Gedung Tinggi di Yogyakarta Harus Sesuai SNI Gempa Bumi IV

Kompas.com - 27/05/2016, 10:11 WIB
Gedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006. KOMPAS/DAVY SUKAMTAGedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006.
|
EditorErlangga Djumena

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - 10 tahun pasca Peristiwa Gempa Bumi 27 Mei 2016, kini wajah Yogyakarta telah berubah. Bahkan sejak lima tahun terakhir, gedung-gedung bertingkat tumbuh subur di wilayah rawan gempa bumi ini.

Pada peristiwa gempa bumi yang terjadi selama 57 detik pada 2006 lalu, gedung perkantoran dan fasilitas umum yang berada di Bantul dan Kota Yogyakarta mengalami kerusakan.

Beberapa di antaranya, seperti Gedung Institut Seni Indonesia (ISI) di Jalan Parangtritis Bantul, Gedung Kampus STIE Kerjasama di Jalan Parangtritis Bantul, GOR Amongrogo di Kota Yogyakarta dan termasuk bangunan sekolahan di Bantul.

Kini, pasca gempa berkekuatan 5,9 Skala Richer yang terjadi di DIY dan Jawa Tengah, Yogyakarta telah berbenah. Pembangunan terus berjalan dan muncul wajah baru Yogyakarta berupa bangunan-bangunan bertingkat.

"Sejak sekitar lima tahun lalu wajah Yogya berubah dengan munculnya gedung-gedung bertingkat," ujar Kepala Seksi Kedaruratan BPBD DIY, Danang Samsu saat ditemui Kompas.com, akhir April 2016.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY yang dikumpulkan dari berbagai sumber, bangunan gedung dengan ketinggian 7-11 lantai di Kota Gudeg ini mencapai 42 gedung, yang dalam proses pembangunan 25, dan yang akan dibangunan sebanyak 27.

"Bahkan saat ini di Yogyakarta yang sampai 18 lantai. Kalau gedung lima lantai memang sangat banyak,” ucapnya.

Munculnya gedung-gedung tinggi, sedikit banyak menuai kekhawatiran. Sebab, wilayah DIY terdapat 12 potensi bencana, yakni Banjir, Epidemi dan wabah penyakit , bencana sosial, gelombang tinggi dan abrasi, tsunami, gagal teknologi, kekeringan, kebakaran, letusan Gunung Merapi, kekeringan , tanah longsor dan Gempa Bumi.

Dilihat dari 12 potensi bencana khususnya Gempa Bumi, bangunan yang berdiri di wilayah rawan harus memiliki standar khusus. Terlebih dengan ketinggian belasan lantai sudah seharusnya memiliki standar mengantisipasinya agar bangunan tetap kuat ketika terjadi guncangan gempa.

"Standar konstruksi bangunan di wilayah rawan gempa itu sudah keharusan, misalnya bangunan harus kuat dan lentur ketika ada guncangan,” ucapnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

 Pinjami Uang Rp 145 Juta, Yulia Dibunuh Rekan Bisnis Secara Sadis

Pinjami Uang Rp 145 Juta, Yulia Dibunuh Rekan Bisnis Secara Sadis

Regional
2 Satpam Dipenjara karena Tak Sengaja Bunuh Terduga Pencuri yang Masuk Obyek Vital Negara

2 Satpam Dipenjara karena Tak Sengaja Bunuh Terduga Pencuri yang Masuk Obyek Vital Negara

Regional
8 Orang Mengungsi karena Rumah Rusak Diguncang Gempa Pangandaran M 5,9

8 Orang Mengungsi karena Rumah Rusak Diguncang Gempa Pangandaran M 5,9

Regional
Keluarga Sengaja Tak Beritahu Pernikahan Siswi SMP ke KUA, Kadus: Takut Dipisahkan

Keluarga Sengaja Tak Beritahu Pernikahan Siswi SMP ke KUA, Kadus: Takut Dipisahkan

Regional
Libur Panjang di Tengah Pandemi, Ini Persiapan Sejumlah Daerah

Libur Panjang di Tengah Pandemi, Ini Persiapan Sejumlah Daerah

Regional
Pestisida Palsu Marak di Indonesia, Rugikan Petani dan Produsen

Pestisida Palsu Marak di Indonesia, Rugikan Petani dan Produsen

Regional
'Saya Bingung Mau Ngapain, 4 Bulan Tak Sekolah, Tak Punya HP, Saya Mau Ketika Dia Ajak Nikah' 

"Saya Bingung Mau Ngapain, 4 Bulan Tak Sekolah, Tak Punya HP, Saya Mau Ketika Dia Ajak Nikah" 

Regional
Asyik Berswafoto di Jembatan Layang, Seorang Pemuda Tewas Terjatuh

Asyik Berswafoto di Jembatan Layang, Seorang Pemuda Tewas Terjatuh

Regional
Tak Sanggup Hidup Susah, Siswi SMP di Lombok Memutuskan Nikahi Remaja 17 Tahun

Tak Sanggup Hidup Susah, Siswi SMP di Lombok Memutuskan Nikahi Remaja 17 Tahun

Regional
Dampak Gempa M 5,9 Pangandaran, Puluhan Rumah di Tasik, Garut, hingga Ciamis Rusak

Dampak Gempa M 5,9 Pangandaran, Puluhan Rumah di Tasik, Garut, hingga Ciamis Rusak

Regional
Reaksi Keras Kapolda Riau Menyikapi Oknum Anggotanya Jadi Kurir Sabu 16 Kg

Reaksi Keras Kapolda Riau Menyikapi Oknum Anggotanya Jadi Kurir Sabu 16 Kg

Regional
5 Demonstran Penolak Omnibus Law Jadi Tersangka Perusakan Kantor DPRD Jember

5 Demonstran Penolak Omnibus Law Jadi Tersangka Perusakan Kantor DPRD Jember

Regional
Dulu Perwira Polisi, Kini Dipecat dan Disebut Pengkhianat Bangsa

Dulu Perwira Polisi, Kini Dipecat dan Disebut Pengkhianat Bangsa

Regional
10 Pegawai PLN Ponorogo Positif Covid-19 Setelah Menerima Tamu dari Surabaya

10 Pegawai PLN Ponorogo Positif Covid-19 Setelah Menerima Tamu dari Surabaya

Regional
Cegah Penularan Covid-19 di Pesantren dengan Protokol Kesehatan Ketat

Cegah Penularan Covid-19 di Pesantren dengan Protokol Kesehatan Ketat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X