Cerita Mahasiswa UGM Main Teater Boneka di ICD 2017 - Kompas.com

Cerita Mahasiswa UGM Main Teater Boneka di ICD 2017

Kontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Kompas.com - 13/05/2017, 19:45 WIB
KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Amina Raisa (21), mahasiswi Fakultas Geografi UGM dan Unsa Arifah (21), mahasiswi Fakultas Pertanian UGM memainkan boneka berbahan kertas koran di Plaza Pasar Ngasem, Jalan Polowijan, Kota Yogyakarta, Sabtu (13/5/2017). Mereka mengikuti workshop yang dilakukan Pappermon Puppet Theater dalam kegiatan Indonesia Community Day 2017.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Amina Raisa (21), mahasiswai Fakultas Geografi UGM terlihat meremas-remas kertas koran hingga tak berbentuk di pingir Plaza Pasar Ngasem, Jalan Polowijan, Kota Yogyakarta, Sabtu (13/5/2017) sore.

Raisa ditemani Unsa Arifah (21), mahasiswi Fakultas Pertanian UGM ketika meremas kertas koran harian Tribun Jogja itu.

Aksi mereka bukan marah terhadap isi berita koran Tribun Jogja, melainkan mencoba membentuk kertas koran itu menjadi boneka. Ya, mereka sedang berlatih menjadi pemain teater boneka seperti Beni Sanjaya, Anton Fajri, dan Pambo Priojati.

Ketiga pria itu merupakan pemain Pappermoon Puppet Theatre, kelompok teater boneka asal Yogyakarta.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, Raisa dan Unsa berhasil membentuk dua lembar kertas koran menjadi dua benda. Satu benda menyerupai boneka manusia dan satu boneka menyerupai bola.

Lantas, keduanya memainkan boneka hasil karya mereka di atas plaza.

Raisa memegang tangan kiri dan kepala boneka, sedangkan Unsa memegang tangan kiri dan memegang kaki kiri boneka.

Meski terlihat kaku, keduanya memerankan boneka itu layaknya pemain sepak bola. Mulai dari menggiring bola sampai menendang bola. Keduanya pun sempat mempertontonkan selebrasi seolah-olah boneka yang mereka buat itu berhasil menciptakan gol.

Raisa mengaku, menjadi pemain puppet theatre merupakan pengalaman baru. Ia menilai, menjadi pemain teater boneka tak semudah yang dibayangkannya lantaran perlu kesabaran dan latihan yang tekun.

Hal itu terbukti ia belum maksimal memainkan boneka berbahan koran sesuai harapan.

"Tadi sebelum buat boneka (pemain sepak bola), saya juga sempat buat boneka kupu-kupu dari selembar kertas koran. Buat bentuknya gampang, tapi ternyata susah juga menggerakkannya," kata dia.

Raisa dan Unsa memang meniru aksi Beni, Pambo, dan Anto yang terlihat piawai menjadi pemain teater boneka. Ketiganya memainkan sosok kakek tua dengan caping yang berteman dengan seorang anjing.

Kakek yang mereka namai Kunta itu tampil seolah manusia nyata. Kunta terlihat tengah menyantap nasi bungkus secara lesehan. Tiba-tiba datang seekor anjing ketika Kunta menyantap nasi dengan lahap. Anjing itu berlari mengelilingi Kunta sembari menyalak.

Sekali waktu, Anjing yang diperankan Beni itu mengemis makanan Kunta. Kunta yang dimainkan Pambo dan Anto itu pun memberikan sebagian makanannya.

Sang anjing menyantap makanan yang terhampar di lantai. Usai menghabiskan nasi bungkus, Anto, Pambo, dan Beni memainkan Kunta bersama-sama.

Di akhir pentas, Kunta terlihat mengambil radio di atas meja kecil. Berjalan beberapa langkah Kunta meletakkan radio di atas tikar yang menghampar di lantai plasa. Kunta pun berbaring di samping radio sehingga tidur lelap yang menandakan pertunjukan teater boneka itu usai.

Selama pentas berlangsung, tak terdengar dialog verbal antara Kunta dan anjingnya. Hanya ekpresi dan gerak yang terlihat sepanjang pentas. Bukan tanpa alasan, pentas boneka teater itu memang dilakukan tanpa dialog dan hanya diiringi lagu keroncong.

"Karena gerak itu banyak makna dari pada bicara. Cukup dengan gestur orang sudah bisa memahami maksud. Sedangkan dengan dialog, orang lain juga belum tahu maksud yang dibicarakan," kata Beni.

Beni mengatakan, Pappermoon Puppet Theatre merupakan kelompok yang berupaya menghidupkan boneka di pentas teater. Teater boneka, kata dia, merupakan seni kontemperer dengan media boneka dari bahan kertas.

"Kami tidak ada batasannya. Kalau wayang berpusat sedo puppet, kalau kami lebih eksperimen, kadang tidak ada dimenis, kolaborasi dengan video, dan kolaborasi dengan wayang juga. Tidak ada batasannya," ujarnya.

Dia mengatakan, Pappermoon Puppet Theatre merupakan kelompok teater yang dibentuk April 2006 atau dua bulan sebelum gempa melanda Yogyakarta.

Dari 2006, kata dia, pihaknya memainkan banyak karakter dan bermain di sejumlah negara. Antara lain Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Skotlandia, Jerman, Italia, Jepang, Thailand, Myanmar, Singapura dan Australia.

"Teater boneka ini mencoba mengembalikan kita semua pada masa kecil. Kita bisa mainin batu itu bisa menjadi mobil atau monster," kata Beni.

"Teater boneka itu juga seni menghidupkan benda tapi berimanjinasi. Itu proses berimanjinasi," tambah dia.

Baca juga: Di ICD 2017, Peserta Akan Diajak Membuat Film Menggunakan Ponsel

PenulisKontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
EditorErlangga Djumena

Komentar