Kompas.com - 26/05/2015, 12:36 WIB
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberikan penjelasan kepada beberapa menteri tentang bola batu yang akan digrafir sesuai dengan nama 109 negara peserta Konferensi Asia Afrika di depan Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/3/2015). Kota Bandung menjadi salah satu tuan rumah peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, 18-24 April 2015. KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANGWali Kota Bandung Ridwan Kamil memberikan penjelasan kepada beberapa menteri tentang bola batu yang akan digrafir sesuai dengan nama 109 negara peserta Konferensi Asia Afrika di depan Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/3/2015). Kota Bandung menjadi salah satu tuan rumah peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, 18-24 April 2015.
|
EditorGlori K. Wadrianto
BANDUNG, KOMPAS.com — Alumnus University of California, Berkeley, Amerika Serikat, yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, menyesalkan adanya praktik kejahatan berupa jual beli ijazah palsu.

Emil—sapaan akrab Ridwan Kamil—merasa tidak adil jika hanya dengan uang orang bisa memperoleh gelar tanpa harus usaha. Dia menceritakan bagaimana getirnya bertahan hidup di negeri orang hanya untuk memperoleh gelar master.

"Itu zaman susah dulu. Jadi, saya diterima di lima sekolah terbaik di AS. Dari lima sekolah terbaik, hanya Berkeley yang ngasih beasiswa," aku Emil di Bandung, Selasa (26/5/2015).

Saat diterima dan masuk di kampus Berkeley pada tahun 1997, Emil sudah menikahi wanita bernama Atalia. Keduanya pun nekat berpisah sementara demi sebuah impian untuk mendapatkan gelar di salah satu kampus ternama di dunia itu.

"Akhirnya saya pilih Berkeley. Berat badan saya waktu itu cuma 65 kg. Setiap hari makan hanya chinese food yang harganya cuma 1 dollar AS," tutur dia.

Selama dua tahun bersekolah, Emil mengaku bertahan hidup dengan cara ikut bekerja sebagai perancang bangunan di dinas tata kota wilayah Berkeley. Pada saat lulus tahun 1999, dia mengaku sedih karena tidak ada yang menemaninya pada hari wisuda. "Pas wisuda, yang lain bawa anak, istri, keluarga, sedangkan saya sendirian," ucap dia.

Tidak sia-sia perjuangan Emil di Amerika Serikat. Dia membuktikan hasil jerih payah dengan membawa pulang nilai IPK 3,9, jauh lebih besar dibanding ketika lulus di Institut Teknologi Bandung.

Emil memang tidak bersekolah sendiri di AS. Mantan Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, adalah rekan seangkatannya. "Tesis saya tentang transportasi di Singapura. Nilai saya A dengan IPK 3,9. ITB mah pelit IPK saya cuma 2,7. Lebih gampang sekolah di Amerika," kata dia sambil tersenyum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Regional
8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

Regional
Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.