Salin Artikel

Mengunjungi Rumah Siti Ropiah yang Tulisannya Viral dan Menyentuh Hati

Ia merupakan siswi dari keluarga tidak mampu. Ia bersekolah di sebuah madrasah tsanawiyah (MTs) yang dibangun atas keprihatinan pemuda desa setempat atas kondisi kemiskinan dan pendidikan.

Meski bergulat dengan kehidupannya yang miskin, ia menjadi juara I di kelasnya. Ia juga tercatat sebagai juara umum catur tingkat Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. 

Kompas.com berkesempatan menyambangi rumah Ropiah di Trans Pelabai, Desa Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, beberapa waktu lalu.

Rumah Siti Ropiah yang ia tempati bersama kedua orangtuanya dan adik perempuannya, Maimah, berada tepat di kaki sebuah bukit, berbatasan dengan hutan lindung.

Jalan tanah kuning dan lengket jika hujan akan menyelimuti sepatu saat menuju rumahnya. Rumahnya berukuran kecil, sekitar 6 meter x 6 meter. Itu sebenarnya rumah transmigrasi, tetapi diperbaiki Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Rumah beralaskan semen dan separuh papan pada bagian dinding itu memiliki dua kamar tidur. Satu dijadikan gudang, satu dapur, dan satu ruang tamu. Dalam satu kamar itulah Siti Ropiah tidur bersama orangtua dan adiknya.

"Satu kamar kami tidur berempat, kamar satunya tidak kami gunakan," ujar Siti Ropiah.

Tak ada kasur dan selimut tebal. Keluarga ini hanya menggunakan kain tipis dan tikar sebagai pengganti kasur selama bertahun-tahun.

Sekitar tiga hari lalu barulah ada uluran tangan masyarakat memberikan keluarga ini lima kasur.

"Senang ada kasur, bisa tidur enak," ujar Maimah, adik Siti Ropiah.

Makan malam dengan keluarga Ropiah sungguh menyenangkan walaupun hanya tersedia nasi putih, telur dadar, dan ikan asin. Tak ada listrik yang menerangi makan malam bersama nan hangat itu.

"Listrik mahal, pasang saja harus bayar Rp 2,4 juta," ujar tetangga Ropiah, Ina.

Usia ayah Ropiah sudah renta, sekitar 70 tahun. Ia memelihara beberapa kambing bersama dengan masyarakat lain. Untuk memberi makan kambing, ia menyabit empat karung rumput setiap hari. Namun, sudah enam bulan kambing tak kunjung hamil. 

"Kalau tidak sabit rumput, kambing tidak makan. Saya sudah capek. Namun, saya melihat Ropiah dan Maimah, sekuat tenaga saya harus kerja menyabit rumput untuk kambing, semua untuk kedua anak ini," cerita ayah Ropiah.

Untuk memenuhi kebutuhan harian Ropiah dan adiknya, Maimah menjual jamur tiram milik orang. Per harinya ia mendapatkan untung hanya Rp 4.000 dari penjualan. Uang itulah digunakan untuk makan sehari-hari.

Setiap hari Ropiah dan Maimah harus menempuh jalan 3,5 kilometer melintasi hutan dan jalan raya. Hujan kadang menjadi musuh utama kedua bersaudara ini. Ropiah memiliki satu tas sekolah yang berlubang.

"Karena berlubang, pena sering jatuh dan hilang," ujarnya.

Beberapa warga dan masyarakat yang simpatik memberikan keduanya jas hujan, tas, dan keperluan sehari-hari.

Malam hari menjelang, ayah Ropiah sering bangun di tengah malam karena batuk yang diderita sejak tiga bulan terakhir.

"Saya tidak tahu kenapa batuk ini terus menyerang. Pernah berobat, tetapi BPJS katanya sudah tidak berlaku, jadi tidak jadi berobat," kata ayah Ropiah.

Siti Ropiah memiliki sifat pendiam. Sementara Maimah kebalikan, ia suka bercerita, tangkas, dan patuh.

Kepala MTs Dzikir Pikir, tempat keduanya sekolah, menyebutkan, kakak beradik itu berprestasi.

"Keduanya juara kelas. Mereka pintar dan tekun, tetapi dengan kemiskinan yang mereka alami, saya khawatir mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi," kata Sukamdani.

Sukamdani berharap ada donatur atau masyarakat bersimpatik lainnya yang dapat memberikan jaminan agar kedua kakak beradik ini dapat bersekolah ke jenjang lebih tinggi.

https://regional.kompas.com/read/2018/04/12/14054371/mengunjungi-rumah-siti-ropiah-yang-tulisannya-viral-dan-menyentuh-hati

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke