Menanti Realisasi Redistribusi Tanah Negara

Kompas.com - 19/03/2014, 04:55 WIB
Ilustrasi pertanian Kompas/Mohammad Hilmi FaiqIlustrasi pertanian
|
EditorPalupi Annisa Auliani
SEMARANG, KOMPAS.com — Ribuan petani di Semarang, Jawa Tengah, menuntut redistribusi tanah negara seluas 192 hektar di lereng Gunung Ungaran. Mereka tergabung dalam Paguyuban Petani Penggarap Tanah Rakyat (P3TR).

Ketua P3TR Sutrisno mengatakan, tuntutan ini sudah diperjuangkan sejak 2000. Mereka berupaya mendapatkan hak guna usaha (HGU) PT Sinar Kartasura seluas 192 hektar yang ada di wilayah Bandungan itu.

"Tanah itu dikuasai petani untuk dijadikan lahan bercocok tanam," kata Sutrisno, Senin (17/3/2014). Namun, upaya itu terbentur belum adanya rekomendasi dari Bupati Semarang, sebagai syarat untuk mengajukan permohonan ke Badan Pertanahan Nasional.

Sebagai itikad baik untuk bisa mendapatkan lahan garapan secara sah, kata Sutrisno, para petani tak pernah lalai membayar pajak. "Bahkan nilai pajaknya lebih besar daripada sebelum dikelola warga. Kami sudah meminta rekomendasi kepada Bupati untuk bisa mendapatkan sertifikat. Tetapi hingga saat ini belum bisa turun,” imbuh dia.

Sementara itu, Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Semarang Joko Suprapto mengatakan, pada 2014 sudah direncanakan redistribusi tanah negara di kawasan itu. Menurut dia, redistribusi akan dilakukan atas 380 bidang tanah dan hanya dibagikan kepada petani sehingga akan dimanfaatkan untuk bertani.

Namun, kata Joko, redistribusi tanah bukan proses mudah dan segala persyaratan harus dipenuhi. “Nanti para petani itu diberi tanah dan dilengkapi hak (sertifikat). Namun persyaratannya sangat ketat untuk dilengkapi. Salah satu syaratnya adalah status di KTP-nya petani dan tanah itu dikuasai minimal lima tahun," papar Joko.

Selain itu, lanjut Joko, tanah itu pun harus dipastikan akan digunakan optimal untuk meningkatkan kesejahteraan petani. "Kalau (statusnya) pegawai, tidak boleh. Harus petani karena tujuan membagi tanah itu untuk kesejahteraan (petani)," kata dia.

Joko menambahkan, program redistribusi tanah di Kabupaten Semarang berlangsung sejak 2004 hingga 2014 ini. Total tanah yang akan dibagikan mencapai 4.739 bidang.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelar Rapid Test dan Swab Massal, Hasilnya 127 Warga Surabaya Reaktif, 8 Positif

Gelar Rapid Test dan Swab Massal, Hasilnya 127 Warga Surabaya Reaktif, 8 Positif

Regional
Gara-gara Pakai APD, Petugas Medis yang Jemput PDP Kabur Nyaris Diamuk Warga

Gara-gara Pakai APD, Petugas Medis yang Jemput PDP Kabur Nyaris Diamuk Warga

Regional
Nekat Curi Gabah Tetangga untuk Bermain Game Online, Pria Ini Babak Belur dan Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Nekat Curi Gabah Tetangga untuk Bermain Game Online, Pria Ini Babak Belur dan Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Regional
Petugas Ber-APD Dibentak, Diusir, dan Hampir Diamuk Warga Saat Evakuasi PDP yang Kabur

Petugas Ber-APD Dibentak, Diusir, dan Hampir Diamuk Warga Saat Evakuasi PDP yang Kabur

Regional
Akhirnya, Mobil PCR yang Membuat Risma Mengamuk, Tiba di Surabaya

Akhirnya, Mobil PCR yang Membuat Risma Mengamuk, Tiba di Surabaya

Regional
Singgung Soal Riwayat Pendidikan Jokowi di Media Sosial, Pria Ini Diamankan Polisi

Singgung Soal Riwayat Pendidikan Jokowi di Media Sosial, Pria Ini Diamankan Polisi

Regional
Dramatis, Polisi Ketakutan Saat Dihadang dan Dipeluk Keluarga Pasien Positif Corona yang Kabur

Dramatis, Polisi Ketakutan Saat Dihadang dan Dipeluk Keluarga Pasien Positif Corona yang Kabur

Regional
Gempa 5,7 M Guncang Melonguane di Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,7 M Guncang Melonguane di Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Pria Lumpuh Tewas Terbakar Saat Istri Diisolasi karena Pulang dari Zona Merah Covid-19

Pria Lumpuh Tewas Terbakar Saat Istri Diisolasi karena Pulang dari Zona Merah Covid-19

Regional
Teror Diskusi CLS UGM Yogya: Rumah Digedor, Diancam, hingga Didatangi

Teror Diskusi CLS UGM Yogya: Rumah Digedor, Diancam, hingga Didatangi

Regional
Pura-pura Jual Kulkas di Medsos, Pasutri Tipu Ibu Rumah Tangga

Pura-pura Jual Kulkas di Medsos, Pasutri Tipu Ibu Rumah Tangga

Regional
Jokowi Sambut New Normal, Ini Kata Sejumlah Kepala Daerah

Jokowi Sambut New Normal, Ini Kata Sejumlah Kepala Daerah

Regional
Ragam Alasan Pengendara Pergi ke Puncak, Ingin Sate Maranggi hingga Sekadar Cari Angin

Ragam Alasan Pengendara Pergi ke Puncak, Ingin Sate Maranggi hingga Sekadar Cari Angin

Regional
Ada 36 Ribu Warga Blora Pulang Kampung karena Faktor Ekonomi dan Ketidakjelasan Nasib

Ada 36 Ribu Warga Blora Pulang Kampung karena Faktor Ekonomi dan Ketidakjelasan Nasib

Regional
Saat 'New Normal', Kendaraan Luar Daerah Tetap Dibatasi Masuk ke Kota Malang

Saat "New Normal", Kendaraan Luar Daerah Tetap Dibatasi Masuk ke Kota Malang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X