Perjalanan Kasus Doni Timur, Mantan Anggota DPRD Palembang yang Divonis Hukuman Mati, Bermula Bawa 5 Kg Sabu-sabu

Kompas.com - 17/04/2021, 10:09 WIB
Ilustrasi keputusan persidangan. SHUTTERSTOCKIlustrasi keputusan persidangan.

KOMPAS.com- Seorang mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Palembang, Doni Timur divonis hukuman mati.

Putusan tersebut disampaikan oleh majelis hakim dalam sidang virtual di Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Salatan, Kamis (15/4/2021).

Selain Doni, ada lima terdakwa lain yang terlibat dalam kasus ini. Mereka juga dijatuhi hukuman mati.

"Menjatuhkan hukuman mati untuk keenam terdakwa," kata Hakim Ketua Bongbongan Silaban.

Berikut perjalanan kasus yang menjerat Doni Timur hingga dia dijatuhi hukuman mati:

Baca juga: Mantan Anggota DPRD Palembang dan 5 Terdakwa Divonis Hukuman Mati

Bawa 5 kilogram sabu

Ilustrasi NarkobaKOMPAS.COM/HANDOUT Ilustrasi Narkoba
Doni Timur adalah mantan Politisi Partai Golkar yang pernah duduk di DPRD Palembang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada September 2020 lalu, Doni kedapatan membawa lima kilogram sabu-sabu menggunakan sepeda motor.

Dia dibekuk di Jalan Riau, Kecamatan Ilir Barat 1 Palembang.

Saat itu ditemukan bungkusan kantong plastik bertulis laundry yang isinya adalah sabu-sabu.

Polisi kemudian melakukan penggeledahan dan menemukan ribuan butir pil ekstasi di lokasi usaha laundry miliknya.

Lokasi itu ternyata dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang haram. Polisi mendapati ribuan butir pil ekstasi di tempat tersebut.

"Dia ini aktor intelektualnya yang mengatur narkoba. Narkoba ini dibawa tersangka dari Aceh untuk diedarkan ke Palembang serta wilayah Sumsel," tutur Kepala BNN Sumsel Jon Turman Panjaitan.

Baca juga: Alasan Hakim Vonis Mati Mantan Anggota DPRD Palembang

 

ILUSTRASISHUTTERSTOCK ILUSTRASI
Ditangkap beserta lima orang lainnya

Doni saat itu ditangkap bersama lima orang lainnya, yaitu Alamsyah, Ahmad Najmi Ermawan, Mulyadi, Yati Suherman dan suaminya Joko Zulkarnain.

Dilansir dari Tribun Sumsel, Zulkarnain kabur saat dirawat di RS Bhayangkara dan hingga kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Kejaksaan kemudian melanjutkan proses hukum hingga ke pengadilan.

Mereka dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Baca juga: Fakta Baru Perawat Dianiaya, Dijambak hingga Ditendang Ayah Pasien, Pelaku Mengaku Kelelahan dan Terancam 2 Tahun Penjara

Dituntut hukuman mati karena masuk jaringan internasional

ilustrasi narkobashutterstock ilustrasi narkoba
Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Palembang Agung Ary Kesuma saat itu mengatakan, terdakwa pantas mendapatkan hukuman mati.

Alasannya, mereka bukan sekadar bandar narkoba di Sumatera Selatan, melainkan terlibat sindikat internasional.

"Lintas negara yang dalam fakta persidangan diketahui ada seorang bandar di Malaysia berinisial RZ dan kini masih buron," kata Agung.

Jaksa Penutut Umum (JPU) pun menuntut mereka dengan hukuman mati.

"Menuntut agar kelima terdakwa semuanya dihukum mati. Tidak ada perbuatan dari para terdakwa yang dapat dianggap meringankan tuntutan," tutur jaksa.

Baca juga: Niat Kuliah Tak Kesampaian, Hermawan Pergi, Ditemukan 15 Tahun Kemudian dalam Kondisi Gangguan Jiwa

 

Ilustrasi pengadilan.SHUTTERSTOCK Ilustrasi pengadilan.
Sempat minta tak dihukum mati

Kuasa hukum terdakwa sempat menyampaikan nota pembelaan dan meminta hakim tidak menjatuhkan hukuman mati.

Alasannya ialah hukuman mati dianggap tidak sesuai Hak Asasi Manusia (HAM).

"Mereka mengakui semua perbuatannya dan menyesal. Kami mohon majelis hakim dapat melepaskan mereka dari hukuman mati, ini sangat bertentangan dengan HAM," kata Suspendi yang merupakan kuasa hukum Doni.

