Hari Pertama Sekolah, Siswa SMAN 30 Garut Demo Tagih Janji Gubernur Jabar - Kompas.com

Hari Pertama Sekolah, Siswa SMAN 30 Garut Demo Tagih Janji Gubernur Jabar

Kontributor Garut, Ari Maulana Karang
Kompas.com - 17/07/2017, 12:28 WIB
Siswa SMAN 30 Garut di Kecamatan Cihurip menagih janji Gubernur Jawa Barat untuk perbaikan ruang kelas di sekolah mereka yang semuanya ambruk disapu angin puting beliung pada bulan April laluKompas.com/Ari Maulana Karang Siswa SMAN 30 Garut di Kecamatan Cihurip menagih janji Gubernur Jawa Barat untuk perbaikan ruang kelas di sekolah mereka yang semuanya ambruk disapu angin puting beliung pada bulan April lalu

GARUT, KOMPAS.com - Hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru dan setelah libur hari raya Idul Fitri, Senin (17/07/2017), diisi dengan aksi unjuk rasa oleh para siswa SMAN 30 Garut di Kecamatan Cihurip.

Bukannya upacara pagi, para siswa malah berbaris sambil membawa kertas karton putih berisi tulisan-tulisan tuntutan mereka agar sekolahnya segera diperbaiki setelah pada April lalu dihantam puting beliung. Tiga ruangan kelas mereka hancur dan hanya menyisakan satu ruang guru.

"Tujuan kita bisa punya kelas baru, minta janji Pak Gubernur ganti kelas kita yang runtuh, selama ini kita belajar di tenda, ada juga yang di ruang guru," jelas Doni Mulyawardani, siswa kelas XI yang ikut aksi unjuk rasa.

Baca juga: Banjir di Garut Sebabkan Rumah, Kampus dan Pesantren Alami Kerusakan

Doni berharap, sekolahnya bisa cepat dibangun kembali agar para siswa bisa belajar di kelas lagi, tidak seperti saat ini belajar di tenda darurat yang saat ini diberi nama 'Kelas Pak Aher'. Sebab, tenda itu dipasangi spanduk putih bertuliskan "Selamat Datang di Kelas Pak Aher". Para siswa sudah empat bulan ini belajar di tenda dan ruang guru.

Hal yang sama diungkapkan oleh Novi Liandi, siswa kelas XII. Menurut Novi, pemerintah berjanji menyediakan kelas baru saat masuk sekolah tahun ajaran baru. Namun, kenyataannya, janji itu belum dipenuhi.

"Belajar di tenda tidak nyaman, kepanasan, kedinginan tendanya juga sudah ada yang bocor, kasihan siswa baru harus belajar di tenda. Walau di pelosok, kami juga butuh fasilitasnya," keluhnya.

Deni Sahay, guru SMAN 30 Garut mengungkapkan, aksi yang dilakukan para siswa merupakan bentuk keprihatinan atas lambatnya respons pemerintah untuk memperbaiki tiga ruang kelas yang ambruk karena angin puting beliung.

"Pak Gubernur pernah telepon kepala sekolah mau cepat perbaiki, dari Kemendikbud sempat datang mau perbaiki, tapi realisasinya belum ada," katanya.

Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo mengakui, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memang pernah menyampaikan akan segera memperbaiki ruang kelas yang rusak.

Sebelum kelas dibangun kembali, dua tenda dari BPBD provinsi pun dipasang untuk dijadikan ruang kelas. Satu tenda disekat menggunakan terpal hingga bisa jadi dua ruang kelas.

Kelas XII belajar di ruang guru karena siswanya hanya 14 orang. Sementara siswa kelas X dan XI belajar di tenda.

Dede menuturkan, rencananya pemerintah provinsi dan Kementerian Pendidikan akan memberikan bantuan berupa ruang kelas baru. Namun, yang jadi masalah adalah dulu janjinya akan menggunakan dana taktis penanggulangan bencana. Namun, saat ini mekanismenya disamakan dengan sekolah yang tidak terkena musibah.

"Kami ingin bisa ada prioritas, karena kami tak punya ruangan kelas lagi selain tenda dari BPBD provinsi. Dulu rehabnya diperkirakan tiga bulan bisa selesai," katanya.

Baca juga: Bupati Dedi Larang Sekolah Wajibkan Siswa Miskin Pakai Seragam

Saat ini, jumlah siswa yang ada di SMAN 30 Garut sebanyak 105 orang, termasuk 49 siswa di antaranya adalah siswa baru. Masyarakat pun, menurut Dede, sering menanyakan masalah perbaikan sekolah. Sebab, jika tidak akan dibangun lagi, mereka enggan menyekolahkan anaknya ke SMAN 30 Garut.

Kompas TV Hari ini bagi sebagian siswa di sejumlah daerah merupakan hari pertama masuk sekolah.

PenulisKontributor Garut, Ari Maulana Karang
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X