Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potret Daerah Kaya Timah yang Kini Beralih ke Agroindustri

Kompas.com - 24/10/2016, 18:01 WIB
Heru Dahnur

Penulis

PANGKALPINANG, KOMPAS.com - Lahan seluas 72 hektar di daerah Suntai Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diolah kembali untuk kegiatan pertanian.

Kawasan bekas tambang timah ini sempat terbengkalai karena diduga terpapar radiasi dengan tingkat keasaman air yang tinggi.

Daerah Jebus berjarak lebih kurang 80 kilometer dari Kota Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Potret daerah Jebus selama ini identik dengan daerah tambang yang kaya. Tidak mengherankan pembangunan di daerah ini bergerak begitu cepat.

Meskipun berada di daerah pelosok, jalan-jalan di sana dibangun dengan mulus. Bahkan sampai ke gang-gang kecil, jalan diaspal dan dicat selayaknya jalan raya.

Tempat-tempat ibadah seperti masjid dan kelenteng berdiri dengan megah. Bangunan ruko dan rumah-rumah warga bertingkat-tingkat saling berdampingan.

Seorang mantan karyawan bank di daerah Jebus mengisahkan perputaran uang yang mencapai puluhan miliar.

"Daerah ini saja uangnya Rp 35 miliar setiap bulannya. Dari masyarakat sampai aparat pokoknya sejahtera. Tapi itu dulu, entah nanti kalau cadangan ditemukan dan izin penambangan dibuka lagi," ujar Yan sembari tertawa.

Belakangan ketika hasil galian timah tak lagi mencukupi, banyak lahan yang dibiarkan terbengkalai.

Masyarakat yang merasa kehilangan mata pencaharian mulai berpikir untuk membuka usaha baru. Sektor pertanian kembali dilirik.

Lokasi bekas penambangan timah yang semula hanya ditanami pepohonan besar dalam program reklamasi, secara bertahap dijadikan sebagai lokasi bercocok tanam, budidaya perikanan, dan pengolahan tepung tapioka.

Para petambang kini beralih profesi sebagai petani dan bergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) daerah Bangka Belitung. Organisasi ini optimistis menjadikan kawasan bekas tambang sebagai kawasan usaha agroindustri terpadu.

"Kami berharap kawasan ini bisa menjadi pilot project untuk pengolahan kawasan bekas tambang di Indonesia. Lebih penting lagi apa yang telah diusahakan bisa menyejahterakan masyarakat petani," kata Ketua Umum HKTI Pusat Mahyudin kepada Kompas.com seusai meninjau lokasi agroindustri di Jepus, Minggu (23/10/2016).

Usaha swadaya

Meskipun tidak mendapat sokongan anggaran dari pemerintah daerah, pengelolaan lahan masyarakat tetap berjalan. Para petani secara swadaya mengolah lahan dengan dibantu dana kompensasi perusahaan penambangan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com