Kompas.com - 15/08/2017, 09:49 WIB
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Kota Bremen Jerman, Jason Darien Riyadi KOMPAS.com/Achmad FaizalKetua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Kota Bremen Jerman, Jason Darien Riyadi
|
EditorErlangga Djumena

SURABAYA, KOMPAS.com - Hidup di negeri orang, mahasiswa Indonesia punya tugas tambahan selain belajar. Tugas tambahan dimaksud adalah memperkenalkan budaya Indonesia di negeri tempatnya belajar.

Di Jerman, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) memilih memperkenalkan budaya Indonesia melalui produk kuliner jajanan pasar seperti martabak, bakwan, putu ayu, nagasari, pempek hingga gorengan tempe.

"Orang Jerman paling suka tempe," kata Ketua PPI di Kota Bremen Jerman, Jason Darien Riadi, di acara seminar ekspor UMKM di Surabaya, Senin (14/8/2017).

Menurut mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Pesawat, Universitas Bremen itu, ternyata orang Jerman sangat suka jajanan tradisional Indonesia. "Awalnya memang mereka penasaran melihat jajanan nagasari, yang berbentuk bulat dan dibungkus daun pisang. Setelah mencoba, mereka jadi ketagihan," katanya.

Orang Jerman kata dia, juga sangat suka sama pempek dan bumbu cukonya.

"Saat pempeknya habis, mereka masih manfaatkan bumbu cuko untuk dimakan dengan roti. Menurut mereka itu enak," terang remaja asli Surabaya itu.

Baca juga: Berkunjung ke Kricak, Istri Bill Gates Duduk di Tikar dan Disuguhi Jajanan Pasar

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Indonesia, mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Pesawat, Universitas Bremen Jerman itu mengaku selalu eksis di setiap event pameran budaya di Kota Bremen.

Selain kuliner khas Indonesia, mereka juga menjual kain dan baju batik di ajang pameran tersebut. Di Kota Bremen kata Jason, ada sekitar 100 mahasiswa asal Indonesia dari berbagai daerah yang menempuh pendidikan sarjana di sejumlah kampus.

Saat ada pameran budaya, masing-masing menjual produk kuliner dari daerahnya. Produk kuliner tersebut dibuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di Bremen. Beberapa item bahan memang sulit didapat dan terpaksa memodifikasi produk kuliner yang dibuat.

Para mahasiswa terpaksa membuat sendiri karena menurut Jason dia belum menemukan cara mengirim produk jajanan langsung dari Indonesia ke Jerman.

Dari pameran itu, para mahasiswa Indonesia juga mendapatkan keuntungan finansial berlipat untuk tambahan biaya hidup. "Biasanya kalau kita modal patungan 50 euro, hasilnya bisa sampai 200 hingga 300 euro," ucapnya.

Di forum seminar ekspor UMKM kemarin, Jason menawarkan produk-produk UMKM asal Surabaya untuk didatangkan di Kota Bremen Jerman.

Menurut dia, di Kota Bremen dalam setahun ada beberapa event pameran budaya yang sayang jika dilewatkan, karena itu kesempatan untuk lebih mempromosikan produk budaya Indonesia di Jerman. 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wujudkan Kesetaraan Gender, Pemkab Dharmasraya Raih Anugerah Parahita Ekapraya

Wujudkan Kesetaraan Gender, Pemkab Dharmasraya Raih Anugerah Parahita Ekapraya

Regional
Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Regional
Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar 'Jemput Bola' Vaksinasi Warga

Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar "Jemput Bola" Vaksinasi Warga

Regional
Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Regional
Lewat '1000 Baju Baru', Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Lewat "1000 Baju Baru", Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Regional
Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Regional
Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Regional
Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Regional
Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Regional
Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Regional
Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Regional
Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Regional
Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Regional
Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Regional
Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.