Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bangunan Permanen Dilarang, Pedagang Ini Buka Warung Nasi di Minibus

Kompas.com - 20/03/2019, 16:04 WIB
Luthfia Ayu Azanella,
Bayu Galih

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dua buah mobil minibus '90-an, terparkir di seberang Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta dengan kondisi setengah terbuka dan dipenuhi makanan.

Di atasnya, terkembang terpal plastik yang melindungi mobil dan apa pun yang ada di bawahnya dari panas dan hujan yang mungkin saja turun di musim pancaroba ini.

Setelah memarkirkan kendaraannya, pengunjung dipersilakan mengambil dan memilih sendiri menu makanan yang diinginkan.

"Monggo mundut piyambak," kata salah satu pemilik warung, Galih Yunanto kepada para pelanggan menggunakan bahasa Jawa yang artinya "silakan mengambil sendiri".

Salah satu pelanggan warung Galih Yunanto sedang mengambil gorengan untuk dibungkus.Kompas.com/Luthfia Ayu Azanella Salah satu pelanggan warung Galih Yunanto sedang mengambil gorengan untuk dibungkus.
Deretan sayur buatan rumahan, seperti sayur sawi, kering tempe, lodeh, sup, dan terong balado tertata rapi di atas piring saji, di balik tirai tipis yang menjaganya dari lalat.

Aneka gorengan hangat, seperti ketela goreng, bakwan, atau tahu isi juga terhidang di meja buatan yang ia susun di bagian samping belakang mobil.

“Iya, itu dipasang sendiri, bisa dilepas pasang juga,” ujar Galih.

Ketika ditanya darimana datangnya ide warung tenda di atas mobil ini, ia menceritakan penggusuran yang ia dan teman-teman pedagang lainnya alami, Desember tahun lalu.

"Ada penggusuran dari Pol PP dan Dinas Perdagangan," ujar Galih mengawali cerita.

Baca juga: Cerita Sumiyo Bertahan di Puing-puing Penggusuran...

Warung minibus di depan RSJD SurakartaKompas.com/Luthfia Ayu Azanella Warung minibus di depan RSJD Surakarta
Warung-warung permanen yang sebelumnya berdiri, saat ini sudah diratakan dan berganti tenda-tenda yang dapat dipasang atau lepas.

Galih menuturkan, meski telah digusur, tidak ada larangan bagi mereka untuk tetap berdagang selama tidak mendirikan kembali bangunan-bangunan yang sifatnya permanen.

"Sudah begitu, mending saya pakai mobil ini saja. Tadinya rusak, terus saya perbaiki dan susun sedemikian rupa sehingga bisa untuk mengangkut dan meletakkan dagangan,” ujar Galih.

Dengan kondisi ini, Galih memang tidak perlu repot-repot jika hendak membuka warung dan berkemas pulang. Ia hanya perlu memasang tenda dan terpal, kemudian membuka mobilnya sedemikian rupa.

"Begini kan efektif, dan yang terpenting tidak melanggar larangan," tuturnya.

Galih dan satu rekannya menyiapkan minuman dan menggoreng aneka lauk.Kompas.com/Luthfia Ayu Azanella Galih dan satu rekannya menyiapkan minuman dan menggoreng aneka lauk.

Di bagian belakang, Galih ditemani seorang pria lain sibuk menggoreng aneka lauk dan membuat es untuk disajikan kepada para pelanggan.

"Ini baru kok, baru dari Januari kemarin, kan penggusuran Desember," kata dia. sembari mengambil uang kembalian untuk pelanggan yang baru saja melakukan pembayaran.

Karena posisinya yang terdapat di seberang RSJ Surakarta, tak kebanyakan pembeli datang dari kalangan pegawai rumah sakit jiwa, atau keluarga pasien yang dirawat.

Namun, banyak juga masyarakat sekitar yang membeli lauk, sayur, atau sekadar gorengan di warung sederhana ini.

Tidak tanggung-tanggung, ia kerap menerima pesanan dalam jumlah banyak dari para pelanggannya. Wajar, karena rasa masakan yang ia jajakan memang tidak sesederhana tampilan warung pinggir jalannya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com