Selain itu, Doni yang kini sudah tidak lagi menjabat anggota DPRD disebut memiliki anak yang masih kecil.

"Orangtua dari Doni juga sudah meninggal, dia juga menjadi tulang punggung untuk keluarganya," ujar Suspendi.

Baca juga: Fakta Baru Perawat Dianiaya, Dijambak hingga Ditendang Ayah Pasien, Pelaku Mengaku Kelelahan dan Terancam 2 Tahun Penjara

Divonis hukuman mati

ilustrasi sidang gugatan.Reuters/Chip East ilustrasi sidang gugatan.
Namun permintaan tersebut ditolak. Dalam sidang putusan pada Kamis (15/4/2021), hakim ketua Bongbongan Silaban akhirnya memvonis para terdakwa dengan hukuman mati.

Adapun hal-hal yang memberatkan Doni dan kawan-kawan ialah perbuatan mereka tidak mendukung pemerintah dalam memberantas peredaran narkoba.

Ditambah lagi, Doni saat itu merupakan anggota DPRD Kota Palembang yang masih aktif.

"Para terdakwa merupakan sindikat jaringan internasional. Khusus untuk terdakwa Doni adalah tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi contoh yang baik," ujar hakim.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Palembang, Aji YK Putra | Editor : Abba Gabrillin)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua Harian Asosiasi Kafe dan Restoran Jabar Diduga Coba Bunuh Diri, Kirim Rekaman Singgung PPKM

Ketua Harian Asosiasi Kafe dan Restoran Jabar Diduga Coba Bunuh Diri, Kirim Rekaman Singgung PPKM

Regional
Gerak Cepat Penanganan Covid-19 di Desa Runut, Sikka, Disiplin Lakukan Pencegahan hingga Dipuji Satgas

Gerak Cepat Penanganan Covid-19 di Desa Runut, Sikka, Disiplin Lakukan Pencegahan hingga Dipuji Satgas

Regional
Tempat Isolasi Terpusat Ditolak Warga, Pasien Covid-19 di Nusa Penida Bali Terpaksa Isoman

Tempat Isolasi Terpusat Ditolak Warga, Pasien Covid-19 di Nusa Penida Bali Terpaksa Isoman

Regional
Rumah Sakit di Magelang Ini Gelar Vaksinasi Covid-19 Drive-Thru, Sasar Keluarga Serumah

Rumah Sakit di Magelang Ini Gelar Vaksinasi Covid-19 Drive-Thru, Sasar Keluarga Serumah

Regional
Rahasia Warga Sembir Salatiga yang Nihil Kasus Covid-19

Rahasia Warga Sembir Salatiga yang Nihil Kasus Covid-19

Regional
Kabar Baik, Karawang Akan Dapat 200.000 Dosis untuk Program Vaksinasi Keluarga

Kabar Baik, Karawang Akan Dapat 200.000 Dosis untuk Program Vaksinasi Keluarga

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 4 Agustus 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 4 Agustus 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar, dan Kalsel 4 Agustus 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar, dan Kalsel 4 Agustus 2021

Regional
Sempat Menipis, Kabupaten Tegal Dapat Tambahan 23.448 Dosis Vaksin dari Provinsi

Sempat Menipis, Kabupaten Tegal Dapat Tambahan 23.448 Dosis Vaksin dari Provinsi

Regional
Warga Datangi Kantor Kepala Daerah, Protes Tak Kunjung Dapat Suntikan Vaksin Kedua

Warga Datangi Kantor Kepala Daerah, Protes Tak Kunjung Dapat Suntikan Vaksin Kedua

Regional
Gara-gara Cekcok Soal Selingkuh, 30 Rumah Warga Ludes Terbakar, Ini Ceritanya

Gara-gara Cekcok Soal Selingkuh, 30 Rumah Warga Ludes Terbakar, Ini Ceritanya

Regional
7 Pegawai Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kantor BKD Kota Blitar Ditutup

7 Pegawai Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kantor BKD Kota Blitar Ditutup

Regional
PPKM Level 4 Diperpanjang, 36 Ruas Jalan di Kota Tegal Kembali Ditutup Barikade Beton

PPKM Level 4 Diperpanjang, 36 Ruas Jalan di Kota Tegal Kembali Ditutup Barikade Beton

Regional
Pengantin Baru Buang Bayi ke Sumur Tetangga, Ini Faktanya

Pengantin Baru Buang Bayi ke Sumur Tetangga, Ini Faktanya

Regional
Ditinggal Ambil Bansos ke Balai Desa, 2 Rumah Ludes Terbakar

Ditinggal Ambil Bansos ke Balai Desa, 2 Rumah Ludes Terbakar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X