Salin Artikel

Sidang Kasus Sate Beracun Bantul, Nani Sempat Cari Informasi tentang Efek Sianida

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Sidang lanjutan kasus sate sianida dengan terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman (25) kembali digelar di ruang sidang 1 Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Bantul, DI Yogyakarta, Senin (1/11/2021).

Dalam sidang dengan agenda memeriksa terdakwa, diketahui jika Nani beberapa kali mencari tahu tentang efek dari sianida melalui gawainya.

Sidang dipimpin hakim ketua Aminuddin serta hakim anggota Sigit Subagyo dan Agus Supriyana.

Sedangkan dari tim jaksa penuntut umum (JPU) terdiri Sulisyadi, Meladissa Arwasari, Nur Hadi Yutama dan Ahmad Ali Fikri Pandela.

Adapun penasehat hukum Nani yakni, R Anwar Ary Widodo, Fajar Mulia dan Wanda Satria Atmaja.

Majelis hakim dalam sidang hari ini beberapa kali meminta terdakwa untuk jujur.

Ketua majelis hakim menanyakan mengenai tujuan Nani mengirimkan sate sianida karena Yohanes Tomi Astanto sendiri tidak melaksanakan puasa.

Nani menjawab, jika dirinya mengirimkan sate tersebut karena sakit hati ditinggal menikah oleh Tomi. Keduanya diketahui telah menjalin hubungan sejak 2017.

"Tujuannya ke Tomi karena sakit hati beliau menikah diam-diam di belakang saya ketika menjalin hubungan," kata Nani.

"Ketahuan menikah tahun 2020, itu saja karena dia keceplosan. Tapi (Tomi) tidak mau meninggalkan saya, ya sudah jalani saja," ucap Nani.

Keduanya masih menjalin hubungan hingga awal tahun 2021.

"Terakhir komunikasi itu bilang kalau (Tomi) mau ke luar kota," kata Nani.

Saat disinggung mengenai pernah tinggal bareng atau nikah siri, Nani menjawab tidak pernah.

Termasuk rumah yang ditinggalinya, dia mengaku membeli secara pribadi.

"Itu rumah saya, beli sendiri," kata dia.

Merasa sakit hati kepada Tomi karena menikah dan kerap dibohongi, Nani membeli KCN atau sianida melalui e-commerce pada Juni 2020.

Nani mengaku hal itu atas masukan dari seorang pelanggannya bernama Robi.

Nani diberitahu oleh Robi efek dari Sianida hanya membuat diare. Robi sendiri saat ini masih dalam status buron.

"Pakai KCN (sianida) itu yang mulia. Serbuk yang saya beli di Shopee. Itu serbuk yang mulia, obat. Itu serbuk yang setahu saya efek diare dan muntah saja yang mulia. Kebodohan saya," kata Nani.

Dalam pengakuannya, Nani dua kali membeli sianida.

Adapun pengakuannya membeli pada Juli 2020, tetapi tidak jadi digunakan. Kemudian, Nani membeli lagi pada tahun 2021 sebelum peristiwa ini terjadi.

Sementara dari fakta Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nani pada bulan Juli 2020 membeli sianida jenis KCN dan pada Maret 2021 Nani membeli sianida jenis NaCN lewat aplikasi e-commerce.

Namun, fakta lain didapati Nani juga memesan sianida pada Januari 2021.

Nani kemudian mengaku sudah lupa berapa kali membeli.

"Saya itu lupa yang mulia. Banyak sekali belanja di Shopee," ucap dia.

Dalam sidang hari ini, Nani tetap pada pendiriannya saat beberapa kali ditanya terkait efek dari racun yang dibelinya hanya diare dan muntah.

Majelis Hakim sempat meminta sejarah pencarian di gawai milik Nani, dan didapati pernah melakukan pencarian tentang racun mematikan di dunia pada 18 Februari 2021.

Selain itu, tanggal 17 Februari 2021 dan 19 Februari 2021, juga melakukan pencarian tentang kasus pembunuhan sianida.

"Kalau Robi bilang cuma sakit diare saja," kata dia.

Penasehat Hukum Nani, menanyakan mengenai kebenaran sosok Robi kepada Nani, dan dijawab sudah mengenal sejak 2019.

"Ada, yakin," kata Nani.

Di penghujung sidang, Nani diberikan kesempatan untuk berbicara.

Nani berharap, dirinya dihukum seringan-ringannya, karena tidak bermaksud membunuh orang karena tidak tahu apa-apa.

"Saya cuma memohon supaya mendapat hukuman seringan-ringannya. Saya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dan tidak akan mengulanginya kesalahan dan perbuatan melanggar hukum lagi. Atas kejadian ini saya sangat menyesal sekali," kata Nani.

Sidang lanjutan Nani berikutnya akan digelar pada 8 November 2021 mendatang dengan agenda tuntutan JPU.

https://regional.kompas.com/read/2021/11/01/170307878/sidang-kasus-sate-beracun-bantul-nani-sempat-cari-informasi-tentang-efek

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke