Mahasiswa Papua Gelar Ritual Bakar Batu di Kaki Gunung Merapi

Kompas.com - 14/04/2015, 23:19 WIB
Beberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu KOMPAS.com/ wijaya kusumaBeberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu
|
EditorFarid Assifa
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kaki Gunung Merapi menjadi saksi bertemunya dua tradisi dan kebudayaan masyarakat yang berbeda. Namun atas nama sesama anak bangsa, perbedaan itu tak menjadi penghalang untuk keduanya saling bergandengan tangan, tersenyum dan bersaudara.

Momentum istimewa itu terjadi di Dusun Sumberan, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Pada Selasa (14/4/2015) sore, dusun yang terletak di kaki Gunung Merapi ini mendadak dipenuhi lengkingan teriakan-teriakan khas masyarakat Papua. Sambil berteriak-teriak, puluhan pemuda dari Papua menari-nari sambil mengelilingi kampung di Dusun Sumberan.

Sambil menyusuri jalan, para pemuda yang merupakan mahasiswa Stiper Jayapura, Papua, ini mengumpulkan dahan-dahan serta rumput dan bebatuan. Setelah itu, mereka kemudian berjalan menuju sebuah tanah lapang.

Dahan, batu dan kayu yang mereka dapatkan lalu disusun dan dibakar. Setelah api menyala, mereka pun bernyanyi dan menari khas Papua. Seakan tak ingin ketinggalan, warga dusun yang mengenakan baju adat Jawa turut menari bersama para mahasiswa Papua.

Setelah batu berubah warna menjadi merah, mereka lalu membuat lubang dan menempatkan daun-daunan sebagi alas. Batu yang panas itu pun diletakkan di dedaunan itu, lalu diikuti dengan ketela serta daging ayam. Setelah itu, ketela dan daging ayam tersebut ditutup kembali dengan daun-daunan.

"Ini acara bakar batu, tradisi masyarakat Papua," jelas Haminus Kogoya, koordinator magang mahasiswa Stiper Jayapura, Papua, saat ditemui Kompas.com di sela-sela acara, Selasa (14/4/2015).

Syukuran

Acara bakar batu ini digelar sebagai ucapan syukur atas suksesnya para mahasiswa magang di Dusun Sumberan. Selain ucapan syukur, acara bakar batu juga sebagai upacara perpisahan dengan warga desa yang selama 16 hari telah menerima mahasiswa asal Papua ini.

"Ini acara syukur dan ucapan perpisahan. Kami telah diterima dan menjadi saudara warga di sini. Kami selesai tanggal 15 April besok," kata Haminus.

Menurut Haminus, selama 16 hari para mahasiswa dari Papua yang berjumlah 151 dapat merasakan masakan khas warga kaki Gunung Merapi ini. Karenanya, dalam acara bakar batu ini, para mahasiswa ingin melayani warga dengan membuat makanan yang dimasak dengan cara adat Papua.

“Penghormatan kami terhadap warga di sini, bakar batu. Kami pasti akan merindukan keluarga di sini," ucapnya.

Sekitar satu jam kemudian, semua tumpukan daun dan batu-batuan dibuka. Tampak ubi dan daging ayam serta sayuran sudah matang. Para mahasiswa Stiper Jayapura pun mulai menyuguhkan makanan tersebut kepada para warga. Tampak beberapa warga tak sabar ingin mencicipi masakan khas Papua itu.

"Ini kita suguhkan dan nanti makan bersama dengan warga," pungkas Haminus.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X