Tak Bisa Tampil, Pekerja Seni Jombang Ada yang Banting Setir Jadi Kuli, Berharap Kelonggaran

Kompas.com - 25/06/2021, 10:04 WIB
Damar Manggala, pegiat kesenian tradisional kuda lumping, saat ditemui usai melakukan audiensi di ruang Swagata Pendopo Kabupaten Jombang Jawa Timur, Kamis (24/6/2021). KOMPAS.COM/MOH. SYAFIÍDamar Manggala, pegiat kesenian tradisional kuda lumping, saat ditemui usai melakukan audiensi di ruang Swagata Pendopo Kabupaten Jombang Jawa Timur, Kamis (24/6/2021).

JOMBANG, KOMPAS.com - Kasus Covid-19 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menunjukkan peningkatan yang diikuti dengan bertambahnya jumlah kecamatan zona merah.

Di sisi lain, para pelaku kesenian tradisional kuda lumping atau jaranan, meminta pemerintah memberi kelonggaran agar mereka bisa menggelar pertunjukan.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, berbagai aktivitas masyarakat dibatasi, mulai dari hajatan, sekolah, hingga pagelaran musik ataupun pementasan seni tradisional.

Pembatasan yang berimplikasi pada larangan menggelar pertunjukan, membuat para pelaku kesenian kuda lumping tak berkutik.

Baca juga: Tangis Penjaja Minuman Mengetahui Putranya Raih Adhi Makayasa dari Presiden: Semua Anak Papua Pasti Bisa

Pementasan dibubarkan

Menurut Damar Manggala, Pegiat Paguyuban Kesenian Jaranan - Bantengan Putro Ki Ageng Basari Megaluh, Kabupaten Jombang, mereka tidak bisa berkembang sejak berlakunya pembatasan dan pelarangan menggelar pertunjukan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, para pelaku kesenian kuda lumping juga tak memiliki biaya perawatan alat, hingga kehilangan pendapatan dari jasa pementasan.

Dia mengungkapkan, dalam setahun terakhir, mereka tak lagi leluasa. Beberapa pementasan yang telanjur digelar, dibubarkan aparat bahkan ketika sedang berlangsung.

"Selama (pandemi) Covid-19, main dibubarkan, main dibubarkan," ungkap Damar, usai melakukan audiensi dengan Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jombang, Kamis (24/6/2021).

Baca juga: Ular Nyaris Merambat ke Tangan Perempuan Ini Saat Kendarai Motor, Bermula Parkir Dekat Pohon

 

Ilustrasi konstruksiSHUTTERSTOCK/YUTTANA CONTRIBUTOR STUDIO Ilustrasi konstruksi

Ada yang banting setir jadi kuli bangunan

Setelah lebih dari setahun 'menganggur', para pelaku kesenian kuda lumping meminta Pemerintah Kabupaten Jombang membuka celah agar mereka bisa menggelar pertunjukan.

Damar menuturkan, sebagian pelaku kesenian kuda lumping menggantungkan hidup dari jasa pementasan.

Dengan larangan menggelar pertunjukan, sebagian pelaku seni tradisional itu juga kehilangan pendapatan.

"Harapannya kita diperbolehkan main. Karena apa, kalau pekerja seni itu nafkahnya dari tanggapan (pementasan). Kalau diminta sesuai protokol kesehatan, kita siap," kata Damar.

Baca juga: Happy Kaget, Uang Rp 6 Juta di Rekeningnya Raib padahal Tak Lakukan Penarikan, Ini Kata Polisi

Dia menambahkan, berlakunya pembatasan dan pelarangan menggelar pertunjukan, membuat sebagian pelaku seni kuda lumping menjadi kuli bangunan untuk mencari nafkah.

"Selama ini (kerja) serabutan, ada yang jadi kuli, ada yang tidak bekerja dan hanya mengandalkan bantuan, sumbangan-sumbangan. Apalagi yang sudah tua, jadi kuli tidak bisa," ujar dia.

Para pelaku kesenian kuda lumping menyampaikan keluhan dan harapannya dalam audiensi dengan Satgas Penanganan Covid-19, di ruang Swagata, Pendopo Kabupaten Jombang, Kamis (24/6/2021).

Mereka ditemui oleh Anwar, Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jombang.

Baca juga: Selundupkan 40 Ton Kulit Sapi dari Timor Leste, Sebuah Kapal Diamankan

 

Ilustrasi Covid-19KOMPAS.COM/HANDOUT Ilustrasi Covid-19
Zona hijau

Menurut Anwar, pembatasan berbagai kegiatan masyarakat masih diberlakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19.

Harapan para pelaku kesenian tradisional, ujar dia, bisa diwujudkan di wilayah kecamatan zona hijau dan dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

"Perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Jombang kan cukup tinggi, sehingga mungkin bisa dilaksanakan pada kecamatan yang zona hijau," kata Anwar, usai audiensi dengan perwakilan pelaku kesenian kuda lumping.

Baca juga: OTK Serang Pekerja Bangunan di Yahukimo, 5 Tewas Termasuk Kepala Suku

Sementara itu, peta perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Jombang, hingga Kamis (24/6/2021) petang, menunjukkan hanya 1 kecamatan zona hijau dari 21 kecamatan.

Sebanyak 8 kecamatan masuk zona merah, 5 kecamatan zona oranye dan 7 kecamatan zona kuning.

