1 dari 3 Bayi yang Dibungkus Plastik Kresek Akhirnya Meninggal

Kompas.com - 05/10/2015, 14:29 WIB
Tiga bayi kembar anak dari Titi Hidayati warga Kabupaten Mukomuko, Bengkulu dimasukkan dalam kresek warna hitam sebagai pengganti inkubator kompas.com/FirmansyahTiga bayi kembar anak dari Titi Hidayati warga Kabupaten Mukomuko, Bengkulu dimasukkan dalam kresek warna hitam sebagai pengganti inkubator
|
EditorGlori K. Wadrianto
BENGKULU, KOMPAS.com — Satu dari tiga bayi kembar anak Titi Hidayati, yang saat lahir dibungkus dengan kresek hitam karena tak ada inkubator, akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (3/10/2015) di RSUD M Yunus, Bengkulu.

"Iya, bayi kedua meninggal dunia, jenis kelamin perempuan, karena kondisinya prematur dan beratnya hanya satu kilogram. Ia meninggal saat dirujuk dari Kabupaten Mukomuko ke Kota Bengkulu. Saat tiba di RSUD M Yunus, ia telah meninggal," kata Lela Sartika, bidan yang menolong persalinan, Senin (5/10/2015).

Saat diketahui meninggal dunia, kata Lela, bayi itu langsung dibawa pulang ke rumah orangtuanya di Desa Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, untuk dikebumikan.

Sebelumnya diberitakan, Titi Hidayati melahirkan tiga bayi kembar pada Jumat (2/10/2015) sekitar pukul 21.00 WIB di Desa Sungai Rumbai. Tindakan membungkus dengan kresek, menurut Lela, dilakukan sebagai alternatif pengganti inkubator. (Baca: Tak Ada Inkubator, Bidan Bungkus Tiga Bayi Kembar dengan Kresek)

"Ini metode yang diajarkan dokter spesialis anak kepada kami jika ada bayi lahir dan membutuhkan inkubator. Inkubator tak tersedia," kata Lela. 

Lela menceritakan, tidak adanya inkubator di puskesmas desa mendorongnya melakukan tindakan tersebut. Tujuannya agar bayi tetap dalam kondisi stabil karena, jika hanya mengandalkan kain, hal tersebut tidak mencukupi.

"Ketiga bayi itu saya bungkus dengan kresek, tetapi kepalanya tidak, lalu diapit oleh botol dot bayi yang berisi air hangat. Ini dilakukan agar bayi tetap normal dan sehat," kata dia.

Ketiga bayi kembar itu sempat dibawa ke RSUD Kabupaten Mukomuko yang berjarak 80 kilometer dari tempat kelahiran bayi menggunakan kendaraan roda empat. Namun karena kondisi kesehatan yang terus memburuk, ketiga bayi kembar tersebut dirujuk ke RSUD M Yunus di Kota Bengkulu.

Lela berharap, pemerintah menyediakan inkubator di setiap puskemas desa agar kejadian seperti ini tidak terulang, dan dapat menyelamatkan bayi yang lahir prematur.

Foto ketiga bayi yang dibalut plastik warna hitam karena ketiadaan inkubator ini mendapat pujian dari banyak pihak di dunia maya. Pujian diberikan karena langkah antisipatif dan kecerdasan Lela Sartika dalam melakukan tindakan penyelamatan tahap awal.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X