Kondisi Lapas Atambua Memprihatinkan - Kompas.com

Kondisi Lapas Atambua Memprihatinkan

Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere
Kompas.com - 14/03/2014, 20:10 WIB
Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere Kondisi plafon salah satu blok narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Atambua, Kabupaten Belu, NTT yang rusak berat

ATAMBUA, KOMPAS.com
- Kondisi bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak parah dan sangat memprihatinkan.

Kondisi ini membuat seluruh penghuni lapas, termasuk petugas pengamanan dan administrasi merasa tidak nyaman beraktivitas.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II Atambua, Heru Suprijowinardi kepada Kompas.com, Jumat (14/3/2014) mengatakan, atap bangunan lapas sudah bolong dan tembok dinding tiga blok hunian retak-retak.

“Kondisi di semua blok rusak berat, terutama bagian plafon sudah bolong semua dan tembok juga sudah terkelupas dan retak. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1981, namun sampai sekarang belum juga direhab. Hitung-hitungannya, bangunan bagian dalam blok dan tembok keliling itu 50 persen rusak,” jelas Heru.

Menurut Heru, jika dibandingkan dengan Lapas lainnya di Indonesia, Lapas Atambua memiliki gedung yang paling buruk. Dia pun mengharapkan perhatian segera dari pimpinannya di Kupang maupun di Jakarta.

"Teman-teman wartawan silakan foto, saya malah senang karena nanti bisa dilihat oleh petinggi-petinggi saya,” harapnya.

Heru meminta pemerintah segera merehab blok hunian untuk para napi dan blok kesehatan serta menambah ruangan untuk kantor, sekaligus merehab kantor lama.

"Status Lapas Atambua ini dulunya adalah rumah tahanan negara. Namun pada 2004 telah berubah menjadi Lapas. Mestinya, infrastruktur harus diperhatikan dan juga jumlah personel ditambah,” jelasnya.

Apalagi kata Heru, jumlah penghuni lapas melebihi kapasitas blok yang tersedia. Menurutnya, saat ini jumlah napi mencapai 261 orang. Menurutnya, jumlah itu sudah kelebihan sekitar 100 orang.

"Mereka terpaksa kita gabungkan saja karena memang kondisinya seperti ini. Saya bersyukur para narapidana ini semuanya orang baik dan tertib sehingga mereka tidak sampai kabur,” katanya.

Heru mengaku sudah berulangkali mengusulkan bantuan rehab gedung dan penambahan bangunan ke Kementerian Hukum dan HAM Kanwil NTT dan Jakarta, namun tidak direspons.

"Usulan terakhir tahun 2010 lalu dan sempat ditinjau, namun nyatanya sampai sekarang tidak direalisasikan,” kata Heru.

Dia berharap, Lapas yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste itu dibenahi untuk dibuatkan sama seperti lapas yang ada di kota besar lainnya, karena Lapas Atambua adalah cermin Lapas Indonesia.

PenulisKontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere
EditorFarid Assifa
Komentar