Cinta Segitiga Pengamen Jalanan Berakhir Di Sumur

Kompas.com - 28/10/2017, 05:51 WIB
Abu Daud (tengah) dan Muhammad Ghofur (kanan) ditahan di Mapolda JatimKOMPAS.com/Achmad Faizal Abu Daud (tengah) dan Muhammad Ghofur (kanan) ditahan di Mapolda Jatim

SURABAYA, KOMPAS.com - "Ayo yang keluar lagi," bunyi pesan singkat itu masih diingat Abu Daud (27), pelaku utama aksi penganiayaan yang berujung kematian Andi Parawangsah (19) November 2015 lalu.

Pesan singkat yang ditemukan di ponsel isterinya itu dianggapnya bukti kuat bahwa isterinya telah berselingkuh dengan Andi Parawangsah.

Abu Daud warga Kecamatan Krian, dan Andi Parawangsah warga Kecamatan Waru Sidoarjo, sama-sama berprofesi sebagai pengamen jalanan, namun beda lokasi operasi.

Berbekal bukti kuat pesan singkat itu, Abu Daud pun mencari Andi untuk membuat perhitungan. Andi pun berhasil diculik di kawasan Aloha Sidoarjo, dan dibawa ke markas tempat kelompok anak jalanan Abu Daud biasa nongkrong.


"Saya sakit hati karena isteri saya berselingkuh dengan Andi," kata Abu Daud di Mapolda Jatim, Jumat (27/10/2017) sore.

Markas Abu Daud yang berlokasi di Desa Geluran, Kecamatan Taman, Sidoarjo itu berupa lahan kosong. Ada satu bangunan seperti rumah yang tidak terpakai, dan beberapa sumur tua yang tidak berair.

Di lokasi tersebut, Andi diinterogasi oleh Daud perihal tuduhan perselingkuhan dengan isteri Abu Daud.

Ada sembilan rekan Abu Daud sesama pengamen jalanan yang ikut menginterogasi sekaligus menganiaya Andi. "Namun Andi tetap tidak mengakui tuduhan perbuatan selingkuh itu," kata Kasubdit III Jatanras Polda Jatim, AKBP Boby Paludin Tambunan.

Aksi penganiayaan berlangsung sepanjang malam. Pagi hari, Andi sempat diletakkan di rumah kosong di lokasi markas Daud dan kawan-kawan. Memasuki siang hari, Andi menghembuskan nafas terakhir.

Dari situ, mulailah upaya menghilangkan jejak dengan memasukkan jasad Andi ke salah satu sumur dan ditumpuki batu, lalu bagian atas sumur dicor dengan semen.

Daud lupa tanggal aksi penganiayaan yang sudah berlangsung 2 tahun lalu itu. Kepada polisi, dia mengaku hanya mengingat, aksi itu terjadi pada November 2015.

"Setelah kejadian itu, kelompok pengaman jalanan yang biasa nongkrong di lokasi itu sudah tidak ada, menghilang dan berpencar," ujar Boby.

Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Informasi itu pun akhirnya sampai ke telinga polisi beberapa waktu terakhir. Polisi pun mendalami informasi yang masuk dan akhirnya menemukan lokasi nongkrong Abu Daud dan kawan kawannya.

Halaman:


EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X