Demi Pengobatan Ayah, Biola Stradivarius Penghibur Konferensi Asia Afrika pun Dilego

Kompas.com - 11/01/2014, 06:06 WIB
Ilustrasi. Biola Stradivarius. Ilustrasi. Biola Stradivarius.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
BANDUNG, KOMPAS.com - Demi menutup biaya pengobatan ayah, tiga biola kuno pun hendak dilego seorang anak. Ketiga biola ini pernah dipakai menghibur para kepala negara peserta Konferensi Asia Afrika yang digelar di Bandung, Jawa Barat, pada April 1955.

Adalah Ginda Sonagi, yang harus memilih antara mengobati sang ayah, Adjat Sudrajat, atau mempertahankan tiga biola "titipan" Raden Sona Soelandjana, kakeknya. Adjat dirawat di rumah sakit sejak 5 Desember 2013 karena komplikasi hepatitis C, paru-paru kronis, dan kanker getah bening.

Adapun tiga biola yang hendak dilego Ginda, dua di antaranya bermerek Jacobus Stainer. Satu biola lagi bermerek Antonius Stradivarius. Salah satu biola Stainer berumur 385 tahun, buatan tangan pada 1627 dan satu lagi biola Stainer buatan 1630. Sedangkan biola Stradivarius milik kakeknya dibuat pada 1727.

Ratusan juta rupiah sudah dikeluarkan Ginda untuk pengobatan ayahnya. Tanah, perhiasan, dan aset lain sudah terlebih dahulu dia jual. "Pengobatan bapak cuma bisa dengan kemoterapi. Sekali kemo Rp 16 juta," tutur Ginda, saat ditemui di kediamannya Jalan Lengkong Besar Kota Bandung.

Raden Sona adalah arsitek beberapa bangunan megah di Bandung dan Jakarta. Kakek Ginda ini juga yang pernah memainkan ketiga biola di depan para kepala negara peserta Konferensi Asia Afrika.

Ginda menjamin keaslian ketiga biola. Dia pun memperlihatkan tulisan tangan pembuat biola di rongga alat musik gesek itu kepada Kompas.com. "Saya rasa menjual biola ini adalah yang paling realistis karena bisa segera dan tidak ribed," ujar dia.

"Daripada disimpan di lemari, saya pikir akan lebih berguna juga bila berada di tangan kolektor atau player," imbuh Ginda. Dia pun mengatakan bahwa kepada calon pembeli akan disampaikannya pula kondisi ketiga biola.

Ginda mengatakan bow dari biola Stradivarius patah. Menurut dia kondisi tersebut bukan masalah besar. Menurut Ginda, setelah beberapa hari ditawarkan lewat situs internet, ada warga negara Belanda menawar biola Stradivarius itu seharga Rp 150 juta.

"Saya nggak kasih. Saya maunya Rp 300 juta. Mudah-mudahan ada orang yang  mau berempati," harap dia. Meski demikian Ginda mengatakan dia tak mau mengemis. "Selama untuk kesembuhan ayah saya, akan saya usahakan terus."

Ginda pun menitipkan nomor telepon yang bisa dihubungi peminat ketiga biola kuno dari mendiang kakeknya itu. Dia menyebutkan nomor 081394517737.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Regional
PSBB di Kabupaten Bogor Diperpanjang, Belajar dari Kasus Acara Rizieq Shihab

PSBB di Kabupaten Bogor Diperpanjang, Belajar dari Kasus Acara Rizieq Shihab

Regional
Di Yogyakarta, Saluran Irigasi Penuh Sampah Diubah Jadi Habitat Ikan, Hasilkan Rp 48 Juta Per Panen

Di Yogyakarta, Saluran Irigasi Penuh Sampah Diubah Jadi Habitat Ikan, Hasilkan Rp 48 Juta Per Panen

Regional
Korban Terakhir yang Tenggelam di Bendungan Cikanteh Sukabumi Ditemukan

Korban Terakhir yang Tenggelam di Bendungan Cikanteh Sukabumi Ditemukan

Regional
Cerita Ayu, Rekening Ratusan Juta Dikuras Usai Dapat Bonus Pulsa Rp 100.000

Cerita Ayu, Rekening Ratusan Juta Dikuras Usai Dapat Bonus Pulsa Rp 100.000

Regional
Angka Kematian Covid-19 di Solo Capai 97 Orang, Didominasi Penyakit Bawaan

Angka Kematian Covid-19 di Solo Capai 97 Orang, Didominasi Penyakit Bawaan

Regional
Mengajar di TK Selama 57 Tahun, Nenek Chamimah Jadi Sarjana di Usia 78 Tahun, Ini Kisahnya

Mengajar di TK Selama 57 Tahun, Nenek Chamimah Jadi Sarjana di Usia 78 Tahun, Ini Kisahnya

Regional
Penipu Modus Jadi Tim Satgas Covid-19 di Padang, Mengincar Perhiasan Korban

Penipu Modus Jadi Tim Satgas Covid-19 di Padang, Mengincar Perhiasan Korban

Regional
Cerita Rasiti Temukan Naskah Kuno Berusia 200 Tahun Warisan Keluarga, Belum Diketahui Isinya

Cerita Rasiti Temukan Naskah Kuno Berusia 200 Tahun Warisan Keluarga, Belum Diketahui Isinya

Regional
KKP Dinilai Langgar Kesepakatan dengan Komisi IV soal Ekspor Benih Lobster

KKP Dinilai Langgar Kesepakatan dengan Komisi IV soal Ekspor Benih Lobster

Regional
Seorang Pria di Riau Sebulan Menculik Adik Ipar untuk Diperkosa

Seorang Pria di Riau Sebulan Menculik Adik Ipar untuk Diperkosa

Regional
Kisah Oktavia dan 8 Guru Honorer di Pedalaman NTT, 6 Tahun Tak Digaji, Tiap Hari Menyusuri Hutan

Kisah Oktavia dan 8 Guru Honorer di Pedalaman NTT, 6 Tahun Tak Digaji, Tiap Hari Menyusuri Hutan

Regional
Kebijakan Penghentian Hajatan Dikritik, Bupati Banyumas: Harus Tarik Rem Darurat

Kebijakan Penghentian Hajatan Dikritik, Bupati Banyumas: Harus Tarik Rem Darurat

Regional
Polisi Temukan Unsur Pidana dalam Acara Rizieq Shihab di Bogor

Polisi Temukan Unsur Pidana dalam Acara Rizieq Shihab di Bogor

Regional
SPP SMA Negeri Sederajat di Jabar Gratis Tahun Depan, Swasta Dapat Subsidi

SPP SMA Negeri Sederajat di Jabar Gratis Tahun Depan, Swasta Dapat Subsidi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X