Kompas.com - 27/06/2013, 13:49 WIB
|
EditorKistyarini
MAKASSAR, KOMPAS.com — Seorang bayi berusia 1,3 tahun meninggal setelah tidak segera mendapat penanganan medis ketika menderita muntaber, Rabu (27/6/2013) sore.

Orangtua dari bayi yang bernama Revan Adiyaksa Andi Amir itu mengatakan, anaknya ditolak empat rumah sakit karena menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

Revan menderita muntaber sejak Minggu (23/6/2013). Demikian kata Andi Amir, ayah Revan, yang ditemui di rumah duka Jalan Haji Kalla 24, Makassar, Kamis (27/6/2013). Akibat terlambat ditangani, kondisi Revan terus memburuk hingga akhirnya meninggal.

Andi mengisahkan, dia membawa anaknya ke lima rumah sakit di Makassar. Dia mengaku menggunakan kartu Jamkesda. Dengan alasan ruangan penuh, pihak RS memintanya membawa Revan ke rumah sakit lain.

"Dua rumah sakit hanya memeriksa anak saya di atas ambulans. Awalnya kami membawa Revan ke Rumah Sakit Umum Daerah Daya. Revan dirawat beberapa jam, namun kondisinya terus memburuk dan ujung-ujungnya kritis," kata Amir yang berprofesi sebagai pengemudi becak motor (bentor).

"Pihak rumah sakit kemudian merujuknya ke Rumah Sakit Umum Pusat dr Wahidin Sudirohusodo. Revan sempat mendapatkan pertolongan di Unit Gawat Darurat RS Wahidin, sementara saya diminta mengurus administrasi perawatan di loket," lanjut Andi.

Saat itu, Andi dan istrinya hanya berbekal kartu Jamkesda dilengkapi kartu keluarga dan KTP. Andi meminta anaknya dirawat sebagai pasien keluarga miskin. "Satu jam kemudian, petugas rumah sakit bilang ruangan sudah penuh. Revan diminta cari rumah sakit lain," lanjut Andi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan ambulans milik RS Daya, lanjut Amir, Selasa (25/6/2013) dini hari, Revan dilarikan ke RS Ibnu Sina. Namun, menurut Andi, di sana anaknya sama sekali tidak sempat masuk ke ruangan.

Petugas RS hanya memeriksa Revan di atas ambulans sebelum menolak dengan alasan ruangan penuh. Hal yang sama dialami Revan saat ia dibawa ke Rumah Sakit Awal Bros.

"Anak saya cuma disenter, lalu petugasnya bilang ruangan penuh. Di tengah kondisi Revan yang makin memburuk, kami memutuskan untuk membawanya ke RS Akademis," tutur Andi.

Di rumah sakit itu, Andi tidak lagi menunjukkan kartu Jamkesda. Dia mendaftar sebagai pasien umum. "Revan langsung dirawat di ICU sebelum meninggal dunia. Biaya administrasi perawatan hingga kini belum bisa dilunasi kami lunasi, makanya KTP saya masih di rumah sakit jadi jaminan,” bebernya.

Andi tidak mengetahui pasti besarnya biaya rumah sakit yang harus ditanggungnya. "Belum jelas biayanya, tapi untuk obat saja lebih dari Rp 3 juta," kata ayah Revan itu.

Hingga kini, Kompas.com belum berhasil menghubungi tiap-tiap rumah sakit. Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar dr Naisya Asyikin menyatakan belum bisa memberi tanggapan karena belum mendapat laporan tentang kejadian ini.




Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Regional
Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Regional
KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

Regional
Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Regional
Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Regional
Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Regional
Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Regional
Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Regional
Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Regional
Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Regional
Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Regional
UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X