Cerita Sepeda Ontel dan Anak Tukang Becak Jadi Doktor di Usia 27 Tahun

Kompas.com - 09/09/2019, 11:00 WIB
Sepeda milik Lailatul Qomariyah, anak sulung Saningrat yang digunakan untuk pulang pergi kuliah selama beberapa tahun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hingga lulus doktor. KOMPAS.COM/TAUFIQURRAHMANSepeda milik Lailatul Qomariyah, anak sulung Saningrat yang digunakan untuk pulang pergi kuliah selama beberapa tahun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hingga lulus doktor.

KOMPAS.com - Ada sekelumit cerita tentang sepeda ontel warna merah di balik kesuksesan Lailatul Qomariyah (27) meraih gelar doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS). 

Sepeda ontel warna merah itu adalah pemberian ayahnya, Saningrat (43). Sepeda itulah yang dia gunakan Lailatul sejak SMA hingga kuliah.

Saningrat, saat ditemui di rumahnya di asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, menceritakan, dirinya harus menunggu musim panen tembakau untuk bisa membeli sepeda itu.


"Untuk membeli sepeda ontel anak saya, saya harus menunggu hasil panen tembakau dan menguras tabungan selama setahun. Waktu itu harga sepedanya Rp 1 juta," ujarnya.

Baca juga: Bangganya Saningrat, Tukang Becak yang Lihat Anaknya Berhasil Raih Gelar Doktor

Selain itu, kisah unik juga sempat muncul sewaktu Lailatul masih sekolah di SMA. Saat itu, putrinya sempat dikira anak orang kaya karena setiap pagi berangkat ke sekolah diantar menggunakan becak

Di sekolah itu kebanyakan siswa yang diantar dengan becak umumnya dari golongan berada. Namun, rekan-rekan Lailatul tidak mengetahui jika penarik becaknya adalah ayah Lailatul sendiri. 

Setelah kejadian itu, mungkin karena tidak ingin merepotkan ayahnya, Lailatul pun meminta dibelikan sepeda ontel untuk berangkat ke sekolah. 

Baca juga: Pelaku Pencurian Sapi yang Baku Tembak dengan Polisi adalah Pecatan TNI

Selain tentang sepeda, Saningrat juga mengungkapkan dirinya sempat diremehkan oleh para tetangga karena dianggap tak mampu membiayai kuliah Lailatul.

Penghasilan dirinya sebagai penarik becak dan istrinya, Rusmiati (40) yang hanya buruh tani, dianggap tidak akan mencukupi kebutuhan kuliah Lailatul. 

Namun, bagi Saningrat dan putrinya, cibiran itu justru dijadikan motivasi. Laila juga meyakinkan kedua orangtuanya untuk tidak mempedulikan cibiran tersebut. Tekadnya untuk kuliah di ITS sudah bulat.

"Bapak dan ibu tidak perlu kawatir soal biaya kuliah saya. Semoga saya mendapatkan rejeki sampai lulus," kata Saningrat, mengenang kata-kata anaknya ketika hendak berangkat ke Surabaya.

Sumber: KOMPAS.com (Taufiqurrahman)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X