluka Dianiaya

Regional
Kecelakaan Beruntun di Jalan Jember-Lumajang, 2 Warga Tewas

Kecelakaan Beruntun di Jalan Jember-Lumajang, 2 Warga Tewas

Regional
Mahasiswa Kecewa Gubernur dan Wagub Kaltim Tak Bersikap Tolak UU Cipta Kerja

Mahasiswa Kecewa Gubernur dan Wagub Kaltim Tak Bersikap Tolak UU Cipta Kerja

Regional
Besok, Jenazah KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA Dikebumikan di Pemakaman Keluarga

Besok, Jenazah KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA Dikebumikan di Pemakaman Keluarga

Regional
Begini Respons Gugus Tugas Bone soal Emak-emak Berjoget di Pinggir Kolam Renang

Begini Respons Gugus Tugas Bone soal Emak-emak Berjoget di Pinggir Kolam Renang

Regional
Kronologi Tambang Batu Bara Ambles yang Tewaskan 11 Orang di Sumsel

Kronologi Tambang Batu Bara Ambles yang Tewaskan 11 Orang di Sumsel

Regional
Bawaslu Dalami Dugaan Campur Tangan Kadisdik Jatim di Pilkada Lamongan

Bawaslu Dalami Dugaan Campur Tangan Kadisdik Jatim di Pilkada Lamongan

Regional
Polisi Tangkap Pria yang Aniaya Bayi 5 Bulan, Anak Kandungnya Sendiri

Polisi Tangkap Pria yang Aniaya Bayi 5 Bulan, Anak Kandungnya Sendiri

Regional
Tambang Batu Bara Ilegal di Sumsel Ambles, 11 Orang Tewas

Tambang Batu Bara Ilegal di Sumsel Ambles, 11 Orang Tewas

Regional
Izin 5 Sektor Ini Harus Ditandatangani Bupati Jember, DPRD: Alasan Apa Pun Tidak Boleh

Izin 5 Sektor Ini Harus Ditandatangani Bupati Jember, DPRD: Alasan Apa Pun Tidak Boleh

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X