Zona hijau merupakan wilayah yang tidak terdapat kasus aktif, zona kuning terdapat 1 - 5 kasus, zona oranye ada 6-10 kasus, serta zona merah memiliki jumlah diatas 10 kasus.

Baca juga: Semua RS di Pamekasan Sudah Tak Bisa Menerima Pasien Covid-19 karena Tak Ada Ruang Isolasi

47 kasus baru

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jombang, Budi Winarno mengatakan, pada Kamis ada penambahan 47 kasus baru.

Penambahan kasus aktif dalam sehari tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu bulan terakhir.

"Data hari Kamis, ada penambahan yang terkonfirmasi positif 47 orang," ungkap Budi saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (25/6/2021).

Dia mengungkapkan, peta perkembangan kasus Covid-19 juga menunjukkan bertambahnya kecamatan zona merah

Sepekan lalu, zona merah hanya ada di 1 kecamatan. Adapun saat ini, ada 8 kecamatan yang berada di zona merah.

Adapun secara kumulatif hingga Kamis (24/6/2021), jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Jombang, sebanyak 5043 kasus.

"Sampai saat ini, ada 94 pasien menjalani isolasi dan 94 menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit," ujar Budi.

Selain 188 kasus aktif, sebanyak 4322 orang dinyatakan sembuh, serta 533 orang meninggal dunia karena Covid-19.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Hal Soal Sekapuk, Desa Miliarder di Gresik yang Dulu Tertinggal, Kini Miliki 5 Mobil Mewah yang Dibeli Tunai

5 Hal Soal Sekapuk, Desa Miliarder di Gresik yang Dulu Tertinggal, Kini Miliki 5 Mobil Mewah yang Dibeli Tunai

Regional
Capaian Vaksinasi Rendah di Pandeglang, Ini Penjelasan Pemkab

Capaian Vaksinasi Rendah di Pandeglang, Ini Penjelasan Pemkab

Regional
Pratu Ida Bagus Putu Gugur Ditembak KKB di Papua, Sempat Bawa Ribuan Masker untuk Dibagikan

Pratu Ida Bagus Putu Gugur Ditembak KKB di Papua, Sempat Bawa Ribuan Masker untuk Dibagikan

Regional
'Saya Kira Pembunuh Saudara Saya Ini Sudah Mati, Tahu-tahunya Masih Hidup...'

"Saya Kira Pembunuh Saudara Saya Ini Sudah Mati, Tahu-tahunya Masih Hidup..."

Regional
Kades Nyentrik di Gresik Sulap Bekas Galian Tambang Batu Kapur Jadi Destinasi Wisata Setigi, Kini Jadi Desa Miliarder

Kades Nyentrik di Gresik Sulap Bekas Galian Tambang Batu Kapur Jadi Destinasi Wisata Setigi, Kini Jadi Desa Miliarder

Regional
Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah di Jawa Tengah, Anggota DPRD Jateng: Stop Dulu PTM

Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah di Jawa Tengah, Anggota DPRD Jateng: Stop Dulu PTM

Regional
Mengenal Nasi Boranan yang Sah Jadi Milik Kabupaten Lamongan

Mengenal Nasi Boranan yang Sah Jadi Milik Kabupaten Lamongan

Regional
Resmi Milik Kabupaten Lamongan, Apa Ciri Khas Soto Lamongan?

Resmi Milik Kabupaten Lamongan, Apa Ciri Khas Soto Lamongan?

Regional
Gubernur Viktor Usulkan Pembangunan Lab Kesehatan Hewan untuk Tangani Flu Babi Afrika di NTT

Gubernur Viktor Usulkan Pembangunan Lab Kesehatan Hewan untuk Tangani Flu Babi Afrika di NTT

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ibu di Jepara Dibunuh Anak Kandungnya | Pakaian Bekas dari Timor Leste Diselundupkan ke Indonesia

[POPULER NUSANTARA] Ibu di Jepara Dibunuh Anak Kandungnya | Pakaian Bekas dari Timor Leste Diselundupkan ke Indonesia

Regional
Ganjar Pranowo Soroti Klaster PTM Purbalingga: yang Tidak Lapor, Bubarkan!

Ganjar Pranowo Soroti Klaster PTM Purbalingga: yang Tidak Lapor, Bubarkan!

Regional
Di Balik Kasus Perusakan Batu Nisan Pemakaman Muslim di Sukoharjo, Ini Penjelasan Polisi

Di Balik Kasus Perusakan Batu Nisan Pemakaman Muslim di Sukoharjo, Ini Penjelasan Polisi

Regional
Sultan Jamaludin dari Angling Dharma Pandeglang Bangun 30 Rumah Warga, Gubernur Wahidin: Pemda Ribuan

Sultan Jamaludin dari Angling Dharma Pandeglang Bangun 30 Rumah Warga, Gubernur Wahidin: Pemda Ribuan

Regional
Polisi Sebut Uang Nasabah Rp 1,2 Miliar yang Dicuri Teller Sudah Diganti Pihak Bank

Polisi Sebut Uang Nasabah Rp 1,2 Miliar yang Dicuri Teller Sudah Diganti Pihak Bank

Regional
Foto-foto Perumahan Angling Dharma Pandeglang yang Sempat Heboh Dikira Kerajaan

Foto-foto Perumahan Angling Dharma Pandeglang yang Sempat Heboh Dikira Kerajaan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.