Kompas.com - 13/12/2014, 20:34 WIB
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com —
Penemuan fosil tulang rahang bawah berukuran besar oleh warga Desa Semedo, Kedungbanteng, Tegal, Jawa Tengah, Juni 2014, mencengangkan para peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Hasil identifikasi dan analisis morfometris dua gigi di rahang itu menunjukkan, temuan diduga kuat adalah fosil kera besar atau kera raksasa (Gigantopithecus blacki). Penemuan fenomenal ini mematahkan konsep para ahli paleontologi yang menyimpulkan bahwa habitat Gigantopithecus hanya berada di sekitar Tiongkok, Vietnam, dan India.

Temuan ini memang luar biasa. Selama ini, kera raksasa selalu ditemukan di kawasan Asia daratan dengan garis lintang tinggi atau dataran tinggi yang dingin, sementara Indonesia merupakan daerah tropis yang cenderung panas.

Menurut peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Sofwan Noerwidi, temuan itu menandakan, saat kera raksasa hidup di Jawa, kondisi daerah ini lebih dingin daripada sekarang. Pada zaman es, permukaan air laut di seluruh dunia mengalami penurunan karena tertarik ke kutub.

”Saat itu, paparan Sunda di bagian barat Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan, menyambung dengan Asia daratan. Saat penurunan air laut inilah terjadi migrasi fauna dari Asia daratan dan kemungkinan besar primata ini bermigrasi ke Semedo,” papar Sofwan, Rabu (10/12/2014).

Diperkirakan, pada masa pendinginan global, 1 juta-700.000 tahun lalu, lingkungan Semedo nyaman sebagai tempat tinggal kera raksasa dan manusia purba. Perkiraan ini beralasan karena pada 2011 lalu di Semedo juga ditemukan fosil manusia purba.

Lebih dari 3 meter

Menurut Kepala Balar Yogyakarta Siswanto, kera ini disebut raksasa karena tingginya mencapai lebih dari 3 meter atau 9-12 kaki. Dilihat dari konteksnya, fosil kera raksasa ini ditemukan pada lapisan tanah berumur sekitar satu juta tahun lalu. Masa kehidupan kera ini ternyata sama dengan kera raksasa di Tiongkok, India, dan Vietnam.

Kera raksasa ini tergolong binatang daratan. Para ahli punya dua versi dugaan terkait bentuk kera ini, yaitu seperti gorila atau orangutan. Melihat tulang rahang dan giginya yang sebesar dua kali lipat dari rahang dan gigi manusia purba, kera ini termasuk superfamily Hominoidea atau kera besar.

Ukuran gigi kera raksasa dari Semedo ini 16-18 x 18-22 milimeter. ”Perubahan iklim pada masa lalu mengakibatkan kera besar ini kehilangan habitat sehingga tak tersisa lagi populasinya di Jawa dan Indonesia pada umumnya,” ujar Sofwan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pertama di Indonesia, Pemkot Cilegon Gandeng PLN Olah Sampah Kota untuk Gantikan Batu Bara

Pertama di Indonesia, Pemkot Cilegon Gandeng PLN Olah Sampah Kota untuk Gantikan Batu Bara

Regional
Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Regional
Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Regional
Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Regional
Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Regional
Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Regional
Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Regional
Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Regional
Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Regional
Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Regional
Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Regional
Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Regional
Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Regional
Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Regional
Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.