Kukang Jawa Terancam Tinggal Cerita

Kompas.com - 03/11/2017, 18:56 WIB
Dua anggota PMI memperlihatkan kukang jawa yang diserahkan warga ke PMI Kabupaten Sukabumi, Jawa.Barat, Jumat (20/10/2017). KOMPAS.com/BudiyantoDua anggota PMI memperlihatkan kukang jawa yang diserahkan warga ke PMI Kabupaten Sukabumi, Jawa.Barat, Jumat (20/10/2017).
|
EditorCaroline Damanik

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kukang Jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus terancam tinggal cerita. Ancaman kepunahan, Kukang Jawa ini akibat dari perburuan liar dan karena alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan.

"Populasi Kukang Jawa di alam terus mengalami penurunan," ujar pakar konservasi satwa liar UGM, Muhammad Ali Imron, Jumat (3/11/2017).

Muhammad Ali Imron mengungkapkan Kukang Jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus bisa di temukan di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Tren yang ada populasi satwa yang memiliki bahasa latin Nycticebus javanicus mengalami penurunan. Bahkan bisa dikatakan terancam punah.

Meskipun, sampai saat ini belum ada survei pasti mengenai total populasi di seluruh Jawa. Sebab cukup sulit untuk menemukan dan mengamati satwa yang beraktivitas pada malam hari ini.

"Di lokasi penelitian jami di Hutan Kemuning Temanggung saat ini hanya tinggal 8 ekor. Penelitian kami di Kemuning dari 2015 lalu," tegasnya.

Dia menjelaskan, penyebab utama penurunan populasi Kukang Jawa akibat dari praktik perdagangan ilegal baik secara konvensional maupun secara online untuk pemeliharaan.

Selain itu, hilangnya habitat karena alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan fragmentasi hutan turut berkontribusi terhadap menurunnya keberadaan satwa ini.

"Perburuan kukang cukup tinggi, terutama untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Ini salah satu yang menjadi penyebab turunya populasi Kukang Jawa di alam liar," tandasnya.

Padahal, lanjutnya Kukang Jawa adalah salah satu satwa yang dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya dan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah memasukan satwa ini dalam kategori kritis atau terancam punah (critically endangered).

Oleh sebab itu, Imron menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keberadaan kukang yang sudah terancam punah. Masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam menyelamatkan dan melestarikan di alam dengan cara tidak menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

"Di lokasi penelitian, kita memberikan edukasi ke masyarakat dan akhirnya saat ini mereka ikut menjaga keberadaan kukang. Masyarakat sebaiknya memang tidak ikut-ikutan memelihara, biarkan mereka hidup di habitat aslinya," pungkasnya.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Nekat Hadang Bus Salah Jalan di Gresik, Polisi Berikan Apresiasi

Pria Nekat Hadang Bus Salah Jalan di Gresik, Polisi Berikan Apresiasi

Regional
Sosok-sosok Heroik di Balik Tragedi Susur Sungai, Mbah Diro hingga Kodir Pertaruhkan Nyawa

Sosok-sosok Heroik di Balik Tragedi Susur Sungai, Mbah Diro hingga Kodir Pertaruhkan Nyawa

Regional
Dampak Banjir Jakarta, Kereta Terlambat Datang hingga 13 Jam di Madiun

Dampak Banjir Jakarta, Kereta Terlambat Datang hingga 13 Jam di Madiun

Regional
Kemunculan Ribuan Ulat Bulu yang Bikin Resah Warga di Kediri

Kemunculan Ribuan Ulat Bulu yang Bikin Resah Warga di Kediri

Regional
Gubernur Viktor: Harus Ada Terobosan yang Radikal untuk Bangun NTT

Gubernur Viktor: Harus Ada Terobosan yang Radikal untuk Bangun NTT

Regional
Masuk Daerah Rawan Politik Saat Pilkada 2020, Ini Langkah Bawaslu Makassar

Masuk Daerah Rawan Politik Saat Pilkada 2020, Ini Langkah Bawaslu Makassar

Regional
Ditemukan Dugaan Investasi Bodong di Papua Berkedok Modal Sapi Perah

Ditemukan Dugaan Investasi Bodong di Papua Berkedok Modal Sapi Perah

Regional
Isap Sabu untuk Potong Rambut Banyak Pelanggan, Tukang Cukur Masuk Bui

Isap Sabu untuk Potong Rambut Banyak Pelanggan, Tukang Cukur Masuk Bui

Regional
Jumlah Kunjungan Wisatawan Korea Selatan ke Bali Masih Normal

Jumlah Kunjungan Wisatawan Korea Selatan ke Bali Masih Normal

Regional
Kakak Kelas yang Menyodorkan Kotoran Manusia Dikeluarkan dari Sekolah

Kakak Kelas yang Menyodorkan Kotoran Manusia Dikeluarkan dari Sekolah

Regional
Viral Kisah Pilu 6 Bocah Yatim Piatu, Ayah dan Ibu Meninggal Hampir Bersamaan

Viral Kisah Pilu 6 Bocah Yatim Piatu, Ayah dan Ibu Meninggal Hampir Bersamaan

Regional
Berdiri di Lahan Pemkot Pangkal Pinang, Lapak Pedagang Sembako Dibongkar

Berdiri di Lahan Pemkot Pangkal Pinang, Lapak Pedagang Sembako Dibongkar

Regional
Gubernur NTT Tentukan Harga Terendah dan Tertinggi Minuman Sophia

Gubernur NTT Tentukan Harga Terendah dan Tertinggi Minuman Sophia

Regional
'Saya Tak Sanggup Terima Uang Ini, Niatnya Hanya Menolong'

"Saya Tak Sanggup Terima Uang Ini, Niatnya Hanya Menolong"

Regional
Jembatan Cincin yang Ambruk pada 2018 Bakal Diperbaiki

Jembatan Cincin yang Ambruk pada 2018 Bakal Diperbaiki

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X