Suasana Berbeda Saat Shalat Tarawih di Masjid Keraton Buton - Kompas.com

Suasana Berbeda Saat Shalat Tarawih di Masjid Keraton Buton

Kontributor Baubau, Defriatno Neke
Kompas.com - 03/06/2017, 09:46 WIB
KOMPAS.com / DEFRIATNO NEKE Masjid Keraton Buton didirikan sejak masa Sultan Buton ke XIX, Sultan Sakiuddin Darul Alam pada tahun 1712. Dari dahulu hingga saat ini Masjid Keraton Buton masih digunakan warga untuk melaksanakan shalat.

BAUBAU, KOMPAS.com – Alunan ayat suci terdengar dari balik dinding tembok Masjid Keraton Buton yang tebalnya setengah meter. Di balik tembok tersebut, warga, baik tua dan muda, duduk mempermainkan tasbih sambil mengucapkan lafaz Allah untuk melakukan zikir.

Setelah melakukan zikir, seorang lelaki tua yang mengenakan jubah adat, menuntun warga yang duduk di Masjid Keraton Buton untuk melakukan tahlilan sebanyak 100 kali.

“Shalat tarawih yang ada di sini memang selalu kami akhiri dengan tahlilan. Pelaksanaan tarwih di Masjid Keraton Buton memang sedikit berbeda dengan masjid pada umumnya,” kata seorang pemimpin agama di masjid tersebut, La Ode Zulkifli, Sabtu (3/6/2017).

Sebelum melakukan tahlilan, jemaah datang memadati masjid yang bersejarah ini untuk melaksanakan shalat tarawih.

Dua pengurus masjid dengan mengenakan jubah adat duduk di pintu masuk pada bagian kanan. Demikian pula di pintu masuk bagian kiri terdapat dua lelaki tua yang mengenakan jubah duduk bersila sambil bersalaman kepada setiap jemaah yang masuk ke bagian tengah masjid.

(Baca juga: Ultah Ke-82, Buya Syafii Tetap Semangat Shalat di Masjid Meski Pakai Kursi)

Setelah azan berkumandang, shalat tarawih pun dilakukan penuh khusyuk dan khidmat oleh para jamaah yang ingin shalat tarawih di masjid keraton.

Usai shalat, jemaah melanjutkan dengan zikir dan tahlil. Mereka dengan khusyuk menutup mata sambil mengucapkan lantunan lafaz Allah dengan penuh khidmat. Ayat suci tahlilan seakan-akan memenuhi seluruh ruang masjid Keraton Buton.

“Usai tahlil, baru baca doa dan bersalam-salaman. Salam-salaman di masjid ini tidak sama dengan salaman di masjid lain, salaman di Masjid Keraton Buton sesuai dengan hierarki orangnya,” ucap Zulkifli.

Seorang jemaah berasal dari Kendari, Agus (40), mengaku sangat senang bisa melaksanakan shalat tarawih di Masjid Keraton Buton.

“Shalat di sini sangat khusyuk. Saya menyukai shalat di sini dan suasananya sangat berbeda dengan shalat di masjid lain. Apalagi tadi ada zikir dan tahlil di akhir shalat, tradisi shalat tarawih di sini masih sangat dijaga,” kata Agus.

Masjid Keraton Buton didirikan sejak masa Sultan Buton ke XIX, Sultan Sakiuddin Darul Alam pada tahun 1712. Dari dahulu hingga saat ini Masjid Keraton Buton masih digunakan warga untuk melaksanakan shalat.

 

 

Kompas TV Kekayaan Akulturasi dalam Bangunan Masjid Cheng Ho

PenulisKontributor Baubau, Defriatno Neke
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X