Nasib Genteng Sokka yang Genting - Kompas.com

Nasib Genteng Sokka yang Genting

Kontributor Semarang, Nazar Nurdin
Kompas.com - 13/09/2017, 18:57 WIB
Genteng Sokka di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (13/9/2017)KOMPAS.com/NAZAR NURDIN Genteng Sokka di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (13/9/2017)

SEMARANG, KOMPAS.com - Para perajin genteng di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mulai mengeluhkan menurunnya harga genteng Sokka dari wilayah tersebut. Para perajin resah hingga sebagian dari perajin gulung tikar.

Perajin genteng Moh Khozin mengatakan, genteng Sokka dari Kebumen merupakan genteng khas yang diproduksi sejak zaman Belanda. Genteng Sokka kala itu dipuji karena mempunyai kualitas yang unggul. Di masa jayanya, genteng Sokka bahkan telah diekspor ke Belanda. Namun kini pemasaran Sokka maksimal hanya ke luar daerah.

"Harga genteng seusia HPP itu satunya Rp 1.400, tapi harga riil sekarang Rp 1.250. Harga genteng tidak ada kelola, yang jual murah, laku," kata Khozin, saat berdialog dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Rabu (13/9/2017).

"Sokka Kebumen dikirim ke Yogyakarta," tambah perajin itu.

Baca juga: Andalkan Gas Bumi PGN, Genteng Asal Majalengka Diekspor hingga Malaysia dan Singapura

Dia menyebutkan, genteng Sokka Kebumen saat ini mengalami banyak masalah, mulai dari inefisiensi, hingga proses pembuatan yang masih menggunakan metode tradisional. Oleh karena itu, perajin minta pemerintah memberikan fasilitas peningkatan alat untuk pembuatan genteng.

Dengan teknologi, ongkos pembuatan ditekan, sehingga harga dapat bersaing dengan baja ringan buatan pabrikan.

Genteng Sokka Kebumen sendiri sempat populer di masyarakat karena merupakan genteng kelas tinggi. Dahulu, hanya orang kaya yang dapat membeli genteng jenis tersebut.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui masalah genteng ternyata cukup genting. Pihaknya pun berusaha memfasilitasi agar eksistensi genteng Sokka bisa terus berjalan.

Pria berambut putih ini mengusulkan agar para perajin dapat menekan harga HPP di tingkat paling rendah. Caranya, para perajin dikumpulkan dalam satu paguyuban untuk menentukan kisaran harga terendah.

Di antara satu perajin dengan perajin lain tidak boleh menjual di bawah harga yang ditentukan. Usaha genteng pun disarankan untuk melakukan diversifikasi usaha. Genteng tetap jadi komoditas utama, namun perlu didukung dengan usaha lain.

"Sokka tak hanya genteng, bisa jadi keramik atau apa. Nanti provinsi bantu, atau Litbang nanti bantu. Jadi, diversifikasi usaha," tambah pria 48 tahun ini.

Kerajinan dari tanah liat itu pun dapat dikembangkan lebih lanjut menggunakan teknologi modern. Sokka tidak hanya genteng, tapi dapat menjadi kerajinan, bahkan alat rumah tangga.

"Coba diversifikasi, teknologi lain selain genteng, alat rumah tangga, kerajinan. Genteng tetap jadi kor bisnis, lalu dikembangkan ke yang lain," ujar dia.

Kompas TV Belasan Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung

PenulisKontributor Semarang, Nazar Nurdin
EditorErlangga Djumena

Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM