Salin Artikel

Simalakama Petani Indonesia: Jatuh Bangun Cari Modal Saat Musim Tanam Tiba (1)

Jalan selebar 1 meter di Kampung Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung pagi itu, tampak basah bekas guyuran hujan malam sebelumnya.

Setelah berjalan lima menit dari jalan utama kampungnya, Ujang sampai di kebun bawang merah miliknya. Luasnya sekitar 1 hektare (ha).

Jumlah itu hanya sebagian. Karena luas lahan petani teladan nasional 2018 itu seluas 5 ha untuk bawang, dan 25 ha untuk kentang.

Sedangkan luas lahan kelompok taninya, Tricipta, mencapai 50 ha. Lahan itu dimiliki 32anggota Tricipta.

“Sebentar lagi panen,” ujar Ujang menunjuk salah satu pohon bawang merah kepada Kompas.com di kebunnya, awal Januari 2019.

Ujang lalu memperlihatkan hamparan kebun yang berbukit-bukit. Lahan itulah yang digarap anggota Tricipta beberapa generasi.

Meski sejauh mata memandang yang terlihat hamparan kebun, kehidupan petani di desa tersebut tak semuanya bersinar. Bahkan kebanyakan kelas menengah ke bawah.


Rentenir

Hal itu bisa terlihat saat musim tanam datang. Sebagian petani menggunakan modal dari hasil panen sebelumnya, seperti yang ia lakukan.

Namun ada pula yang meminjam ke bank bila memiliki agunan, saudara, atau bank keliling (rentenir) dengan bunga besar.

Meski hasil yang diperoleh sedikit, untungnya tak ada satu pun kelompok tani yang terjerat utang rentenir. Berbeda dengan Asep (45), petani asal Kabupaten Bandung.

Asep kehilangan tanahnya seluas 500 meter karena tidak mampu membayar utang ke rentenir. Saat itu, tahun 2016, Asep meminjam uang Rp 50 juta untuk modal.

Namun, cabai yang ditanamnya gagal panen, berbarengan dengan anaknya masuk rumah sakit. Jangankan untuk bayar, Asep menambah utang untuk modal.

“Bunganya 30 persenan per bulan. Karena tak sanggup bayar setelah beberapa lama, tanah saya diambil,” ungkapnya.

Setelah jatuh, Asep kembali bangkit dengan modal seadanya. Kini kondisinya mulai membaik dan ia enggan meminjam lagi ke bank keliling.


4 Opsi

Persoalan modal memang kerap menjadi masalah bagi petani. Petani dari Pangalengan, Dani Ramdani (40) mengungkapkan, ada 4 opsi untuk mendapatkan permodalan selain bersumber dari diri sendiri dan saudara.

Keempat opsi itu yakni bandar, bank, koperasi, dan financial technology. Untuk mendapat dana dari bandar tidaklah sulit. Biasanya bandar menutupi biaya pegawai dan pupuk.

“Nanti barang produksi kita diambil bandar dengan harga yang ditentukan bandar,” ungkap alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) angkatan 1999 ini menjelaskan.

Meski mudah, pembiayaan bandar ini kurang menguntungkan bagi petani. Petani tidak memiliki keleluasaan menentukan harga.

Akibatnya, ada petani yang mengalami kerugian. Hingga mereka harus merelakan tanahnya diambil pemilik modal.

Kedua, dana perbankan. Untuk mendapatkannya, petani kesulitan. Selain terkendala masalah agunan, urusan administrasi sering membuat petani gugur mendapat pembiayaan.

Data yang dimiliki Kompas.com, petani yang berhasil mengakses perbankan masih sedikit.


Akses kredit perbankan

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016 mencatat, hanya 15 persen dari 8.000 sampel petani yang mengakses kredit bank. Sedangkan 52 persen mengandalkan modal sendiri, koperasi, kerabat, dan lembaga keuangan nonbank lainnya.

Sementara itu, 33 persen petani mengandalkan kredit Program Nasional Pemberdayaan masyarakat (PNPM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Pembiayaan bank dicicil tiap bulan dan kebijakannya ketat. Sedangkan pertanian variabelnya banyak,” imbuh Dani.

Ketiga, koperasi atau PNPM. Namun ia sendiri tidak emnggunakannya, sehingga tidak begitu mengetahui sistemnya.

Keempat dan yang terbaru, fintech. Saat ini kelompok taninya baru mencoba bekerjasama dengan fintech TaniFund (TF).

Untuk mendapatkan dana dari TF, petani harus berkelompok, karena pembiayaan bukan untuk perseorangan.

“Sistemnya bagi hasil 70:30 yang dibayarkan setelah panen dalam bentuk produk yang dikerjasamakan, misal tomat,” ungkapnya.

Jika target itu tidak terpenuhi, maka Dani harus mengembalikan kekurangan dengan produk yang sama ataupun berbeda.

Hingga kini, sistem pembiayaan ini menguntungkan untuk dirinya karena budidaya tanpa modal dan harga diikat dari awal.

Keuntungan terbesar adalah jaminan rantai pasokan. Sebab produk tani langsung dipasarkan oleh TaniHub yang memasarkan produk rekanan TF.

Di luar keunggulannya, petani bawang asal Cimenyan, Ujang, mencatat beberapa kelemahan fintech. Terutama dari sisi pencairan dana.

“Pencairan dananya kan tidak sekaligus. Jadi per pengajuan. Persoalannya begitu pengajuan, dananya baru cair seminggu atau beberapa hari kemudian,” tutur Ujang.

Padahal yang namanya bertani sangat dipengaruhi cuaca. Telat sehari saja memberi pupuk, tanaman akan kena hama.

Keterlambatan ini membuat rekan-rekan kelompok taninya mengeluh kepada Ujang. Bagi petani yang memiliki dana, mereka bisa menalangi keperluan.


Pakai fintech

Namun bagi petani yang tidak memiliki dana, mereka akan datang ke Ujang untuk menalangi dulu.

“Fintech ini hal baru bagi petani. Jadi belum terlihat untung ruginya karena panennya belum selesai,” ungkapnya.

Selain empat opsi tadi, ada pendanaan lain yang bersumber dari bank keliling atau rentenir. Ujang ataupun Dani tidak menggunakannya.

Salah satu yang menggunakannya adalah Dedi, petani asal Garut. Ia mengatakan, bunga yang ditawarkan sekitar 30 persen per 11 kali pembayaran.

Misal pinjam uang Rp 1 juta. Maka ia harus mengembalikan Rp 1,3 juta untuk 11 kali pembayaran. Pembayarannya sendiri dilakukan setiap minggu.

“Tapi ada juga yang bunganya sampai 50 persen. Beda-beda. Biasanya pakai bank keliling kalo kepepet butuh tambahan modal mendadak atau membayar tagihan utang di bank,” pungkasnya.

https://regional.kompas.com/read/2020/01/31/10565061/simalakama-petani-indonesia-jatuh-bangun-cari-modal-saat-musim-tanam-tiba-1

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke