Nenek Fatimah, Potret Buram Kemiskinan di Aceh

Kompas.com - 26/09/2015, 23:58 WIB
Fatimah, wanita renta berada di  rumahnya Desa Paya Demam Sa, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Sabtu (26/9/2015). Dia tinggal bersama tiga cucunya di rumah kayu yang sudah penuh lubang dan nyaris rubuh. KOMPAS.COM/MASRIADIFatimah, wanita renta berada di rumahnya Desa Paya Demam Sa, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Sabtu (26/9/2015). Dia tinggal bersama tiga cucunya di rumah kayu yang sudah penuh lubang dan nyaris rubuh.
|
EditorErvan Hardoko


LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com - Perempuan renta itu sedang membersihkan rumahnya, Sabtu (26/9/2015) sore, sambil ditemani seorang cucunya. Sesekali perempuan tua melihat ke atap kediamannya yang miring dan nyaris rubuh ke tanah.

Itulah kondisi kediaman Fatimah, warga Desa Paya Demam Sa, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Kedua cucunya, Zamzami dan Zulkarinaini, kini duduk di bangku sekolah dasar. Saban hari perempuan uzur itu harus merogoh kocek sebesar Rp 5.000 untuk uang jajan kedua cucunya.

Sedangkan cucu tertuanya, Saifullah kini mondok di salah satu pesantren di Kabupaten Aceh Timur. Demi pendidikan agama yang baik untuk cucunya, Fatimah rela mengeluargkan uang Rp 300.000 per bulan untuk biaya pendidikan Saifullah.

“Ketiga cucu itu saya yang pelihara. Ibu mereka menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia, dia juga kesulitan duit di sana. Jadi jarang kirim uang,” kata Fatimah.

Karena kondisi itulah, membuat Fatimah yang meski usianya hampir mendekati 70 tahun, tetap berjuang mengais rezeki. Dia mencari nafkah dengan cara mencuci pakaian para tetangga. Di musim tanam dia mendapat upah dari menanam padi, lalu di musim panen, dia mengambil upah untuk memotong padi.

Pendapatannya dari pekerjaan-pekerjaan itu tak seberapa. Tak jarang Fatimah harus mengurangi jatah makan dirinya dan kedua cucunya. Kerap kali mereka hanya makan satu kali sehari agar raskin yang dibelinya bisa dihemat. Hidup serba kesulitan itu membuat Nek Fatimah tak bisa memperbaiki rumah yang diwariskan suaminya 25 tahun lalu.

Rumah berkontruksi kayu dengan ukuran 6x3 meter itu sudah berlubang nyaris di seluruh bagian dindingnya. Jika musim hujan, mereka bergulat melawan dinginnya udara yang menerobos rumah tanpa ampun.

“Saya pernah menjual beras Raskin dengan harga Rp 150.000 dan uang itu saya serahkan ke orang yang katanya bisa membuat proposal bantuan rumah dari pemerintah. Sampai sekarang bantuan itu tak pernah ada. Rumah itu entah berapa ratus kali sudah difoto katanya untuk diberi bantuan, tapi sampai hari ini kami masih hidup di bawah rumah ini,” ujarnya pilu.

Fatimah tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Nafasnya memburu menahan tangis yang seakan hendak meledak setiap saat. Kepala Desa Paya Demam Sa, Abdul Wahab menyebutkan sebagai dia sudah mengusulkan permohonan bantuan rumah untuk warga miskin di desa itu termasuk untuk Fatimah. Namun, hingga kini rumah itu tak kunjung diperbaiki.

“Kami terus berusaha, semoga suatu hari warga miskin benar-benar mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar Wahab.

Fatimah adalah contoh potret kemiskinan Aceh. Padahal provinsi di ujung Sumatera itu tahun lalu mengesahkan APBD sebesar Rp 13,3 triliun. Jumlah angka yang besar untuk sebuah provinsi dengan "hanya" berpenduduk 5,3 juta jiwa.

Sayangnya, dengan uang sebesar itu hingga kini Fatimah dan banyak warga miskin Aceh tak mendapatkan keuntungan apapun. Alhasil, Fatimah kini hanya bisa membayangkan dan terus berharap satu hari nanti, uang pemerintah mampir di desanya dan membuat dia bisa mendapatkan  hunian yang layak.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Undip Akui Ada Serangan yang Mengakibatkan Bocornya Data Mahasiswa

Undip Akui Ada Serangan yang Mengakibatkan Bocornya Data Mahasiswa

Regional
Cerita Satgas Karawang Terima Laporan Warga Tak Dapat Bansos, Setelah Dicek Rumahnya Mewah

Cerita Satgas Karawang Terima Laporan Warga Tak Dapat Bansos, Setelah Dicek Rumahnya Mewah

Regional
PLN Minta Maaf 3 Kabupaten di Aceh Mati Listrik Mendadak, akibat Suplai Gas Terganggu

PLN Minta Maaf 3 Kabupaten di Aceh Mati Listrik Mendadak, akibat Suplai Gas Terganggu

Regional
Ditabrak Pemuda Mabuk Miras, Pegawai Kejaksaan Tinggi NTT Tewas

Ditabrak Pemuda Mabuk Miras, Pegawai Kejaksaan Tinggi NTT Tewas

Regional
Dedi Mulyadi Upayakan Kasus Anak Gugat Bapak Rp 3 Miliar Selesai di Luar Sidang

Dedi Mulyadi Upayakan Kasus Anak Gugat Bapak Rp 3 Miliar Selesai di Luar Sidang

Regional
PMI Pekanbaru Layani Donor Konvalesen dari Penyintas Covid-19

PMI Pekanbaru Layani Donor Konvalesen dari Penyintas Covid-19

Regional
Unhas dan UNM Bebaskan Biaya Kuliah bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Sulbar

Unhas dan UNM Bebaskan Biaya Kuliah bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Sulbar

Regional
Januari Belum Rampung, 40 Bencana Alam Terjadi di Jabar, Hampir 100.000 Jiwa Terdampak

Januari Belum Rampung, 40 Bencana Alam Terjadi di Jabar, Hampir 100.000 Jiwa Terdampak

Regional
Viral, Video TikTok Goyang Perempuan Berdaster di Tugu Pangkalpinang

Viral, Video TikTok Goyang Perempuan Berdaster di Tugu Pangkalpinang

Regional
Jenazah Rizki dan Rosi Korban Sriwijaya SJ 182 Tiba di Pangkalpinang dan Diterima Gubernur

Jenazah Rizki dan Rosi Korban Sriwijaya SJ 182 Tiba di Pangkalpinang dan Diterima Gubernur

Regional
Derita Kakek Koswara Digugat Rp 3 Miliar oleh Anak Kandung: Dia Pelototi Saya Seperti Bukan Orangtuanya

Derita Kakek Koswara Digugat Rp 3 Miliar oleh Anak Kandung: Dia Pelototi Saya Seperti Bukan Orangtuanya

Regional
Ruang Isolasi di RSUP Kota Madiun Penuh, Sementara Tak Terima Pasien Covid-19, Satu Bangsal Ditutup

Ruang Isolasi di RSUP Kota Madiun Penuh, Sementara Tak Terima Pasien Covid-19, Satu Bangsal Ditutup

Regional
Fakta Baru Kasus Mayor Sugeng yang Dikabarkan Meninggal Usai Divaksin, Pelaku Hoaks Tersebar di Sejumlah Tempat

Fakta Baru Kasus Mayor Sugeng yang Dikabarkan Meninggal Usai Divaksin, Pelaku Hoaks Tersebar di Sejumlah Tempat

Regional
BPBD Gunungkidul Sebut Tak Ada Kerusakan akibat Gempa Magnitudo 5,0

BPBD Gunungkidul Sebut Tak Ada Kerusakan akibat Gempa Magnitudo 5,0

Regional
Awal Januari 2021, Sebanyak 10 TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Awal Januari 2021, Sebanyak 10 TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X