Sumur Kering, Warga Jogja Aksi Mandi Tanah di Depan Hotel

Kompas.com - 06/08/2014, 16:22 WIB
Dodok Putra Bangsa (37), warga Kampung Miliran, Kota Yogyakarta, melakukan aksi teatrikal di depan Fave Hotel, Yogyakarta, Rabu (6/8). Aksi itu untuk menyuarakan keringnya sumur warga Miliran yang diduga terkait dengan keberadaan Fave Hotel di wilayah itu. Kompas/Haris FirdausDodok Putra Bangsa (37), warga Kampung Miliran, Kota Yogyakarta, melakukan aksi teatrikal di depan Fave Hotel, Yogyakarta, Rabu (6/8). Aksi itu untuk menyuarakan keringnya sumur warga Miliran yang diduga terkait dengan keberadaan Fave Hotel di wilayah itu.
|
EditorGlori K. Wadrianto
YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Warga Kampung Miliran, Yogyakarta, mengeluhkan kekeringan yang melanda sumur-sumur milik mereka sejak dua bulan lalu. Warga menduga kekeringan itu berkait dengan keberadaan sebuah hotel di sekitar pemukiman mereka yang juga menggunakan sumur untuk memenuhi kebutuhan airnya.

Pada Rabu (6/8/2014) pagi, seorang warga Miliran, Dodok Putra Bangsa (37), menggelar aksi teatrikal di depan Fave Hotel di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta.

Dodok menggelar aksi mandi dengan tanah untuk menggambarkan kekeringan yang terjadi di sumur-sumur warga Miliran, Kelurahan Mujamuju, Kecamatan Umbulharjo. “Selama puluhan tahun, sumur warga Miliran tidak pernah kekeringan, termasuk saat kemarau panjang. Namun, sejak dua bulan lalu, sumur kami kering. Kami menduga ini ada kaitannya dengan aktivitas Fave Hotel di sini,” kata Dodok seusai menjalankan aksinya.

Dodok menyatakan, kekeringan terjadi pada sekitar 50 sumur, baik sumur timba maupun sumur yang memakai mesin. Menurut dia, kekeringan tersebut tidak wajar karena Miliran dikenal sebagai wilayah yang memiliki cadangan air tanah yang melimpah.

“Saya sudah mencoba bicara dengan manajemen hotel tetapi belum ada respon yang memadai. Makanya saya terpaksa menggelar aksi teatrikal ini,” ujar dia.

Penuhi perizinan
Manajer Fave Hotel Kusumanegara, Yosi Arivianto, menuturkan, hotelnya memiliki satu sumur air tanah dengan kedalaman 80 meter. Pembangunan sumur itu tahun 2012 sudah mendapat izin dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta.

“Penggunaan air tanah oleh hotel kami sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun kami siap bertemu dengan warga dan BLH untuk mencari solusi terkait masalah ini,” kata dia.

Kepala Subbidang Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan BLH Yogyakarta Very Tri Jatmiko mengatakan, kekeringan sumur warga kemungkinan tak berkait dengan aktivitas Fave Hotel. Sebab, kedalaman sumur warga masih berada di lapisan tanah dangkal, yakni kurang dari 40 meter.

Adapun sumur milik Fave Hotel yang sedalam 80 meter sudah masuk lapisan tanah dalam. “Penyedotan air dari lapisan tanah dalam tidak berpengaruh pada lapisan tanah dangkal. Jadi kekeringan itu mungkin karena kemarau atau banyaknya warga yang mengambil air dari lapisan tanah dangkal,” kata Very. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X